Orang Tionghoa  di Indonesia – The Chinese Roots, Provinsialisme,  Peranakan, Totok dan Kerjasama Dalam Tubuh Hua Yi

Dr. Han Hwie Song/Indonesia Media

 

Di Indonesia juga di Malaisia dan Singapura, orang-orang ini dipanggil Peranakan atau lebih chusus lagi yang laki dipanggil Baba dan yang wanita dipanggil Nyonya. Saya membicarakan mereka yang tinggal di Indonesia untuk memperkecil ruangan yang kita bicarakan. Mereka ini umumnya tidak pandai lagi bicara bahasa Tionghoa, dirumah mereka dengan keluarganya bicara dalam bahasa local atau yang Tempo Doeloe dikatakan Bahasa Melajoe Tionghoa,

Mereka sudah mengambil banyak identitas Indonesia, karenanya kebudayaannya sudah campuran . Nyonya doeloe pakai Sarong Kebaya. Tetapi lain motifnya dengan sarong orang pribumi, sarong ini dinamakan sarong Nyonya dan terutama dibuat di Pekalongan. Karena keativan Nyonya dalam masak-memasak maka banyak masakan yang disebut masakan Nyonya, seperti lontong cap go meh, bah-cang, kwee-cang, lemper etc.etc.

 Karena sudah beberapa generasi tinggal di Indonesia , dan komunikasi yang masih belum maju maka mereka umumnya sudah tidak punya lagi keluarga di Tiongkok dan orientasinya ialah Negara Indonesia , dimana mereka menetap. Dijaman Doeloe mereka sekolah Belanda, karenanya bisa meneruskan pelajarannya ke universitas dan banyak diantara mereka yang tergolong intelek seperti dokter, insinyur, ekonom, pengacara,  dan guru sekolah, sedikit yang dagang kebanyakan bekerja sebagai pegawai di perusahan internasional, bank dan perusahaan orang Tionghoa.

Totok adalah mereka yang datang ke Indonesia sesudah wanita juga diperbolehkan oleh kerajaan Ching keluar negeri dan membawa istrinya. Dalam keluarga mereka tetap bicara bahasa Tionghoa, dialek asal dimana mereka datang dari Tiongkok. Anak-anak mereka tetap sekolah Tionghoa, karena lulusan sekolah Tionghoa tidak diakui baik oleh pemerintah Belanda maupun pemerintah Indonesia . Maka mereka yang lulus pada jaman  Tempo Doeloe dari sekolah menengah tidak bisa meneruskan ke universitas dan untuk mempertahankan penghidupan mereka berdagang. Sesuadah diberdirikan Res Publica di beberapa kota-kota besar diantaranya Jakarta dan Surabaya, mereka bisa meneruskan studinya di universitas Res Publica. Dalam bidang perdagangan, karena mereka giat bekerja, bekerja sama diantara mereka dari satu provinsi dan sifat-sifat yang mengirit banyak diantaranya sukses dalam businesnya.

Jelas mereka mempertahankan kebudayaan Tiongkok dan orientasi mereka terutama pada Tiongkok. Mereka masih mempunyai keluarga dekat di Tiongkok dan yang mempunyai uang sering berkunjung ke Tiongkok untuk menyambang keluarga dan teman-temannya. Anak-anak mereka pada jaman sesudah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, karena sokolahan mereka tidak diakui oleh pemerintah, karena guru-gurunya tidak dianggap berkwalifikasi sebagai guru, karena lulusan sekolah menengah mengajar disekolah menengah juga. Banyak generasi mudanya, karena masih berorientasi kuat ke negara leluhur mereka meneruskan pelajarannya Wei-guo (pulang ke negeri leluhur) tidak ke Singapore atau Malaisia atau Taiwan, meskipun mereka harus menekan perjanjian tidak boleh menetap kembali di Indonesia. Oarng Totok karena mempunyai sifat provinsialisme yang kuat mereka menikah antar sukunya sendiri, yaitu orang Hok Jia menika dengan orang Hok Jia dan orang Hakka menika dengan orang Hakka etc.

Manusia mempunyai dua perbedahan untuk jalan penghidupannya yang satu terutama hidup dengan perasaan, dengan hatinya dan yang lain hidup berdasarkan pikirannya, kepalanya.  Karenanya kepuasan mereka dalam penghidupannya berlainan. Mereka yang hidup diatas perasaan, penuh dengan kasih sayang bisa ketawa dan bisa juga menangis. Macam manusia yang lain hidup terutama berdasarkan pikirannya, kepalanya, yang terachir ini mereka hidup penuh dengan konflik-konflik dan sensasi, mereka tidak merasa puas dengan keadaannya dan selalu ingin merobah keadaan yang lama. Dari dua dasar faktor hidup yang saya sebut tadi, interesan bagi kita ialah melihat identitas atau norma-norma dan cara mereka menghadapi kejadian-kejadian dalam penghidupan segolongan ras atau suku

Kalau kita lihat kechususan ketionghoan mereka, sangat sukar digeneralisasikan. Orang-orang dari provinsi Fu Jian (Hokkian) lain identitasnya dibandingkan dengan orang-orang dari provinsi Guang-Dong (Kanton). Ini disebabkan besarnya satu provinsi di Tiongkok. Seperti halnya perbedahan identitas dari orang Perancis dan Jerman. Tetapi apakah perbedahan dari orang Tionghoa dengan bangsa lainnya mengenai cara-cara mereka hidup, temperamennya dan kebiasaan hidup atau kechususannya untuk orang Tionghoa pada umumnya. Dalam keadaan sekarang persoalan ini adalah sangat interesan karena banyak didiskusikan di dunia.

Baiklah saya ceritakan kebersamaan antar orang Tionghoa, adalah disebabkan karena manusia Tionghoa mempunyai hati, mereka hidup dengan hatinya, hidup dengan emosi dan kecintaan, kepedulian pada manusia. Dan semua sifat-sifat ketionghoan dapat diterangkan karena mereka hidup dengan perasaan. Dan perasaan adalah sesuatu kehalusan dan kestatbilan yang sensitif. Lain dengan pikiran yang keras, zakelijk dan sesuatu yang kaku. Katakan sifat orang Tionghoa yang umumnya dikenal sebagai manusia dengan memori yang kuat. Ini disebabkan karena mereka  ingat dengan hatinya tidak dengan kepalanya. Hati dengan kekuatan perasaan simpati dapat ingat lebih lama daripada ingat dengan otak yang keras, zakelijk dan demi kepentingan diri. Sebagai contoh seorang anak lebih cepat belajar luar kepala atau bisa belajar dan ingat lebih cepat daripada orang yang tua. Lain contoh lagi orang Tionghoa beken dengan sifat yang aturan, agak kemaluan menemui orang yang asing baginya. Apakah sebabnya? Ini karena mereka hidup dengan hati dan mengerti perasaannya dan juga tahu perasaan orang lain. Perasaan ini keluar dengan spontan dan bukan sebagai main sandiwara. Karena itu mereka lebih baik diam dari pada bicara, takut kalau berbuat kesalahan.

Inilah sebabnya mengapa di Eropa jarang sekali mafia Tionghoa yang  merampok penduduk Eropa. Mereka dianggap sebagai tuan rumah dan patut mendapatkan kehormatan, karenanya “penjahat” Tionghoa tidak mau merugikan tuan rumah yang telah menerima mereka dengan baik. Orang Tionghoa, terutama yang senior terkenal dengan sifat konservatisme, atau mencegah kedinamikan keadaan, dan mencegah kemajuan. Konservatisme kalau kita lihat dalam optik yang positif sebetulnya menunjukkan kepuasan pada keadaan sekarang ini. Sifat konservatisme disebabkan karena mereka merasakan susahnya mendapatkan kesenangan dalam kehidupan manusia. Saya anggap ini adalah penerimaan kenikmatan mereka pada sekarang dan disini. Sifat ini jelas sekali disebabkan karena mereka hidup dengan hatinya dan tidak dengan kepalanya. Tetapi meskipun konservatif orang Tionghoa bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru, dan sifat ini ialah sifat yang dikenal sebagai sifat dari pohon Yang Liu yang mengikuti ritme dari angin. Karena itu mereka bisa berdiri dengan lemasnya tidak kaku dan gampang “patah” di masyarakat manapun. Ini karena mereka mementingkan kestabilan, menghindari malu dan direndahkan, karenanya mereka giat belajar dan bekerja dengan keras sehingga sukses. Ini semua untuk memenuhi kebutuhan perasaannya. Sifat-sifat yang lain seperti saling membantu antar teman, humanisme, hormat, kejujuran, keadilan etc. disebabkan karena orang Tionghoa hidup lebih banyak dengan hati daripada dengan kepalanya.

(bersambung ke edisi berikutnya)