Panel Diskusi Film di LA

Dr.Irawan /Indonesia Media

Dalam era globalisasi saat ini terbuka bagi produser film untuk menjangkau penonton lokal maupun seluruh dunia. Namun disayangkan bahwa industri perfilman di Negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia masih tertinggal. Oleh sebab inilah kita harus belajar dari Hollywood. Dengan demikian akan dapat membantu dalam promosi film-film asing termasuk Indonesia, demikian pernyataan Bapak . Konsul Pensosdik Agusti Anwar selaku moderator dari panel diskusi ini.

Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dalam Panel Diskusi yang diadakan di Lantai V KJRI Los Angeles ini. Para panelis termasuk Fatimah Tobing Rony, PhD (UC Irvine), Dahlia Setiyawan (UCLA), Digvijay Singh (Kundalini Pictures), Carlos Blumberg DeMenezes (Red Umbrella Productions) dan , Rosy Law wakil dari Indonesian American Film Society (INAFILMS) di Los Angeles. Disamping itu terlihat juga tamu dari Jakarta Bpk. Marco sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta., dan Nick sebagai produser film. Masyarakat awam juga tak kalah ingin memberikan masukan dan kritik terhadap perfilman di Indonesia, mereka sebenarnya mulutnya sudah gatal mengomentari perfilman Indonesia, bagaimana tidak gregetan melihat kemajuan perfilman negara tetangga yang sudah demikian pesatnya seperti Korea, dan China.

Masukan yang cukup relevan untuk diambil benang merahnya antara lain adalah:

- Memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mengekspresikan ide-ide dalam membuat film . Jadi perlunya diversifikasi dan menghormati ide-ide tersebut. Jangan takut dalam mengekspresikan nilai-nilai emosionil yang memang ada di kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam hal ini kebebasan dalam menyatakan pendapat harus didukung juga dalam kehidupan demokrasi yang ada di Indonesia saat ini. Kendati tidak juga harus membentur koridor konstitusi yang ada. (Catatan : April tanggal 30 ini akan ditentukan perundangan dunia perfilman di Indonesia , apakah sesuai dengan jalur konstitusi yang ada)

- Masalah ragam dari genre di perfilman Indonesia memang masih perlu keberanian dari produser, namun berani saja tanpa dukungan financial dan penonton agaknya cukup beresiko juga. Copy cat memang di kritik oleh sebagian masyarakat yang idealis dalam dunia seni, tapi kenyataan hidup bercerita lain, karena justru film-film yang terbilang murahan seperti Hantu Pocong, Babi Ngepet, Kuntilanak, dan thema-thema Horor itulah yang cukup laku di masyarakat. Tentunya para industri film tidak mau mengecewakan investor yang mengharapkan keuntungannya yang ditanam rata-rata $500.000 /film di Indonesia. Jadi lihatlah Copy cat dari sisi positifnya. Harap dibedakan produksi Copy Cat dan pembajakan, itu jelas berbeda..

-Memang diakui walau Indonesia sudah bisa memproduksi film rata-rata satu judul dalam seminggu , tapi masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangga lainnya. Untuk itu kita justru harus berani belajar dari negara-negara maju lainnya , dalam hal ini kita harus berani belajar dari Hollywood, kata Pak Anwar. Kendati ada juga pakar yang bilang sebaliknya , justru Indonesia harus menemukan sesuatu yang belum ditemukan oleh Hollywood, cetusnya.

-Perlunya menyempurnakan distribusi film di Indonesia maupun secara internasional. Karena saat ini masih belum ada distributor yang handal untuk film di Indonesia.

-Perfilman Indonesia harus berani berkolaborasi dengan producer asing , dengan demikian bisa mengangkat nama Indonesia di mata global. Contoh ;sebenarnya Italy jauh dahulu kala sudah menggarap film bersama Hollywood seperti film “Roman Holiday” (1953) yang dibintangi oleh Gregory Peck dan Audrey Hepburn yang syutingnya 100% dilakukan di Italy. Untuk memikat producer asing melakukan kolaborasi dengan perfilman Indonesia tentunya dibutuhkan niat baik dari pemerintah untuk membuat aturan-aturan yang bisa mengkondisikan kearah itu.

- Kalau sudah berbicara tentang pemerintah maka tidak lepas dari pengawasan badan sensor film. Sangat dimengerti bahwa klasifikasi film mutlak diperlukan seperti 17 tahun keatas 13 tahun , semua umur dan rated lainnya. Tapi hendaknya pihak penyensor melakukannya secara proporsional, contohnya adegan ciuman Soe Hok Gie dalam film “Gie” harus dipotong, seru Pak Marco. (mungkin takut dengan kritikan MUI dan FPI barangkali). Disisi lain maraknya penjualan vcd porno di pinggir jalan tetap berjalan lancar- semancar.

Event ini juga didukung oleh Konsul Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles, Bapak Subijaksono Sujono, dan sponsor makan siang di layani oleh IndoCafe.

Overall , event ini cukup OK, semoga INAFILMS sebagai penyelenggara maju terus kedepan.


       

 


FastCounter by bCentral