THE DEWI WEARS PRADA
Indonesia Media
“Ko , belikan Prada ya..di Milan saya dengar separuh harga “ Wanti-wanti Olivia .. Begitu tahu saya akan berangkat ke Italy dengan group nya ICAA dan Indonesia Media.
Saya balas dengan senyum kecut , “ Kacang goreng kali..emangnya murah? Gimana kalo salah beli.. mana ngerti saya dengan model tas…”
Yach begitulah orang Indo , dewi-dewinya suka tas bermerk dan dimana lagi kalo bukan Milan, the fashion city.
Milan ini terletak di Italy sebelah utara. Konon Italy yang sebesar Arizona ini di bagi dengan 2 kelompok besar, North Italy yang kaya dengan industri dan penduduknya lebih makmur. Dan South Italy yang penduduknya kebanyakan adalah petani karena itu lebih miskin. Termasuk Cicilia yang dikenal dengan mafianya dan Napoli yang kumuh dan banyak ditempati oleh imigran .
Tujuan pertama kita adalah Cathedral of Milan atau Duomo yang kata orang nomor 2 terbesar setelah St Peter Basilica di Vatican. Ciri khasnya adalah ribuan menara yang dihiasi sebuah patung disetiap diujungnya Konon total patung keseluruhan ada 3500 buah…bagi saya rumit dan terlalu ramai.
Kalau di Indo., terutama di Jawa biasanya pusat pemerintahan dan kegiatan berada di alun-alun. Begitu pula halnya di Italy, pusat kegiatan dan government berada di alun-alun yang disebut Piazza. Nah piazza di depan cathedral of Milan itu dinamai sesuai dgn nama gerejanya yaitu Piazza Duomo. Disitu juga ada gallery mall yang konon merupakan shopping mall tertua yang berbentuk dome dan disebut Galeria Victorio.
Berlantai marmer berwarna , berukiran dan dihiasi dengan ceiling painting, galleria ini melambangkan simbol status. Karena distu banyak dijumpai merk-merk terkenal seperti
Prada,valentino dll Disamping itu ada juga café-café yang dipenuhi oleh orang yang duduk-duduk dan tentunya restaurant kita Mc Donal dengan WCnya yang free. Yang ini jarang nech di italy. Karena di Italy hampir di semua WC, kita diharuskan bayar 50 cent Euro untuk sekali masuk. Kalo lo banyak minum kopi, selamat deh…bisa habis 5 Euro sehari hanya untuk ke WC aja.
Galery itu dikelilingi dengan fashion district yang menempati bangunan-bangunan classic dan menjadi rumah-rumah mode. Konon hampir semua rumah mode mempunyai perwakilan di Milan supaya mereka tidak ketinggalan mode yang paling up date. Saya sich mengharapkan wanita-wanita dengan baju –baju termutahir berjalan dengan anjing pudel dan bertopi lebar dan berkacamata channel. Seperti yang saya lihat di gereja Notre Dome di Paris. Tapi ternyata malah kebanyakan orang berpakaian sangat casual seperti LA. Pakaian jean dengan T shirt dan jacket. Namun saya perhatikan yang pria banyak memakai kacamata model Rayban yang berbingkai kuning kayak kacamata polisi itu loh..
Karena bertempat di gedung-gedung tua “classic “ menurut saya rumah-rumah mode itu tidak seglamor rumah-rumah mode seperti di Forum plaza, Las Vegas. Juga hampir tidak ada tulisan sale..atau discount. Banyak juga merk –merk yang saya tidak familiar namun productnya mirip dengan Abercombie..Dan surprise ! Diantara rumah-rumah mode terkenal di Florence tersembul merk yang familiar dimata orang indo BATA. . He..he kalo lo mau bergaya dengan kantong cekak..pakai aja sepatu Bata..anyway di Florence merk itu bertetangga dengan LV dan Valentino.
Kelihatannya sich memang orang Italy itu pintar menyulap yang simple sederhana menjadi mega brand. Kelihatannya semua yang serba Italy pasti mahal dan menjadi jaminan mutu. Tidak heran disepanjang jalan dari Milan menuju Verona, pabrik-pabrik berskala medium berjejeran dengan merk dagang yang bermacam-macam. Hampir di setiap tujuan wisata,disetiap kota pasti berderet brand-brand terkenal sperti LV, Prada < Valentino, dll.
Tapi…ada tapinya , saya sempat survey didaerah suburban yang terletak antara Milan dan Verona dgn mengunjungi supermarket berukuran sedang disamping hotel. Tadinya tujuan pertama adalah mencari payung sekalian melihat-lihat dan membanding harga. Ternyata banyak juga barang-barang murahan seperti bunga plastic kayak 99 cent store ala mexico. Juga parfum dan sabun murahan. Bahkan di mall gede dengan super storenya saya hampir membeli jacket kulit yang berwarna orange lembut namun batal karena rupanya buatan India dan vest mancing adalah made in China. Rupanya Italy pun tidak kebal dengan rayuan Mei-mei dari Kuanchow.
Kita lagi antrian restroom di WC pelabuhan di Napoli sambil menunggu Ferry yang akan menyebrangkan kita ke Capri island. Seorang laki-laki berukuran sedang,sehabis mencuci tangan mengeluarkan segenggam coin, terus memainkannya . Orang –orang yang baru habis memakai WC, berasumsi dia adalah penjaga WC otomatis membayar kepada dia. Saya juga tadinya ragu-ragu..akhirnya berikan dia 1 Euro dan tidak dikembalikan ama dia. Saya baru tahu setelah kembali ke bus kalo WC itu free. Yah hitung –hitung beramallah.
Ngomong tentang WC , semua hotel yang kita tempati di Italy dilengkapi dengan Bidet.
Itu loh kayak toilet bowl, tapi fungsinya untuk bilas setelah boker. Tadinya oleh tour leadernya dibilangin untuk cuci kaki..juga Mr.Soto ( orang Hispanic yang setia ngikutin tournya ICAA) insist , “ That’s for washing your feet..”. Gua pikir apa kaki orang Italy pada bau sampai harus khusus dibikinkan equipment untuk cuci kaki. Akhirnya gua tanya resepsionist hotel…”That thing..beside the toilet ,what is the function? “ Dia agak bingung juga..” Ooh..bidet..that to wash after restroom…” Nah.. kan, tapi supaya tidak ada yang losing face,jadi gua bilang..fungsi pertama untuk bilas setelah boker, kalo mau cuci kaki boleh juga…
O ya..biasanya juga disediakan kain untuk mengeringkan setelah dibilas. Bahkan ada hotel yang menyediakan alat kayak tangga yang digantungkan handuk dan kain yang berfungsi sebagai penghangat. Jadi towelnya selalu hangat.
Kalo menurut saya sich lebih praktis, toilet seat ala Jepang yang bisa nyemprot air dan blowing air untuk pengering, tidak makan-makan tempat.
|