Tionghoa di Padang

Indonesia Media

Di salah satu sudut Kota Padang, Sumatera Barat, berdiri kawasan bangunan tua peninggalan zaman kolonial Belanda. Kawasan itu banyak dihuni warga keturunan Tionghoa yang hidup rukun dan membaur dengan warga setempat. Namun, kawasan yang berpotensi menjadi obyek wisata itu tak terurus baik. Anto Sidharta menelusuri kehidupan di sana beberapa waktu lalu.

Klenteng See Hin Kiong

Cericit suara kelelawar terdengar pada dua gedung tua bertingkat yang bercat putih. Bangunan itu mengapit sebuah klenteng tua berarsitektur Tiongkok Selatan yang berusia 200 tahun lebih. Suara kelelawar itu biasa terdengar di kawasan kota tua Padang, ibukota Propinsi Sumatera Barat. Bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda itu tegak di sepanjang pelabuhan Batang Arau, yang sempat penting hingga akhir abad ke-19. Di sinilah bermukin warga keturunan Tionghoa Padang.

Salah satu bangunan bersejarah adalah Klenteng See Hin Kiong, tempat warga Tionghoa penganut Konghucu dan Budha berdoa.

Cian, penjaga kelenteng. Cian: "Hari-hari 15 bulan Imlek, mereka sembahyang mengambil apa mereka. Mereka bentuk seperti kelenteng ini dari pertama bukan begini. Mereka kumpul dalam tujuh suku mereka bentuk dalam wadah-wadah ini dalam satu ketua.

Kelenteng See Hin Kiong tak terpisahkan dari sejarah orang Tionghoa Padang. Dick Halim yang kini berusia 80 tahun masih ingat tampak kelenteng itu. Ia menunjukkan foto tempo dulu kelenteng itu.

Dick Halim: "Sekarang ini catnya baru. Ini klenteng jaman dulu. Masih belum diapa-apainlah. Pada tahun 1880. Ini asli. Gedung utama asli. Yang lain tambahan"

Rekan Halim, Sudarma yang kini berusia 50 tahun juga punya cerita serupa soal asal usul keluarganya. Sudarma: "Saya memang kelahiran Padang. Sudah setengah abad di Padang. Kakek saya punya orang tua, yang disebut kongconya sudah di Padang. Ibu saya punya orang tua itu dari Tiongkok asli. Jadi umur 12 tahun dia ikut orang tuanya ke Indonesia. Sebenarnya tujuannya bukan ke Indonesia. Tujuannya itu mungkin ke Filipina. Tapi karena diserang badai, terdampar di Bagan Si Api Api. Nah, terus berjalan, akhirnya sampai di Padang, menetap di Padang"

Dari Pariaman

Halim dan Sudarma termasuk generasi tua warga Tionghoa. Konon kabarnya, Tionghoa Padang sebenarnya berasa dari Pariaman, sebuah kabupaten di Sumatera Barat.

Kembali Sudarma. Sudarma: "Pertama kali dikunjungi adalah Pariaman, setelah datang ke Pariaman, karena pol bergeser ke Padang. Mulai pada jaman 1400 sudah ada orang Tionghoa. Dulu banyak setelah gejolak, Tionghoa pindah ke Bukit Tinggi, Batu Sangkar dll. Setelah Belanda masuk, Padang menjadi sentral"

Komunitas Tionghoa di Padang diperkirakan mencapai 12 ribuan orang. Kini, mereka membaur dengan masyarakat lokal, baik dari segi budaya mau pun agama. Misalnya dalam tradisi merayakan kelahiran anak mereka.

Kembali Dick Halim. Dick Halim: "Nasi purut itu dimasak dengan kunyit. Kunyit tidak dipake di Tiongkok, itu bahan lokal. Orang Tiongkok mana ada yang makan santan"

Inkulturisasi

Selain pembauran, kawin-mawin antara Tionghoa dengan suku lain juga terjadi di Padang. Hanura, aktivis muda Tionghoa.

Hanura: "Inkulturasi budaya berjalan baik, perkawinan Tionghoa dan suku lain berjalan baik. Selain Minangkabau ada keturunan Arab dan India terbukti tidak pernah ada kerusuhan rasial di Padang. Baik pada masa orde baru, mau pun pada masa reformasi sekarang"

Pembauran dengan masyarakat lokal juga terjadi dalam atraksi budaya seperti latihan barongsai.

Generasi tua Tionghoa, Sudarma, bertutur tentang pembauran.

Sudarma: "Semangat lebih bersatu yang juga melibatkan pribumi. Atraksi barongsai dan wushu ada orang pribudi juga. Kalau Orde Baru pembauran seperti dipaksakan"

Komunitas Tionghoa Padang juga terkenal kompak. Ini karena dua organisasi sosial besar yang menaungi tujuh suku. Hanura, aktivis muda Tionghoa.

Hanura: "Kalau saya melihat, salah satu mungkin yang paling menonjol di negara kita yang tercinta ini bahwa perkumpulan sosial kemasyarakatan seperti Himpunan Bersatu Teguh, sama dengan himpunan Cinta Teman ini sepanjang yang saya ketahui, hanya satu-satunya yang ada di Indonesia. Tepatnya di kota Padang ini. Sebaliknya di tempat-tempat lain, organisasi sosial kemasyarakatan yang resmi dan terbuka seperti yang kami dapatkan di Padang ini tidak dapat ditemui di daerah-daerah lain di Indonesia"

Organisasi sosial itu mempererat hubungan antar warga Tionghoa di Padang, apa pun agamanya.

Yongki: "Nyaman. Yang penting kita bisa berbaur gitu. Kita sudah lahir dari sini. Muslim juga berbaur semuanya. Di HBT juga ada yang muslim. Campur semuanya. Kalau dulu enggak boleh, sekarang kan kita bebaskan aja.

Karena itulah, Yongki leluasa berkarya melatih generasi muda melestarikan salah satu budaya mereka, Barongsai. Upaya itu berbuah penghargaan kelas dunia.

Yongki: " Malaysia sering, ke Makau, ke RRT udah dua kali, ke Singapura, Hongkong dan Thailand terakhir. Makau dapat penghargaan nomor enam, terus di Hongkong nomor lima"

Tradisi leluhur

Seperti soal ibadah agama dan kepercayaan, komunitas Tionghoa di Padang juga memegang kuat tradisi leluhur. Dick Halim, sesepuh warga Tionghoa di Padang.

Dick Halim: "Perayaan orang Tionghoa masih diikuti umpamanya tarian naga, hincia, dulu ada hari raya pecun, perayaan dayung sampan"

Pendapat itu juga ditegaskan oleh Sudarma.

Sudarma: " Padang lebih kental menjalankan budaya, seperti pernikahan, tahun baru Imlek. Walau pun mereka tidak mengerti bahasa lagi"

Memang, walau tradisi tetap dipegang teguh, bahasa Tionghoa ternyata sudah tidak digunakan lagi. Ini diakui Sudarma yang berusia setengah abad lebih.

Politik masa lampau

Sudarma: "Karena di Padang orang Tionghoanya lebih sedikit dibanding kota lain. Kebanyakan orang Tionghoa tidak bisa Bahasa Mandarin dan bahasa dialek lainnya. Di sini banyak orang Hokian. Generasi saya tidak bisa Mandarin dan Hokian"

Jangankan Sudarma, Dick Halim yang kini sudah 80 tahun saja sudah tidak bisa berbahasa Tionghoa. Ia menggunakan bahasa campuran dengan bahasa lokal, Melayu Padang.

Orang muda di Padang memperkirakan, ini disebabkan politik masa lampau. Seperti dituturkan Hanura.

Hanura: "Karena sejak dulu penggunaan Bahasa Mandarin tidak dibiasakan keluarga. Ini pengaruih Orde Lama dan Orde Baru yang melarang budaya Tionghoa"

Walau tidak bisa melestarikan bahasa, Hanura yakin masih ada yang bisa diperbuat yaitu menjaga bangunan tua mereka.

Hanura: "Kemudahan dan pembinaan penduduk. Apa yang boleh dilakukan seperti memugar atau membersihkan dinding rumah pada hari2 tertentu sesuai tradisi"

Ia yakin, upaya itu akan menjadikan Kota Padang Lama obyek pariwisata.

Melestarikan bangunan tua

Sampai hari ini gedung-gedung tua dan tinggi itu memang tidak terurus. Malam hari sedikit penerangan. Emzalmi, Kepala Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Pemerintah Kota Padang mengaku sulit mengatur kawasan ini.

Emzalmi: "Di pusat kota kern kota lama aturnya gak mudah. Jalannya kecil-kecil. Bangunan jaman Belanda itu perlu dilestarikan untuk dijual jadi pariwisata. Pemiliknya banyak di rantau. Banyak yang jadi gudang"

Apa pun halangannya, warga Tionghoa berharap pemerintah daerah serius menanganinya.

Simak harapan kaum muda Tionghoa, Yongki.

Yongki: "Dirawat gedung-gedung tua, dicat sesuai aslinya. Di luar negeri seperti di Malaysia"

Yongki dan keturunan Tionghoa lainnya berharap sejarah mereka di Padang tetap terjaga dengan pelestarian daerah tempat tinggal mereka.

 

       

 


FastCounter by bCentral