MALAM DEDIKASI MUSIK DAN TARI UNTUK PAK COKRO
Indonesia Media
Saya melirik jam “ Aduh sorry,ya aku ndak ikut kalian lanjut ke Tea station..Mau nonton wayang kulit di Disney Hall ” Sahut saya pada teman-teman sehabis kita nonton film. . Sejenak semuanya terdiam dan mereka melihat saya dengan heran..seperti manusia langka .
“I know..I know..mata saya klasik (maksudnya sipit)…dan saya juga ndak bisa bahasa Jawa…tapi ini penting…dalangnya special..anak Raja Solo B.R.M.(Bendoro Raden Mas) Bambang Irawan.” Sahut saya mencoba menjelaskan.
konser musik dan tarian yang diselenggarakan di Redcat, Disney ini mengambil tema yang keren ,” A Night in the Kraton “ Rupanya concer ini didedikasikan pada almarhum
Pak Cokro yang bergelar K.P.H. ( Kanjeng Pangeran Haryo) Notoprojo almarhum. Pada malam itu gamelang ciptaannya dimainkan oleh anak didik pak Joko dan pak Wenten yang hampir semuanya bule dan jepang. Hebat ndak..bahkan bulenya bisa nembang..pake bahasa Jawa kuno lho…Mbak Niken dari konsulat bisik-bisikin saya..” Pak Butce Bu Nanik Wenten itu anaknya pak Cokro …” Oooo begitu saya kira orang Bali. Karena suaminya pak Wenten adalah pakar keseniaan Bali.
Konser ini dibuka dengan tarian Srimpi, yang biasanya hanya dimainkan di Kraton Solo.
Hebatnya tarian ini diciptakan oleh Raja Solo ( Paku Buwana IV ) untuk merayakan pelantikan anaknya sebagai putra mahkota. Walaupun biasanya ditarikan oleh 9 orang, namun malam itu tarian ini hanya ditarikan oleh 4 orang saja. Salah satu dari penari ayu tsb adalah istri mas Bambang, yaitu Noor Farida. Namanya aja putri Solo..semuanya serba slow dan halus. Sepanjang tarian pandangan mata mereka selalu menatap ke bawah, beda dengan Bali yang mendelik-delik kesana sini. Basically menurut saya, penarinya mengucapkan selamat dengan meminum anggur. (toast ).Tapi namanya aja orang Solo..toastpun pake tarian he..he

Setelah beberapa tarian, tibalah pada acara yang saya tunggu-tunggu yaitu wayang kulit. Ini langka nech di Irian, seumur-umur saya ndak pernah melihat wayang kulit. Dan ternyata memang lebih rumit dari pada yang saya bayangkan. Karena wayangnya sepintas kilas kelihatannya sama semua. dan dimainkan dalam bahasa Jawa halus. Dengan lakon dari kisah Mahabharata,cerita wayang ini penuh dengan filsafat dan seringkali mengandung sindiran-sindiran halus ala Jawa.. Biasanya sich dimasukkan pada lakon sang punakawan Petruk, Semar, Gareng dan Bagong. Rasanya sich tokoh-tokoh ini asli ciptaan Jawa..Karena cerita asli dari Indianya setahu saya nama-nama ini tidak ada. He..he..walaupun dari Irian tapi saya tahu persis semua kisah ini karena saya punya koleksi lengkap cerita wayang Mahabarata dan Ramayana.
“Bumi gonjang-ganjing. .” Begitu mas Bambang membuka ceritanya.. . Saya melirik sekelompok orang Thailand disamping kanan saya dan sederetan orang bule di depan saya..Mereka semua menatap dan mencoba untuk mengerti alur ceritanya. Tori yang duduk disamping kiri saya menyikut saya” Itu siapa ko…?”
“ Hhmm..let me see,,Itu pasti si Arjuna si ganteng jadi yang paling lansing pasti dia…Nah yang hidungnya bengkok itu Sangkuni , gurun panahnya dia yang adalah paman kurawa..biasanya digambarkan sebagai tokoh jahat dan itu yang bersayap pasti Gatotkaca karena hanya dia yang bisa terbang….tapi ngomong apa saya ndak ngerti” Konon Arjuna yang didampingi 4 punakawannya itu sedang mencari wahyu makutha ( yaitu 8 hikmat yang harus didapatkan oleh seorang raja) dan dalam perjalanannya diserang oleh Cakil (raksasa) namun bisa unggul berkat kesaktiannya dan bantuan Gatotkaca.
Disamping mendalang mas Bambang juga memperagakan keahliannya dalam menari yaitu tari topeng yang mengisahkan raja Sewandana yang lagi jatuh cinta kepada dewi Sekartaji.
Seminggu setelah itu diadakan “ Malam seribu pura “ Nach ini asyk nech. Menurut saya apa yang dilakukan oleh pak Joko dan pak Wenten itu harus didukung oleh kita semua..Kalo elo ndak bisa nari atau main gamelang at least bisa hadir dan memberi semangat. Elo duduk paling depan,senyum paling lebar..dan tepuk tangan paling keras..
Acara dibuka dengan musik bali yang misterius.Mula-mula hanya musiknya aja, kemudian arak-arakkan para penari dan pemain. Bau wangi dupa semerbak memenuhi ruangan ternyata berasal dari dupa yang dipasang di belakang kepala penari legong. Kedua penari legong ini memimpin arak-arakan diikuti oleh para penari dan pemain musik yang berpakaian warna-warni didominasi warna ungu,merah dan kuning meriah sekali.. Para pemain gamelangnya sebagian besar orang bule..Sementara itu pak Wenten dengan beberapa pemain pria memainkan cempreng piring yang dihiasi bulu-bule berwarna merah..It was beautiful..gua sampe tahan nafas..aduh bagus sekali..Kostumnya kelihatannya brand new rasanya saya ndak pernah lihat sebelumnya.

Yang menarik bagi saya adalah gamelangnya. Menurut saya memang lebih hidup dari gamelang Jawa..Entah karena ada seruling yang mendayu-dayu..atau apa pokonya meriah dan lebih cepat.. Kadang-kadang saya merasa musik itu seperti saling bercakap-cakap bersahut-sahutan..Berbeda dengan musik koor di gereja yang dipimpin oleh dirigen..kalo ini yang mimpin adalah kendang..Mula-mula kendangnya main dulu terus disahutin dengan gamelang solo yang dimainkan dengan percaya diri..kemudian di sambut dengan musik lain rame-rame..wah seru…saya ndak ngerti musik tapi rasanya kayanya mereka saling bercakap-cakap.
Kita nech ya di Amerika beruntung banget belum tentu di Indo bisa melihat permainan orang –orang kelas dunia seperti ini. O ya diantara bule-bule itu ada seseorang yang seperti orang mexico ..Man he is good…
Acara dibuka dengan tarian legong yang pada intinya mohon berkah Hyang widhi atas kelancaran acara . Namun tari legong kali ini agak lain ,karena mereka memulainya dengan posisi setengah duduk dikursi. Ditarikan oleh Weni dan Cassey.
Berturut-turut tari puspanjali, yang merupakan modifikasi dari tari pendet. Tari ini biasanya digunakan untuk menyambut tamu.
Terus juga ada tari burat wangi.Dari namanya aja ketahuan kalo tarian ini berhubungan dengan persembahan kemenyan yang di lakukan di pura-pura.
Dan tari Girang, bisa ditebak tari ini menggambarkan kegirangan para gadis yang sedang bermain-main. Konon tari ini dikoreografi oleh I ketur Rena, anak muda yang paling aktif dan kreatif di Bali saat ini.
Juga ada tari barong. Yang menurut saya mirip-mirip kayak barongsai Chinese. Juga dimainkan oleh 2 orang. Sekilas pintas binatang ini adalah perpaduan antara macan,singa dan kerbau. Mukanya kecil , telinganya besar kayak kelelawar. Barong keket ini konon menggambarkan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Di Bali biasanya tarian barong ini dianggap sacral karena bahan-bahannya sering diambil dari tempat-tempat keramat kayak kuburan.
Ditutup dengan penampilan tunggal oleh pak Wenten yang menarikan Jauk manis.
Dengan menggunakan topeng yang melukiskan seorang raja yang powerfull,bijaksana tapi gampang marah. Dengan kedua tangan setengah mengembang,jumbai-jumbai di badan dan kuku yang panjang-panjang., jauk manis ini berkomunikasi dengan penonton tanpa mengeluarkan suara . Tarian penutup ini banyak mendapat applaus dari penonton.
Komen saya “ Sayang elo ndak nonton..bagus man..”
|