Selamat tahun baru Imlek 2561 atau 4707 ?

Posted on February 3 2010 by Ardian Cangianto

Etnis Tionghoa baru saja merayakan Tahun baru Imlek, dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengucapkan selamat tahun baru Imlek  2561 Membaca judul tulisan diatas mungkin membuat banyak pembaca menjadi bingung, kenapa judul tulisan diatas adalah “Selamat Tahun baru Imlek 2561

Ardian Cangianto - Penulis

atau 4707 ?

Sebelum membaca tulisan lebih lanjut, dalam tulisan ini, saya akan menuliskan tahun 2561 adalah Kongzi Era dan 4707 adalah Huangdi Era dan disingkat menjadi K.E dan H.E. Untuk penanggalan masehi, saya gunakan Common Era atau C.E

Pada umumnya di luar negri penyebutan kalender Tionghoa adalah kalender Xia atau Xiali. Selain itu juga sering disebut kalender kaisar Kuning atau Huangdi li dan sering disingkat menjadi Huangli. Hanya di Indonesia kalender Tionghoa disebut Imlek, yang mana ini berasal dari bahasa Hokian yang berarti kalender lunar. Inilah salah satu ciri khas Tionghoa Indonesia yang menurut saya tidak ada di kalangan perantauan Tionghoa dibelahan dunia lain. Walau ada beberapa orang yang beranggapan sebutan Imlek adalah salah, saya berpendapat istilah Imlek perlu dipertahankan sebagai ciri khas etnis Tionghoa Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah kalender Xiali digunakan pertama kali oleh dinasti Xia .(2070 BCE-1600 BCE ),  dan sistem penanggalan yang menjadi dasar untuk penanggalan kalender Xia konon dibuat oleh kaisar purba Huangdi atau kaisar Kuning.

Karena digunakan oleh dinasti Xia, maka penanggalan yang dibuat kaisar

Huang Di - Yellow Emperor

Kuning disebut   Xiali. Dan kita  sering menyebutnya sebagai kalender atau penanggalan Imlek. Tahun Imlek 2561 ini menunjukkan pengaruh Ruism atau yang lebih dikenal sebagai agama Khonghucu. Pada masa dinasti Qing, Kang Youwei ( 1858-1927 ) , seorang reformis Ruism menyarankan agar menggunakan Kongzi era yang dihitung dari tahun kelahiran Kongzi. Sedangkan Liu Shipei  (1884-1919 ) menolak hal itu dan mengusulkan agar tahun kalender Tionghoa dihitung dari tahun kelahiran Huangdi.

Yang menjadi suatu masalah adalah kapan Huangdi dilahirkan untuk dijadikan patokan perhitungan Huangdi Era. Liu Shipei memperkirakan tahun 2711 BCE adalah tahun kelahiran Huangdi, jadi tahun 2010 CE adalah  tahun 4721 H.E. Song Jiaoren ( 1882-1913 ) memperkirakan tahun 2697 BCE adalah tahun kelahiran Huangdi, dan akhirnya banyak orang yang sepakat untuk menerima tahun 2697BCE sebagai awal Huangdi Era. Dari angka inilah sekarang tahun baru Imlek ini bisa disebut tahun baru Imlek 4707 H.E.

Huang Di Culture

Selain masyarakat luas, umat Taoism juga menyebutkan bahwa Huangdi Era adalah tahun yang digunakan oleh umat Taoism dan mereka menyebutnya Daoli atau kalender Tao. Sebagian besar masyarakat Tionghoa di luar negri dan umat Taoism lebih suka menggunakan Huangdi Era karena Huangdi atau kaisar kuning ini dalam sejarah Tiongkok dianggap sebagai bapak bangsa etnis Han atau orang Tionghoa secara umumnya. Dan para Taoist menggunakan Huangdi Era, karena dalam kepercayaan Taoism kaisar Kuning ini adalah pembuka ajaran agama Tao.

Alasan inilah yang membuat timbulnya Huangdi Era dan Dao Era, dimana Huangdi Era dan Dao Era sama saja hanya penyebutan Dao Era atau Daoli digunakan oleh para Taoist.Belum lama ini di Tiongkok  ada opini yang menentang penggunaan Huangdi Era, karena sebagian para ahli sejarah mengatakan bahwa sekarang ini sudah terbukti bahwa kebudayaan Tiongkok sudah berumur 7000 tahun, bukan 5000 tahun seperti yang diketahui oleh masyarakat awam. Tapi opini yang menentang penggunaan Huangdi Era itu gaungnya tidak luas.

Hitungan tahun diatas selain yang dikenal, ada cara hitungan lain yaitu

Kang Youwei 1858-1927

dengan hitungan Yuan atau 1 siklus 60 jiazi. 1 siklus jiazi adalah sama dengan 60 tahun. Dimana 60 tahun itu adalah hasil penggabungan cabang Langit dan ranting bumi yang menjadi dasar perhitungan kalender Imlek. Hitungan Yuan itu juga berpatokan pada kelahiran Huangdi, dan sekarang ini sudah memasuki Yuan yang ke 77 dan ada yang mengatakan sudah memasuki siklus ke 78. Sistem perhitungan dengan siklus jiazi ini yang membuat tahun 2008 ini disebut tahun tikus tanah.

Selain masalah tahun Kongzi era dan Huangdi Era, sering terjadi kesalahan yang lain, seperti penyebutan tahun pemerintahan sebagai nama kaisar dan juga anggapan bahwa kalender Imlek adalah  kalender lunar. Sistem tahun yang digunakan oleh orang Tionghoa jaman dahulu memang sering membingungkan orang jaman sekarang. Sebagai contoh adalah kaisar Ming Chengzu ( 1360-1424 ), sering disebut sebagai kaisar Yongle. Saya sering melihat banyak orang yang ketika menuliskan atau membahas laksamana Zhenghe (1371-1435 ), sering menyebut atau menulis nama kaisar bernama Yongle yang memerintahkan laksamana Zheng He berlayar. Ini adalah suatu kesalahan, karena Yongle bukan nama kaisar tapi merupakan tahun pemerintahan atau disebut nian hao.  Tahun  Yongle ke 1 hingga ke 23 jika dikonversikan ke kalender barat menjadi tahun 1403 sampai dengan 1424. Setelah itu nama tahun pemerintahan berganti lagi menjadi tahun pemerintahan Hongxi dan kaisarnya sudah bukan Ming Chengzu tapi kaisar Ming Renzhong..

Selain cara penghitungan berdasarkan 60 siklus jiazi, cara penghitungan tahun pemerintahan juga selama ribuan tahun digunakan oleh orang Tionghoa . Sebutan festival musim semi atau Chunjie tidak berasal dari sebutan jaman kuno tapi dipopulerkan pada awal abad ke 20. Pada tanggal 2 Januari 1912, Sun Yat  Sen yang menjabat presiden sementara Repulik Tiongkok mengeluarkan telegram yang menetapkan bahwa Republik Tiongkok menggunakan kalender barat dan pada tanggal 13 bulan 11 tahun Xinghai  4609 H.E adalah hari berdirinya Republik Tiongkok dan selanjutnya Huangdi Era diganti dengan Republik Era.

Dan juga tanggal 1 Januari adalah perayaan tahun baru untuk menggantikan perayaan tahun baru Imlek yang sudah menjadi budaya dan tradisi orang Tionghoa di belahan dunia manapun. Inti dari telegram itu mengubah perayaan tahun baru orang Tionghoa menjadi tanggal 1 januari dan mengubah kalender orang Tionghoa. Dengan adanya telegram ini, banyak dari jajaran pemerintah Republik Tiongkok menyebut perayaan tahun baru Imlek menjadi festival musim semi. Tapi mayoritas rakyat Tiongkok dan orang Tionghoa perantauan di seluruh dunia tetap beranggapan bahwa tanggal 1 bulan 1 penanggalan Tionghoa adalah perayaan tahun baru. Setiap tanggal tersebut ucapan  selamat tahun baru tetap diucapkan dimana-mana. Upaya Sun Yatsen untuk menghapuskan perayaan tahun baru Imlek tidak berhasil sebaliknya sekarang ini perayaan Imlek semakin semarak dimanapun juga termasuk di Indonesia. Dan hingga sekarang sebutan perayaan musim semi tidak bisa menghapuskan kenyataan bahwa tanggal 1 bulan 1 Imlek adalah perayaan tahun baru orang Tionghoa.

Banyak orang yang beranggapan bahwa kalender Tionghoa adalah kalender lunar, dan penyebutan Imlek sebagai kalender Tionghoa sebenarnya kurang pas. Sistem kalender Tionghoa menggunakan perhitungan luni solar dan mengenal bulan kabisat untuk menyelaraskan perhitungan kalender yang berdasarkan garis edar bulan dengan garis edar matahari. Berdasarkan perhitungan kalender Imlek, dalam 19 tahun ada 7 bulan kabisat. Dengan adanya bulan kabisat itu maka rata-rata jumlah hari pertahun adalah 365,25 hari. Ini tidak berbeda dengan perhitungan kalender barat atau kalender Gregorian.

Yongle

Dari sini kita bisa melihat ternyata tahun Imlek 2561 K.E bisa juga tahun Imlek 4707 H.E, dan menurut saya tidak menjadi masalah tahun yang manapun juga yang digunakan. Kita bisa memakai Kongzi Era maupun Huangdi Era, bahkan boleh saja tahun 4707 H.E itu disebut Dao Era.

Pada intinya kalender Imlek tetap berdasarkan perhitungan lunisolar yang dipercaya dibuat oleh Huangdi dan dipakai oleh dinasti Xia.(2070 BCE-1600 BCE ). Xinnian Kuaile Wanshiruyi Selamat hari raya Imlek 4707 H.E

(Penulis adalah  pengamat budaya Tionghoa)

This post was submitted by Ardian Cangianto.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

4 Responses to “Selamat tahun baru Imlek 2561 atau 4707 ?”

  1. Ana says:

    Saya rasa disbt imlek jg ga salah,imlek adalah dialek hokian sdgkn dialek mandarin disbt yinli.Imlek/yinli sama2 berarti kalender bulan.Di indonesia penggunaan bhs tionghoa lebih mengikuti bhs tionghoa hokian.Sebagai contoh lain kata angpao.Angpao dr dialek tionghoa hokian sdgkn dialek mandarinnya disbt hongpao dan dialek tionghoa hakka disbt fungpao.Angpao/hongpao/fungpao semua mempunyai arti yg sama dlm bhs ind yaitu amplop merah.

  2. Joao Kho says:

    Ada yg special dalam Chun Jie suku tionghua indonesia yg mayoritas Hokkian, dalam penulisan dan penyebutan Gong Xi Fa Cai (Mandarin) selalu memakai Gong Xi Fat Coi (ga tahu ini dialek Cantonese apa Khek) … apa para wartawan dan lainnya pada ikutin penyebutan Gong Xi Fa Cai dari televisi malaysia … yang ada channel Cantonesenya :D

  3. Ardian says:

    Pada dasarnya tidak ada sebutan Yinli sebelum masuknya sistem kalender barat atau kalender Gregorian. Istilah Yinli sebenarnya tidak tepat untuk menyebut sistem kalender Tionghoa yang juga memiliki pengaruh pada bangsa-bangsa sekitarnya seperti Korea, Jepang, Vietnam. Pada umumnya sebutan Yangli atau Yanglek itu untuk kalender Gregorian dan Yinli untuk kalender Tionghoa yang berdasarkan garis edar bulan dan matahari.

  4. warto says:

    SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2011

    gong xi fa cai

Leave a Reply