
Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu – TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar. Tim Surabaya juga demikian. Bahkan, ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Dia tahu, kalau pulang, saya pasti langsung lupa diri. “Kalau selama ini sudah sabar enam bulan, mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat?” tambah Ir Budiyanto, perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh, ketika menjenguk saya.
Dulu Budi itu, saya kira, seorang Kristen. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. “Apakah tidak ke gereja?” tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. “Saya bukan Kristen, Pak,” jawabnya. Oh, berarti dia Konghucu atau Buddha. Saya berpikir salah sekali lagi. “Saya penganut Sapto Dharmo,” jawabnya. Bahkan, kemudian, saya tahu dia salah satu tokohnya.
Makanya, ketika saya ajak omong Mandarin, dia tidak nyambung. Aneh. Dia Tionghoa, bicaranya kromo inggil. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Sejak itu, saya selalu kromo inggil kepadanya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. Sebab, di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi, filsafat ojo dumeh dan hukum “timba sing kudu nggoleki sumur”. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Nah, apa kromo inggil untuk forward?
Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Begitu seminggu setelah operasi
berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-jalan), pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah, misteri kampung halaman. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata “rumah” (house) dan mana kata “rumah” (home).
Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji, biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Tawaf (berjalan memutari Ka’bah) dilakukan berkali-kali -meski “tawaf” di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Sudah tawaf siang hari, mencoba sore hari. Sudah pagi hari mencoba malam hari. Rasanya ingin terus dekat dengan Ka’bah dan mencium berkali-kali hajar aswad, sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Ka’bah. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone, seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?)
Karena itu, suasana di sekitar Ka’bah tidak pernah sepi. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Mereka berebut menciumnya. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Karena itu, meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah, saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Maka, saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. “Hati” dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. “Uda, Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas,” kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. Bahkan, Syayidina Umar pernah mengatakan, “Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya, saya tidak akan sudi menciumnya”. Tentu, suatu saat saya akan menciumnya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu.
Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Tapi, begitu pulang dari Padang Arafah, apalagi begitu selesai salat Idul Adha, rasanya sudah amat berbeda. Antiklimaks yang tajam. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang, luar biasa tidak sabarnya. Begitu juga pasien transplan liver. Begitu bisa jalan, pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Maklum, sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Sudah antiklimaks.
Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Mereka memang tidak perlu khawatir. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. Sedang kalau saya pulang, kalau terjadi apa-apa, rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil, saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini.
Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Saya masih harus menjalani satu proses
yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. “Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Bersaing dengan Icha, cucu saya,” kata saya pada suster yang akan menyuntik. Suster tertawa. Saya kembali tersenyum. Kecut.
Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. “Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar,” kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. “Saya kaget. Kok tumben. Oh, agak siang sedikit, saya baru tahu sebabnya. Pasti pagi-pagi mereka
sudah baca Jawa Pos,” tambahnya. “Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Kampanye yang berhasil,” tulisnya di SMS-nya.
Tentu, saya tidak mengharapkan bayaran itu. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Bahkan, saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Saya akan membiayai kegiatan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Diam-diam, tekun, dan njlimet. (Bersambung)
This post was submitted by Dahlan Iskan - Jawa Post.


gimana cara hubungi pak dahlan. bisa share langsungkah dengan bapak soal cirrhosisnya dan transplantasi yang telah dilakukan? kakak saya sekarang di siloam karawaci karena sakit yang sama dan sepertinya satu2nya jalan adalah transplantasi.
kalo ada yang bisa bantu. silahkan ke hotmasamosir@yahoo.com
thanks