Sebenarnya Afrika engga kampung kampung banget. Malahan untuk yang udah terbiasa dengan bagian kota di Jakarta, yah seperti begitulah Kampala. Lengkap dengan mall, anak anak kecil ngamen minta minta, pengemudi kendaraan yang buta warna lampu lalu lintas dan juga daerah merahnya yg
penuh diskotek ajojing dan tukang jajanan, Kampala sangat mengingatkan saya dengan kampung halaman Jakarta. Komplit semua yang dicari di Indonesia juga ada di Afrika sini. Kami serombongan berangkat dari Los Angeles ke Uganda di Afrika bulan Januari lalu.
Waktu baru sampe di bandara, rasa rasanya masih tidak disangka; seperti mimpi. Toh juga akhirnya rencana yang sudah kami pikirkan berbulan bulan. Rasa ketakutan masih terus ada padahal kami sudah mendarat disana; takut kelaperan, takut kena penyakit, takut segala takut. Tapi inget cerita teman yang sudah pernah berkunjung beberapa tahun lalu katanya ada pohon pisang dan pohon jagung, mentok2 emang bener sih bisa masak sendiri. Memang susah orang itu kalo belum pernah menanjakkan kaki meninggalkan kota.
Sepanjang kami di Afrika, kami menyewa angkot kecil sebangsa mikrolet
untuk setia menemani kita kemanapun kita pergi. Si angkot ini nafasnya udah pas pasan, hobinya mogok dan didalemnya ada sekeluarga kecoak tinggal disana. Si angkot inilah yang membawa kita dari desa ke desa, kota ke kota dan bahkan sampai menuju Taman Safari.
Itinerary perjalanan kami sebenernya bukan bersiar di sekitar kota, tapi menuju kampung Kamuli dan kampung Nakabale. Kampung Kamuli ini katanya adalah kampung termiskin di Uganda. Yah emang ngak salah lagi sih, disana gak ada listrik, gak ada wc, dan sekitar 2 sampai 3 keluarga tinggal disatu rumah yang kecilnya seamit amit. Waktu kita baru baru sampe, semuanya pada kaget ngeliat sekampung isinya item semua lagi pada nungguin seer te di tengah2 kampung. Maklum masih dari kota sebenernya rada2 geli juga harus salaman dengan mereka. Kan sejujurnya engga tau mereka udah pada mandi apa udah pada cuci tangan belum. Lagi asik asik berdiri tiba2 lewat ternak mereka si kambing dan si sapi maen asal lewat. Ternyata enggak ada satupun ada yang dikandangin dan para penduduk sudah terbiasa sama kehadiran mereka.
Namun yang paling ajaib dari pengalaman kita di kampung yang lain dan tenaga asing lagi yaitu kamar mandinya. Cuman ada lobang yg menuju entah kemana dilengkapi dengan pernak pernik berupa laler laler dan lebih yang bersiwleran kemana mana. Mengingat latar belakang kami yang emang asalnya dari kota, cukup mengagetkan sekali untuk berada di tempat yang engga punya toilet flush dan daon pintu. Bisnis pribadi kami tiba2 berubah menjadi bisnis bersama. Lalu karena nga ada sistem sirem sehabis melakukan perbuatan, akibatnya wc ajaib ini wanginya jadi paling mujarab. Sampe sampe sangking engga tahannya emang lebih enak melakukan perbuatan itu diluar alam bebas ketimbang di dalem ruangan kecil wc itu.
Buat beberapa dari kami susahnya di wc itu, namun buat saya paling susah adalah makan makanan mereka. Makanan mereka sebenernya mirip makanan Indonesia, cuman diganti saja nasi menjadi pisang. Tapi kalo soal daging, saya ini lumayan suka memilih. Mungkin untuk beberapa dari kalian biasa melihat seekor unggas yang pagi paginya masih jalan jalan kesana kemari,
sore sorenya sibuk dikejer untuk dipotong dan malem2nya sudah tersungguh di meja makan siap untuk dihantap. Nah buat saya ini lumayan mengagetkan.. seinget saya di supermarket bentuk si ayam sudah rapih tertata dalem kotak Styrofoam yg dilapisi plastik. Tapi kalo di kampung kampung seperti ini, si ayam ternyata pernah hidup. Ini sangat mengganggu imajinasi yang sudah saya tanam baik-baik setiap kali harus memakan daging. Apalgi waktu malem-malem makanan sudah tersaji, saya cuman bisa menelan ludah sambil dalam hati berkata “lho ini kan si ayem yg tadi pagi masih bahagia minum aer di selokan”
Untungnya kampung kedua; Nakabale yang kami kunjungi tidak separah kampung Kamuli. Kampung ini udah ada generatornya dan listrik meskipun tidak setiap saat. Disana banyak kebun teh dan juga banyak ternak. Karna sedikit berada di ketinggian, udaranya jadi sejuk dan fresh.
Selama kunjungan kami ini ke kampung-kampung di Uganda (Afrika Timur), kami semua sangat puas dan menikmati pelayanan kami. Kami banyak melakukan kegiatan social untuk memberkati para penduduk kampung-kampung yang kami kunjungi. Kegiatan yang kami lakukan diantaranya
adalah Pengobatan Gratis (yang kebetulan 2 dari anggota Tim kami adalah Registered Nurse (RN) lulusan Los Angeles, Ryan dan Reyhan Lukita), Kunjungan Panti Asuhan, Kunjungan ke Rumah-Rumah Penduduk untuk memberikan mereka semangat dan mendoakan mereka, Panggung Boneka, dan Konser Musik dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR).
Banyak daripada penduduk di Afrika yang tidak mengerti mengenai kesehatan, sehingga tidak sedikit yang mengalami berbagai macam penyakit dan virus. Di kampung-kampung yang kami kunjungi, tidak banyak dari para penduduk yang mampu membiayai biaya pengobatan mereka. Seringkali mereka tidak ke dokter tapi hanya berharap penyakit tersebut akan sembuh dengan sendirinya, ataupun dengan ramuan-ramuan tradisional yang mungkin secara medis tidak bisa menyembuhkan dengan efisien. Melalui kegiatan Pengobatan Gratis ini, Tim IFGF LA & Frontline Generation yang
dipimpin oleh Pdt. Daniel Hanafi dan Pdp. Raymundus Teguh, menyumbang banyak obat-obatan dan vitamin untuk memberkati sebagian kecil masyarakat di Afrika ini. Selama 10 hari pelayanan dan kunjungan misi dari tanggal 5 Januari sampai dengan 15 Januari kemarin ini, tim kami melayani lebih dari 200 penduduk kampung-kampung tersebut.
Tim kami juga mengadakan kunjungan ke beberapa panti asuhan disana untuk memberikan hiburan kepada anak anak yatim piatu. Di Afrika sudah banyak sekali anak2 yang kehilangan orang tuanya karena penyakit yang tidak pernah diurus. Anak anak ini menjadi tanggungan beberapa panti asuhan dan mereka dididik untuk bisa menjahit dan berkerajinan tangan. Mereka sangat menyukai setiap kunjungan dari luar karena begitu jarangnya mereka terekspos dengan dunia luar. Bisa bisanya mereka menunggu berjam jam, memasak seperti sedang ada pesta dan memakai pakaian terbaik mereka setiap kali kita datang berkunjung. Hal ini membuat saya mengerti betapa ramahnya dan tulusnya hati mereka ini dalam memberi kepada siapapun.
Sesungguhnya setelah beberapa hari berada di Afrika ini, saya baru benar benar terbuka matanya dan menyadari betapa indahnya Afrika ini; kota dan penduduknya. Semua rasa takut awal saya menjadi hilang dan dengan begitu
gampangnya bisa membaur dengan kehidupan disana. Apalagi begitu rombongan kami menuju Taman Safari. Semuanya masih alami dan binatang2 ini masih hidup di habitat natural mereka. Hotel yang kami tinggali selama 2 hari berada di Taman Safari ini berada di atas ketinggian dan pemandangan kami berupa savannah Afrika. Saya terkesima dan benar benar merasa Afrika adalah tempat terindah yang pernah saya kunjungi seumur hidup saya. Ini membuat saya melihat bahwa di alam natural tanpa campur tangan manusia yang diciptakan Tuhan ternyata memang indah sekali. 10 hari kami berada di Afrika sungguh adalah sebuah pengalaman yang tidak bisa terlupakan.(IM)
This post was submitted by Linawati Hasmy, Los Angeles, California.


















