Untuk dapat menelusuri sejarah imigran Tionghoa sangat erat berhubungan dengan sejarah pelayaran niaga yang pernah berlangsung antara Tiongkok Selatan dan kawasan Asia Tenggara. Para emigran ini juga beremigrasi ketika terjadi kekacauan politik didalam negeri, bencana alam, dan kesempitan hidup yang menekan. Mereka bertualang berlayar ketempat yang belum pernah dikenalnya; mengadu nasib untuk mendapatkan perbaikan kehidupan.
Dalam sejarah terjadi beberapa periode eksodus emigrasi dari Tiongkok Selatan. Untuk memperoleh keterangan mengenai sejarah awal pembangunan klenteng, lalu perubahan yang terjadi dalam rangka pemeliharaan, perbaikan atau perluasan; pada beberapa kelenteng tua dapat ditelusuri dari prasasti yang terdapat didalam klenteng; dengan membaca papan nama, papan pujian, pasangan papan kuplet yang tergantung didalam bangunan klenteng. Pada epigrafi ini biasa tercatat nama pihak yang menyumbang, tempat asal dan tahun pemberiannya.
Pada papan epigraf ini biasa diukirkan kalimat bermakna pujian yang diperuntukkan pada tokoh klenteng bersangkutan. Kadang juga menceritakan heroism, budi pekerti panutan (dari tokoh Kwan Kong), perlindungan dari mara bahaya selama perlayaran(dari Mazo), bersyukur atas keberuntungan kemakmuran (dari Hok Tek Ceng Sin).
Cara penulisannya beragam kaligrafi dari bermacam langgam karakter tulis, untuk membacanya
bagi kaum awam tidaklah terlalu mudah untuk dapat mengenali dan mengartikannya. Pesan yang ditulis berupa susunan kata singkat berirama, kadang dipakai bahasa kuno dan sastra. Agak sulit untuk dapat menafsirkan dan memaknai pesan yang terkandung; biasanya membutuhkan pengetahuan sejarah kuno, cerita legenda, cerita rakyat, cerita kepercayaan rakyat (folk cult), ajaran Taoisme, Konfusius, dan Buddhis. Komponen bagian bangunan yang sangat pekat dengan makna budaya demikian menyumbang dalam menjadikan bangunan klenteng secara keseluruhan berfungsi juga sebagai media dalam memelihara dan menyampai ulang pada masyarakat pengunjung pengajaran hal budi pekerti, kepercayaan, sejarah, dan sosio budaya masyarakat umum.
Tabel 1 – Berikut mengambarkan secara garis waktu periode dengan eksodus emigrasi yang pernah terjadi, serta bangunan klenteng yang didirikan sekitar masa tersebut didaerah Jakarta dan Jawa Barat.
Periode : Zhong He, Ceng Ho/1405-1433
Bangunan klenteng: Sam Po Kong Bui Su, Jakarta, Ancol – Dibangun: circa 1480
Periode: Dinasti Ming abad 16
Bangunan klenteng: Talang, Cirebon – Dibangun: 1577/ Kim Tek Ji, Jakarta Kota – Dibangun: circa 1580/Tay Kak Sie, Cirebon – Dibangun: circa 1595
Periode: Batavia, JP Z Coen 1619 – tidak ada pembangunan klenteng pada periode ini
Periode: Dinasti Manzu, Qing 1644-1911
Bangunan klenteng: Jin De Yuan, Jakarta, Petak 9 – Dibangun: circa 1650/Da Bo Gong An Xu Miao,
Jakarta, Ancol – Dibangun: circa 1650/Bun San Tong , Cirebon – Dibangun: circa 1680
Priode: Huru-Hara Batavia 1740
Bangunan klenteng: Feng Shan Miao, Da Shi Miao, Jakarta, Kemenangan – Dibangun: circa 1751/Chen Shi Zu Miao, Jakarta, Blandongan – Dibangun: circa 1757/Wan Jie Si, Jakarta, Lautze – Dibangun: circa 1761/Boen Tek Bio, Tangerang – Dibangun: circa 1780/Lu Ban Gong, Jakarta, Bandengan Selatan- Dibangun: circa 1794
Periode: Singapore dikuasai Inggris 1819
Bangunan klenteng: Da Bo Gong You Mi Hang Hui Miao, Jakarta, Pejagalan – Dibangun: circa 1823/Xin De Miao, Jakarta, Pasar Baru – Dibangun: circa 1825
Periode: Hong Kong dikuasai Inggris 1842
Bangunan klenteng: San Yuan Gong, Jakarta, Jembatan Batu – Dibangun: circa 1847
Periode: Pemberontakan Tai Ping Dian Guo 1850 – 1864
Bangunan klenteng: Lu Guo Dai Fu, Jakarta, Angke – Dibangun: circa 1860/Hong Xi Miao, Jakarta, Angke – Dibangun: circa 1869/Hok Tek Bio, Cianjur – Dibangun: 1880/Hiap Thian Kiong, Bandung – Dibangun: 1885/Hiap Thian Kiong, Krawang – Dibangun: 1892/Tju Tji Kiong, Krawang – Dibangun: 1908
Periode: Tiongkok Nasionalis, GMT 1911- 1950
Bangunan klenteng: Kun An Tong , Cirebon, Kuningan- Dibangun: 1917/Tian Bao Tang, Jakarta, Jatinegara – Dibangun: circa 1920/Hok Man Tong, Tasikmalaya – Dibangun: circa 1920/Tong Shan Tang, Jakarta, Mangga Besar – Dibangun: circa 1925/Pasar Tanah Abang, Jakarta – Dibangun: circa 1928/Ban Sian Tong, Bandung – Dibangun: 1935
Ketika dinasti Yuan (Monggol) (1279 - 1368) tercatat adanya perdagangan, dan juga ekspedisi ke pulau Jawa (1293) dengan menggunakan 1,000 kapal dengan 20,000prajurit; dengan tujuan kerajaan Singosari dengan
rajanya Kartanagara, dibarengi pemberontakan Kediri yang dipimpin Jayakatwang, serta upaya Raden Wijaya mendirikan Mojopahit. Suatu ekspedisi yang gagal dan berakhir dengan hanya sedikit saja pasukan yang kembali ke Tiongkok, agaknya sebagian besar tinggal ditempat yang disinggahi. Pada abad ke 14 terdapat catatan perjalanan dari Wang Tayuan yang menjelaskan telah adanya pemukiman pedagang etnik Tionghoa di Asia Tenggara.
Pada dinasti Ming(1368-1644) selama periode 40 tahun awal kekuasaan dikeluarkan larangan untuk berlayar ke Asia Tenggara. Tetapi ketika kaisar Yungte mulai bertahta(1402) ia berubah sikap dengan memerintahkan pelayaran resmi dipimpin oleh seorang Muslim; Admiral Ceng Ho (Zheng He) yang legendaris, berlangsung tujuh kali pelayaran yang fantastis jumlah
armada dan dimensinya. Tokoh ini meninggalkan banyak legenda dan jejak di Asia Tenggara. Di pulau Jawa kunjungannya diperingati di Surabaya, Semarang, Cirebon, dan Jakarta; terdapat artefak bangunan klenteng tua yang masih ada sampai kini. Dalam pelayaran Ceng Ho turut dua orang penulis Ma Huan dan Fei Xin yang meninggalkan catatan rinci pelayaran ini, diantaranya mengenai pemukiman masyarakat Tionghoa yang berasal dari Fujian dan Gwangdong di Jawa; mereka telah hidup secara umat Muslim.
Pada awal abad 16 mulailah kedatangan pedagang Eropah ke Asia Tenggara, pada tahun 1511 Portugal merebut Malaka kemudian tahun 1557 menduduki Makao. Kerajaan kembali melarang pelayaran niaga dari Tiongkok Selatan; ini berlangsung hingga akhir abad ke 16.
Pada masa Dinasti Manzu (1644-1911), untuk meredam perlawanan pada awal kekuasaannya telah melarang penduduk menghuni sepanjang jalur selebar beberapa kilometer di pesisir Tiongkok Selatan, lalu dilakukan politik bumi hangus. Terjadilah eksodus emigrasi k e Asia Tenggara.
Pada tahun 1619 pedagang Belanda Jan Pieter Zoen Coen mendirikan Batavia, untuk
menghidupkan kota ia dengan berbagai cara membujuk dan mendatangkan masyarakat Tionghoa. Ketika kemudian hari ternyata para pendatang ini menjadi sangat erat berhubungan dengan penduduk setempat; VOC merasa gamang dan bersikap ambigue menghadapi arus pendatang eksodus etnik Tionghoa yang telah mendengar mengenai lahan baru di pulau Jawa yang sangat menjanjikan. Sehingga pada akhirnya terjadi kerusuhan 1740 di Batavia.
Pada tahun 1819 Raffles mendirikan Singapura yang dijadikan pelabuhan perdagangan bebas, lalu Inggris juga mendapatkan Hong Kong pada tahun 1842 yang kembali dibuka untuk perdagangan bebas. Keadaan ini telah memudahkan terjadinya eksodus penduduk Tiongkok Selatan melewati Hong Kong lalu tersebar ke Asia Tenggara melalui Singapura. (Diambil dari berbagai sumber/IM)
This post was submitted by Sugiri Kustedja.



























