Nellie Lake Second Trip # 12 (Tamat)
Jusni Hilwan/ Indonesia Media
Tak lama kemudian kami mulai mendayung di creek eceng gondok tanaman lily.
Mula-mula ketika masih seger sih memang asyik. Lama-lama bosen juga, mana
GPS-ku masih menunjukkan belasan kilometer. Yang bikin gondok selain
banyaknya si eceng, angka di GPS kaga nurun banyak biarin kita udah ngedayung
berjam-jam. Masalahnya angka dari GOTO itu adalah jarak lurus padahal
dayungan kita berkelak-kelok ga karu-karuan. Masalah lainnya, canoe-ku
adalah jenis flatwater tripping canoe yang di-design stabil banget, tahan
ombak 2-3 feet alias alasnya tepos. Akibatnya ketika harus melewati tanaman
di Howry Creek itu, dasar kanu jadi lebih banyak kena gesekannya. Memang
beginilah kalau sudah tua masih sok ikutan yang muda, canoeing ke interior
sehingga segala macam alasan dicari-cari :-).
Setelah berjam-jam canoeing di purgatory itu, akhirnya sampai juga kami ke
Charleton Lake, danau luas sebelum Widgawa Outfitter. Perutku sudah
keroncongan sejak setadi dan dengan alasan Clarisa (juga) kelaparan kami
minta bokap nyokapnya yang masih punya energy bar untuk menunggu kami. Itulah
penyesalan saya kenapa sarapan pagi cuma makan 1.5 sachet oatmeal. Tak lama
sampai dekat kanu mereka, ngaso sebentar sambil menikmati granola bar dari
Benny untuk paddle lagi. Aujubilah, angin bertiup semakin kencang dari arah
barat atau buritan canoe. Tiada kesempatan untuk ngaso lama-lama alias kami
meneruskan perjuangan melawan angin dan ombak di Charleton Lake. Satu-satunya
penyemangat kami adalah hidangan Chinese all-you-can-eat di Golden Dragon
Restaurant di Espanola yang sudah kumasukkan ke dalam trip plan routing.
Menjelang jam 1:30 siang, canoe kami mulai masuk ke Whitefish River dan
Widgawa kami tahu sudah tak jauh lagi.
Meskipun portaging dan pendayungan di hari terakhir itu cukup berat tetapi
karena rakyat sudah tahu sebelumnya, mereka siap dan terus bersemangat untuk
ketawa-ketiwi lebar ketika canoeing sudah selesai. Saya yakin mereka semua
hepi sebab selain hormon endorphine berlebihan yang diproduksi tubuh mereka,
juga selama 5 hari 4 malam mereka sudah membuat hidup menjadi balance. Untuk
yang sudah bekerja, bisa melewati waktu di lingkungan alam yang jauh dari
beton dan semen yang mereka lihat sehari-harinya. Untuk para remaja yang
masih bersekolah, meninggalkan semua benda-benda listrik dari mulai cellphone
sampai ke iPod yang toh tidak akan bekerja atau mubazir. Bisa sering tertawa
baik selama main truf maupun di perumpian obrolan lainnya adalah suatu terapi
oke punya untuk kita orang dewasa yang ketawanya kalah banyak dari anak-anak.
Sayangnya atau penyesalan saya, meski ongkos ikut trip Jeha Outfitter
sepersekiannya outfitter bule, en toh jumlah langganan kami itu-itu juga,
Melayu sintingan :-) alias kurang laku mek. Padahal ongkos ikut Canadian
outfitter paling engga $ 80 per orang per harinya dimana segitu umumnya cukup
untuk ongkos seorang selama trip bersama Jeha Outfitter seakhir-pekan.
Sebagai seorang individu, kita perlu untuk kalau perlu meninggalkan isteri,
suami atau anak-anak dan melakukan retret alami ini bersama-sama teman-temin
sehobi. Intinya adalah, kalau "sumurmu" sendiri kering, tak mungkin kau
bisa memberikan "air minum" kepada si dahaga. Arti kiasan itu adalah: be good
to yourself first before you can be good to others including your family.
Sekian saja kisah beta dan nyonya mengajak 16 Melayu dan beberapa rookies
ke Nellie Lake di akhir pekan Labour Day yang lalu. Terima kasih kepada
Anda-anda para peserta atas kerjasama dan gotong-royongnya. To all the
rookies, we are proud of you and thar perfect weather must be your blessing.
So long adieu, sampai berjumpa di trip canoe camping Bang Jeha yang akan
datang dan kisahnya di majalah Media Indonesia. Bai bai lam lekom.
|