
Seperti biasa saya ada satu humor untuk penyegaran rohani dan jasmani : Sam Seng sedang bawain belanjaan untuk perayaan SinCia dari beca ke rumahnya. Ada seorang Arab yang baik hati mau membantu.Sam Seng menerima dengan senang hati dan berkata, “kamsia” yang berarti “terima kasih”. Setelah selesai ia memberi uang 50 rupiah kepada si Arab dan Sam Seng berkata lagi “kamsia”.
Sekembalinya kerumah ia bertanya pada kawannya, apa itu artinya “kamsia” yang Si Sam Seng
selalu bilang. Yang dijelaskan oleh kawannya “kamsia” artinya, ” lu kurang ajar dan enggak tahu diri “. Lantas saja si orang Arab ini naik pitam dan langsung datangi si Sam Seng. Dia melemparkan uang 50 rupiah itu dan berkata, ” nih gue kembaliin duit Ente (lu) dan Ente sekeluarga juga ” kamsia…..kamsia-aa-aa !.
Hari raya Imlek ( Yinli Xinnian ) jatuh pada tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek yang berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan), yang dikombinasikan dengan perhitungan berdasarkan peredaran matahari dan pengantian musim dari musim dingin ke musim semi, maka penanggalan Imlek ini banyak digunakan petani dan nelayan yang pekerjaannya sangat tergantung dan berhubungan dengan alam dan musim, maka kalender ini juga disebut nungli (nongli) yang artinya kalender untuk petani. Bila kita perhatikan bahwa menjelang hari raya Imlek biasanya turun hujan, banyak buah-buahan, seperti duku, rambutan, mangga, manggis, durian dan lain-lain, juga panen ikan bandeng, udang dan hasil laut lainnya.
Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 14 Februari 2010 adalah tahun macan dan tercatat sebagai tahun 2561, diambil dari tahun kelahiran Khong Hu Cu (Kongzi) jaitu 561 tahun sebelum Masehi. Imlek diartikan memasuki musim semi di belahan bumi bagian utara, maka disebut sebagai pesta musim semi. Musim semi mempunyai makna meninggalkan musim yang dingin, gelap dengan pohon-pohon yang gundul, memasuki musim yang hangat, terang dengan pohon yang bersemi.
Di Indonesia berarti memasuki musim tanam menyongsong musim hujan yang merata. Hari raya Imlek dirayakan oleh masyarakat Tionghoa tanpa membedakan agama dan kepercayaan, karena mempunyai makna pengucapan syukur atas berkat dan kelimpahan pada tahun yang lalu, dan permohonan berkat pertolongan Tuhan pada tahun yang akan datang, maka Imlek bisa disebut sebagai hari Pengucapan Syukur jaitu
“THANKSGIVING DAY”. Bagi umat Khong Hu Cu dan Buddha biasanya melakukan ibadah di vihara (Si), li tang atau kelenteng (Miao) untuk bersembayang dan menyerahkan derma berupa uang atau beras untuk pengurus rumah ibadah dan fakir miskin, ibadah bisa juga dilaksanakan tepat pada hari raya Imlek.
Kebaktian dengan tema Imlek juga diadakan di gereja, mesjid atau rumah ibadah lain yang umatnya sebagian besar terdiri dari etnis Tionghoa. Menyambut hari raya Imlek biasanya tiap keluarga membersihkan rumah, terutama pada bagian dapur, karena dapur merupakan bagian dari rumah yang berjasa dalam memberi kehidupan rumah tangga. Orangtua menyiapkan pakain baru untuk anak-anaknya, dan juga untuk pembantu, sopir, dan pekerja lainnya di rumah. Menyiapkan makanan, kue, kolang kaling, agar-agar, manisan, lauk pauk, daging, ikan bandeng, dan buah-buahan, termasuk kue cina atau kue keranjang.
Kue ini biasanya dikirim juga kepada orangtua, mertua, paman, atau orang yang dituakan sebagai rasa hormat. Tiga hari sebelum hari raya Imlek, di daerah pemukiman masyarakat Tionghoa biasanya diadakan pasar malam, di mana diperjualbelikan keperluan hari raya, baik untuk sembayang maupun makan. Rumah tangga tidak menyapu di dalam rumah, maknanya agar rejeki tidak terbuang, juga mempunyai makna walaupun hanya sapu tetap perlu istirahat satu hari dalam satu tahun. Apabila terpaksa harus menyapu, maka sampahnya tidak dibuang sampai hari kedua Imlek.
Tepat hari raya Imlek semua orang berpakaian baru dan rapi, anak-anak memberi hormat dengan cara Tionghoa  (bai atau pei ) pada orang tua, kakek, nenek, kemudian pada kakaknya dengan ucapan selamat panjang umur, murah rejeki, dan lain-lain. Pembantu dan pekerja di rumah juga mengucapkan selamat pada majikannya, orangtua memberi angpau ( hong bau ) pada anak-anak dan pada pekerja di rumah, kepada anak-anak di doakan dan diberi nasehat agar rajin belajar, pandai, enteng jodoh, dan lain-lain. Selanjutnya makanan pun dihidangkan, setelah selesai makan maka keluarga menuju ke rumah orangtua atau orang yang dituakan untuk menyampaikan ucapan selamat. Makanan, kue-kue kecil, agar-agar, manisan, dan
lain-lain disiapkan di meja untuk menjamu tamu yang datang berkunjung.
Makanan yang dihidangkan masing-masing mempunyai maknanya antara lain : buah atep (kolang-kaling) agar kehidupan mantep, manisan cerme agar tokonya rame, agar-agar berbentuk bintang agar rejeki dan kariernya terang seperti bintang, kue keranjang berarti tidak kekurangan sesuatu, dan apabila tamu tersebut membawa anak, maka anak tersebut diberi angpau (hong bao) juga.
Angpau adalah amplop berwarna merah di dalamnya berisi uang, biasanya uang yang masih baru dan terdiri dari 2 lembar. Uang tersebut digunakan untuk modal kerja, untuk keperluan sekolah, membeli sesuatu yang dicita-citakan dan sebagainya. Juga di malaman Cia Gwe Ce It digunakan untuk bermain judi semalam suntuk atau bergadang. Biasanya anak-anak termasuk juga orangtua banyak yang bermain judi seperti : Domino, Kiu-kiu,Ceme, Fourty one, “Pair”(Per), dan Ji It. Yang paling disukai orang tua-tua biasanya judi seperti : Mayong (Maciok) dan si pantat kuning alias “Ceki”. Katanya untuk malaman Ce It saja, tapi tidak demikian. Kebanyakan orang menjadi kecanduan, apalagi bagi anak-anak yang sudah mendapat banyak angpao,mereka berjudi hampir setiap hari sampai Cap Go Meh.
Pada hari raya Imlek apabila keadaan memungkinkan bisa memasang mercon nenunjukan
kegembiraan karena rejekinya meledak, bagi keluarga yang mampu dapat dirayakan dengan mengundang barongsai ( wushu ) atau ( xingshi ) untuk disaksikan sanak saudara dan kerabat yang datang berkunjung ke rumah. Mengundang barongsai mempunyai makna mengundang rejeki, menolak bala. Tari liong ( wulong ) atau barongsai pada mulanya adalah prosesi pengusiran bala, saat ini sudah bergeser sebagai pertunjukan kesenian yang tinggi mutunya yang patut ditonton bahkan telah dipertandingkan di tingkat internasional. Pada tanggal 8 malam, bagi umat Khong Hu Cu dan penganut kepercayaan tradisional, menyelenggarakan sembahyang Tuhan Allah. Perayaan dan tradisi kunjung-berkunjung berlangsung sampai dengan tanggal 15, dan pada malam 15 diadakan pesta ( cap go meh (yuan xiao jie).
Pada perayaan cap go meh rumah-rumah memasang lampion warna-warni, diselenggarakan juga karnaval dan hiburan panggung, kaum muda-mudi keluar rumah membeli makanan, melihat lampion, dan lain-lain. Makanan yang khas pada hari ini adalah lontong cap go meh. Setelah pesta cap go meh selesai, maka acara kunjung-mengunjung selesai, masyarakat kembali lagi mengerjakan pekerjaannya untuk 1 tahun lamanya, khusus bagi petani, saat ini adalah momentum yang tepat untuk mulai bertanam, menabur bibit ikan banding, dan lain-lain. Kaum pedagang mulai giat dengan usahanya, karena tahun sudah berganti, rejeki pun berubah dan meningkat.
Begitulah tahun baru Imlek yang sudah dibekukan kurang lebih 32 tahun dan diresmikan atau diizinkan lagi oleh Bapak pluralisme mantan Presiden Gus Dur sampai sekarang. Sebelumnya orang Tionghoa merayakan Imlek dengan bersilaturahmi atau kunjung-mengunjungi diantara keluarga. Karena itu setiap tahun orang Tionghoa selalu akrab dan dekat satu dengan lain. Bagi generasi orang Tionghoa yang berumur kira-kira 30-an, belum tentu mengetahui atau mengerti mengenai panggilan-panggilan hubungan keluarga dan saudara-saudara. Pada jaman sekarang ini, saya kira mereka hanya mengetahui mengenai bahasa panggilan untuk keluarga hanya dengan : Opa,Oma,Papa, Mama, Om dan Tante that’s it.
Maka dengan tulisan ini saya harap agar generasi muda dapat mengetahui bahasa panggilan untuk
keluarga orang Tionghoa.Struktur kekeluargaan dalam masyarakat Tionghoa merupakan suatu kekerabatan yang harmonis, akrab, saling menghormati dan menghargai. Apabila kita memperhatikan panggilan yang diucapkan antara beberapa orang Tionghoa maka kita dapat mengetahui hubungan kekerabatan antara mereka yang sedang berdialog. Cara panggilan yang dicamtumkan di bawah ini diharapkan bisa dipakai sebagai pedoman , agar ada keseragaman, bila ada perbedaan karena dialek dan kebiasaan lainnya jangan terlalu dipermasalahkan.
Orang Tionghoa di Indonesia memberi nama diri Owe, sama artinya dengan saya. Asal kata Owe tidak jelas asal-usulnya, tetapi tergolong halus dan sopan. Kepada lawan bicara biasanya memenggil Engko(Ge) untuk laki-laki, Enci ( Jie ) untuk wanita, Encek (Shu) atau Encim (Shen) untuk laki-laki atau wanita yang umurnya satu generasi lebih tua dari yang mengajak bicara.
Kata panggilan Lu dan GUE sering didengar di kalangan anak-anak muda bahkan orang dewasa dalam kehidupan hari-hari, nama panggilan ini terkesan agak kasar tetapi sangat akrab. Istri menyapa suaminya Ko, Engko, suami menyapa istrinya bisa namanya, kadang-kadang kita dengar memanggil Papa, Mama, berarti ia mengikuti panggilan dari anak-anaknya. Mereka (suami-istri) menyapa kakak laki-laki Engko, kakak paling tua Ko De (Engko yang paling gede), menyapa Engko yang nomor 2 disebut Jiko, ketiga Sako dan seterusnya, bisa juga disambung dengan namanya Ko Alie, Ko Wie Wie dan seterusnya.
Menyapa istri kakak laki-laki disebut Enso (Sao), bisa juga disambung namanya Enso Meli, atau Enso Jennie dan seterusnya. Menyapa kakak perempuan Enci (Jie), yang paling tua Cide, bisa menyapa dengan menyambung namanya Enci Giok Lan, Enci Giok Hoa. Menyapa suami dari kakak perempuan Ci Hu (Jie Fu), bisa disambung dengan namanya seperti Ci Hu Tiong Hie, Ci Hu Goan Siang dan seterusnya. Menyapa adik laki-laki Titi (Didi) istrinya Tisi atau Tifu (Dixi atau Difu), adik perempuan Meme (Mei) pada suaminya Me Fu (Mei Fu).
Menyapa kakak laki-laki dari ayah atau mertua laki-laki Pe (Empek) (Bo), menyapa istrinya Em (A-em) (Bo Mu). Menyapa adik laki-laki dari ayah mertua laki-laki Cek (En-cek) (Shu), menyapa istrinya Cim (Encim) (Shen). Menyapa kakak atau adik laki-laki ibunya atau mertua perempuan Eng Ku dan istrinya Eng Kim. Menyapa kakak atau adik perempuan ayahnya sendiri atau mertua laki-laki Ku-Ku atau O O (Gu Gu), suaminya Ko Tio (Gu Zhang). Menyapa kakak atau adik perempuan ibunya atau ibu mertua II(Yi Yi), pada suaminya Itio (Yi Zhang).
Menyapa kakek Eng Kong atau A Kung (Gong Gong), menyapa nenek Emak atau Popo   (Po Po).
Menyapa kakak atau adik dari generasi kakek-nenek, adalah sama dengan panggilan oleh ayah dan ibunya, dengan menambah Kong atau Po saja, sebagai contoh Thio Kong, Pe Kong, atau Ipo, Kupo dan seterusnya. Menyapa keponakan dari saudara laki-laki dengan Thang (Tang), bila lebih tua Thang Ko atau Thang Cie, bila lebih muda disapa Thang Tie, Thang Mei, istrinya Thang So, suaminya Thang Fu.
Menyapa keponakan dari saudara perempuan Piaw (Biao), lebih tua Piaw Ko atau Piaw Cie, lebih muda Piaw Tie atau Piaw Mei, istrinya Piaw So, suaminya Piaw Fu. Demikianlah mengenai Imlek dan bahasa panggilan dalam keluarga sebelum tahun 60-an di Indonesia yang sangat bermanfaat dan berguna untuk etnis Tionghoa.
Sayangnya Imlek dulu tidak dapat di ulang kembali, meskipun sekarang sudah resmi diperbolehkan atau diizinkan oleh pemerintah. “ Selamat tahun baru Imlek 2561 atau tahun “macan”.(IM)
This post was submitted by Charlie Chen.


Simply desire to say your article is as surprising. The clarity on your publish is simply spectacular and i could assume you’re a professional on this subject. Well together with your permission let me to seize your RSS feed to stay updated with approaching post. Thank you 1,000,000 and please continue the enjoyable work.