Tanah Pengasingan – Bagian ke-1oB Sub Judul: Kehidupan Kolektif

Posted on January 22 2010 by Sobron Aidit

Di pedesaan kami, asrama itu terbagi dua blok. Blok A terdiri dari orang-orang muda yang bujangan. Atau orang tua yang juga tidak ada keluarganya. Blok B terdiri dari orang-orang yang berkeluarga, ada anak-anaknya, rumahtangga. Orang-orang muda yang penuh dinamis dan selalu gembira ini, selalu dengan semangat menggebu-gebu ini, biasanya akan datang padaku dan selalu berkata bila sedang hari potong kambing, ” jangan lupa ya mas ya nanti, kebijaksanaanlah, ya kayak biasalah”, katanya sambil mesem-mesem. Aku harus tahu itu artinya aku harus memisahkan daging kambing
yang mereka sukai, terutama jeroannya. Mereka ingin masak secara sendiri,  yang pedas dan berbumbu “istimewa”. Aku dengan senang hati memisahkan “kebijaksanaan” tadi itu. Herannya aku, semua ini teman pria, tetapi kenapa ada beberapa teman wanita justru yang berkata padaku begini, “Mas, tolong ya nanti, biasalah, peluru dan senapangnya itu lho. Tapi tolong sembunyiin
deh, jangan sampai tahu orang lainlah”, kata wanita yang bersuami itu. Ada keheranan padaku, kenapa yang minta ini justru sang isterinya, kenapa tidak suaminya. Tapi sudahlah, tak perlu diusut, kan kita dalam gerakan GPL – GPF kan! Apa itu benda jangan lupa tadi? Kemaluan kambing, senapang dan pelurunya itu, tentu pembaca tahu kan? Dan yang minta kebijaksanaan begini, soal meriam dan pelurunya tadi itu, tidak hanya satu keluarga! Artinya aku harus bagi-bagi antara mereka. Oh, ini termasuk demi kepentingan rasa-aman dan rasa-sedap kekeluargaan mereka, dan aku harus turut melindungi keadaan begini.

Rasanya gatal mulut ini mau mengatakan, bahwa peluru dan meriam kambing itu hanya enaknya saja, tapi mungkin tak ada pengaruhnya buat kedahsatan seks. Tapi pula untuk orang yang percaya sudah tentu menjadi semacam kekutan psychologis, secara kejiwaan saja, bukan secara physiologis-biologis.
Memang ada pengaruhnya juga, karena daging kambing panas dan hot. Tapi menurut “pengalamanku” jenis daging kambing itu hanya gertak dan keberanian serta kekuatan sementara saja. Hanya sekedar perang cepat selesai! Kalau mau perang-tahan lama, dan “mempermainkan” musuh dengan agak semau dewek,  makanlah wortel mentah, kalau dapat jus wortel mentah itu! Semua bahan makanan dan obat-obatan yang bagaikan menunjam ke bumi dinamakan pasak-bumi, nah itu kalau mau perang-tahan lama. Termasuk jinsom yang tumbuhnya menunjam dalam tanah, ya juga wortel itu. Ingat bagaimana jalannya seekor ikan kuda-laut? Juga “berdiri-tegak” bila ikan kuda-laut itu bergerak dan jalan, dia selalu tegak berdiri, nah itu dia! Jenis tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, obat-obatan yang menyerupai organ manusia,  akan menuruti sifat alamiah dan naluriah manusia, dan bisa menjadi obat buat penyakit yang berkepentingan. Misalnya buah tou, rupa-dalamnya berkeriput, berjalin dan berkotak-kotak terbagi dalam sel-sel, bagaikan otak manusia. Nah, buah tou sangat baik buat kesehatan otak. Juga buah jambu-mente, atau istilah kami di kampung, jambu-monyet, lihat rupa bijinya itu. Bukankah sebagai belahan buah-pinggang atau nir? Nah, buah atau biji jambu-mente itu baik buat kesehatan nir, buah-pinggang. Coba perhatikan telinga manusia. Rupanya bagaikan seorang bayi yang letaknya dalam kandungan. Pada daun telinga itulah paling lengkap gambaran anatomi seorang manusia. Semua titik tusuk-jarum buat akupungtur ada pada sebuah telinga manusia. Hanya kenapa agak kurang orang menujukan ke titik itu? Karena titiknya terlalu kecil dan rumit, dan juga bukankah ada titik lainnya yang juga sama fungsinya dengan titik di telinga itu?!

Jadi tidaklah benar-banyak apa “khasiat” meriam dan peluru kambing itu. Boleh-boleh saja kalau sekedar mensugesti dirisendiri. Karena itu aku “sebagai penguasa kerajaan perdagingan kambing” ini tidak pernah mengambil “kebijaksanaan” seperti yang diharapkan banyak teman pria dan wanita demi untuk suaminya itu. Bukan karena mau sok berteori “tidak mementingkan diri sendiri”, tetapi karena
aku tahu dan punya sedikit pengalaman bagaimana kalau mau “perang-cepat selesai” bagaimana kalau mau “perang tahan-lama”. Bak kata akhli strategi dan taktik perang zaman Tiongkok lama, Sun-Tze, “kenalilah diri-sendiri,  kenalilah musuh, seratus kali berperang niscaya seratus kali menang”, dan itu benar, terbukti. Dan kami sambil tertawa dan senyum berarti ketika kubungkus baik-baik dan hati-hati peralatan perang tadi itu, – meriam dan peluru kambing, – entah akan dimasak dengan cara apa, tak tahulah aku. Dalam hatiku turut mengharapkan dan mendoakan agar mereka menikmati kehidupan berkeluarga ini.

Pada lain kesempatan potong kambing lagi, suara itu selalu terdengar ” jangan lupa Mas ya, kebijaksanaanlah, tahu sama tahulah, nanti kita makan di rumah kami saja” kata seorang teman pria yang kukenal baik. Ketika ada suara seperti biasanya itu, “Mas jangan lupa ya, ya biasalah meriam beserta pelurunya”, kata seorang wanita dengan agak pelan mengucapkannya bagaikan bisik-bisik, dan tentu saja tidak akan berkata seperti teman pria tadi itu. Tidak akan berkata ” nanti makan di rumah saya saja ya”, mbok yang dia perlukan justru khusus buat sang suami berdua saja, siapa tahu kepada anaknya sendiripun mereka rahasiakan, dan wajar kan!?

Betapa enaknya dan mesranya persahabatan antara kami selama di desa itu dulu. Kini telah menyebar ke berbagai negeri, entah di mana, entah kapan lagi bisa bertemu, yang tentunya sudah pada tua, kakek-kakek dan nenek,  termasuk nenek yang minta meriam dan peluru kambing itu dulu.-

Paris 10 April 1999 (bersambung)

This post was submitted by Sobron Aidit.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply