Kalau sudah mendekati hari pemilihan (election), maka kami selalu dihadapi dengan berbagai pertanyaan, siapa gerangan yang harus kita pilih ? Apakah calon ini bisa dipercaya omongannya? Apakah calon itu bisa mendengarkan aspirasi kita? Apa untungnya kalau kita pilih dia ? Dan lain sebagainya.
Tulisan ini memang saya buat berdasarkan momentum pilkada untuk city Council (dewan Kota- bakal walikota) yang akan berlangsung di kota Arcadia ,
California, Amerika, bulan April ini, namun dasar dasar pemikirannya juga berlaku untuk memilih calon pemimpin kita dimana saja, termasuk di Indonesia.Tentu saja kondisinya tidak sama persis karena sosio budayanya berbeda, tapi garis besarnya tidak akan melenceng jauh.
Dalam hal pilkada hendaknya kita mempertimbangkan candidate yang betul bisa kerja, bukan saja dari tingkat pendidikannya semata, tapi juga harus didukung oleh masyarakat setempat, sehingga dalam melaksanakan tugasnya dia tidak berhadapan dengan penolakan dari kerabat kerjanya, yang bisa mengganggu effisiensi kerja. Sedangkan dukungan masyarakat banyak tidak semata diperoleh karena popularitas atau tebar pesona saja, yang penting adalah track record dari hasil karya sebelumnya untuk masyarakat. Ini tidak bisa dibuat secara dadakan, biasanya sang candidate memang sudah melakukan banyak pekerjaan social di kota bersangkutan .
Semakin banyak organisasi yang pernah di masuki oleh calon maka semakin banyak kemungkinan calon tersebut didukung. Umumnya posisi di organisasi minimal pernah menjabat sebagai board director. Banyak organisasi masyarakat yang bisa dimasuki, contoh, Lion Club, Rotary Club, Chamber of Commerce, Red Cross, Boy Scout, dan lainnya. Untuk mengetahui persisnya bisa di check di City Hall. Bisa juga bekerja sebagai relawan di kota yang bersangkutan. Misalnya di commission yang masih membuka lowongan. Kedudukan di Comission bukan berdasarkan pemilihan tapi semata penunjukan. Jadi tergantung seberapa jauh anda sudah dikenal.
Satu hal yang harus di perhatikan disini adalah , pekerjaan semacam ini
sampai di city council atau walikota umumnya adalah sukarela , alias tidak di gaji, kalau toh diberi kompensasi hanya sedikit sekali, dan ini tidak akan menyebabkan mereka bisa kaya raya. Inilah perbedaannya , Kalau di Indonesia jadi kepala daerah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, tapi di Amerika harus berkecukupan dulu , baru bisa jadi kepala daerah. Inilah fundamental dari negara kapitalis.
Tidak perlu harus selalu dari putra daerah (local), tapi kalau dia memang sudah sebagai penduduk setempat cukup lama misalnya diatas 10 tahun, maka setidaknya dia sudah bisa dikenal masyarakat. Salah satu contoh adalah walikota Diamond Bar , California, Mr. Wen Chang , asal Taiwan , dia terpilih sebagai walikota hanya setelah 11 tahun dia datang di Amerika. Kami memandang ini sebagai suatu prestasi luar biasa, karena Wen Chang bukan kelahiran Amerika. Banyak kota di Amerika mempersyarati calon city councilnya hanya 1 -2 tahun terakhir tinggal di kota bersangkutan.
Candidate yang sanggup merebut hati konstituennya tentu akan mendapatkan vote dari mereka. Contoh; Candidate Sho Tay yang asal Taiwan telah 25 tahun tinggal di Arcadia dan merupakan orang Asia yang pertama kali aktif di organisasi Masonic Center Arcadia yang konon anggotanya semua orang kulit putih, dia telah membuktikan karya baktinya di organisasi tersebut sehingga dia pernah menjabat Master (president) selama 2 terms. Sho pun mendapat dukungan dari mereka. Belum lagi track record lainnya seperti , pernah menjabat President dari Arcadia Chinese Association, Lions Club, Chamber of Commerce, dan lainnya.
Patut diketahui Kota Arcadia adalah cukup unik , karena penduduk Asianya melampaui 60% tapi hak suaranya mereka kurang dari 40%, jadi orang kulit putih tetap memimpin hak suara di peringkat 60%. Pasalnya banyak orang Asia yang tidak punya hak suara , karena mereka belum berstatus warga negara Amerika. Ada lagi kekurangan dari orang Asia adalah mereka kurang perduli dengan politik. Padahal politik adalah pengawal bagi kepentingan hidup kita.
Ketimpangan masih sangat terasa di Arcadia ,karena city council yang terdiri dari 5 orang , hanya 1 orang yang mewakili dari orang Asia, padahal orang Asia ada lebih dari 60% populasi. Istilahnya “Under Represented”. Faktor usia memang mempunyai criteria tersendiri, tergantung dari sudut mana kami memandangnya. Kalau ada candidate yang terlalu muda , timbul kesangsian kita , apakah dia sudah cukup matang memimpin ? Sebaliknya buat orang Asia yang saat ini masih dianggap under represented, usia muda adalah potensial untuk berkarier naik terus kejenjang yang lebih tinggi, dibanding dengan candidate yang sudah berumur.
Contoh extrim dari candidate usia muda, seingat saya 16 tahun yang silam di
kota Baldwin Park , California , pernah ada city council terpilih dari golongan Hispanic yang akhirnya menjadi walikota. Dia terpilih saat berumur 19 tahun. Maka tidak heran kalau tahun yang silam ada putera dari warga Indonesia di Cerritos mencalonkan diri menjadi city council di usia 20 tahunan, Michael Udomratsak, Ibunya orang asal Papua keturunan Tionghoa, Irene So. Walaupun dia tidak terpilih tapi semangatnya untuk berprestasi sangat kami hargai.
Chris Komari, juga anak muda Indonesia telah berhasil duduk sebagai city council pada tahun 2002 di city of Bay Point, California. Para calon pemimpin muda kami ini yang notabene sebagai adik atau anak-anak kita, patut kita hargai dan berikan dukungan penuh dari komunitas kita, karena mereka adalah wakil kita yang akan membawa suara untuk kepentingan kita. Namun harus diingat sebagai pemimpin di negara yang bersifat plural mereka harus mengedepankan kepentingan umum, dengan demikian penerimaan masyarakat pasti akan berlimpahan. Ambil saja contohnya Gus Dur, sampai kapanpun namanya akan dikenang dan harum selalu. Hal ini dikarenakan Gus Dur memperhatikan semua golongan tanpa pandang bulu.
Bagi bapak dan Ibu yang mempunyai anak-anak tertarik kepada dunia kepemimpinan masyarakat, dan berlokasi di wilayah San Gabriel Valley, California, boleh saja menghubungi ICAA di 1200 E. Huntington Dr. Duarte CA. 91010, setiap hari Sabtu dari pukul 8:30 pagi sampai pukul1:00 siang. Mungkin saja organisasi ini bisa membantu untuk bimbingan kearah itu, semisal untuk internship di kantor wakil rakyat yang mempunyai kedekatan dengan organisasi ini. Perlu dicatat ICAA tidak berafiliasi dengan partai tertentu, sebab tujuannya adalah pembinaan kader pemimpin dari komunitas Indonesia, tanpa memandang dari Partai Republican atau Democrate. Program ini juga pernah ditawarkan oleh CEO (Chinese Elected Official) suatu organisasi yang terdiri dari pemimpin Chinese yang dipilih rakyat, program bantuannya adalah dalam bentuk token beasiswa.(IM)
This post was submitted by Dr Irawan - Indonesia Media.



























