Nellie Lake Second Trip # 11
Jusni Hilwan/Indonesia Media
Jam 4 pagi saya sudah bangun tetapi menunggu sampai weker atau alarm arloji
Timexku berbunyi. Tit tit tit tit tit tit, kulangsung bangun, eh doa dulu
sebentar, mohon agar penderitaan hari ini bisa kuatasi :-). Saya dan Cecilia
yang kebagian tugas masak makanan pagi, sengaja sebab rakyat tahu saya engga
soal bangun jam berapa aja. Menunya sederhana supaya sebagian besar perbekalan
masak sudah bisa dibereskan semalam sebelumnya. Yakni oatmeal atau anak Indo
bilangnya hapermot ex Quaker yang pastilah Anda semua kenal. Ada beberapa
jenis rasa, silahkan dipilih 2 sachet, ambil kismis dan mangga kering yang
kami beli ekstra untuk tambah penyedap, minta air panasnya dari saya.
Aduk-aduk sendiri dan itulah menu makanan pagi terakhir. Menyesal juga saya
belakangan cuma dibagi 1.5 sachet oleh isteriku yang menyiapkan bagian kami.
Why? Tunggu kisah pendayungan terakhir kami di Charleton Lake nanti.
Keputusanku yang didukung Benny untuk membawa semua penumpang dan barang
ke Nellie membuat lebih cepatnya perjalanan kembali ke peradaban. Sekitar
jam 7 pagi, canoe pertama sudah mulai meninggalkan campsite Nellie Lake
kami dan saya yang terakhir bersama Cecile dan Clarisa, berangkat jam 7:30.
GPS-ku kureset maximum dan average speed-nya. Kucari waypoint # 1 yang sudah
kuset waktu kami masih di Widgawa loading dock, yakni titik awal trip kami.
Kupilih GOTO ke titik tersebut. Tertera angka 23 km. Tidak mungkin lach yauw
alias memang isteriku benar, GPS ini sudah perlu dibuang ke danau :-).
Gile banget paddling portaging sejauh Toronto-Mississauga :-), naik mobil
saja sudah cape, naik sepeda kalau tanjakan turunan 70 derajat so pasti teler.
Jadi karena masih kusayang GPS itu, kukantongi dan kumatikan, lagian portage
maut di Kill Me Park sudah menunggu di hadapanku :-). Kanu mulai kupanggul,
saya yang terakhir, kasih voor ceritanya kepada para pemuda-pemudi.
Satu dua veteran portaging seperti Janti dan Herli, tak lama kulihat balik
kembali untuk membawa beberapa barang yang masih ketinggalan, selain mereka
memang rajin. Dari pengalaman sejauh ini, saya tahu perlu beristirahat
sekitar 2 kali di portage 1500m, alias kalau sudah sepertiga jalan kira-kira,
cari dua batang pohon yang berdekatan yang idealnya berbentuk v atau miring
dimana kita bisa taruh kanu kita di antaranya. Kalau tidak ketemu dua pohon
berdekatan begitu, cari dahan pohon yang menjorok keluar yang horisontal dan
tingginya pas untuk kita senderkan ujung depan kanu kita. Itulah seninya
portaging, tahu saatnya untuk istirahat, minum secukupnya, habek energy
bar kalau tidak ketinggalan di rumah :-).
Untungnya portage trail ke Nellie ini, saking susahnya, hampir tidak ada orang
lain yang berpapasan dengan kami. Ada bagusnya sehingga kami yang bawa kanu
tak perlu minggir-minggir ketika berpapasan. Tak lama kemudian kususul
beberapa slowpoker yang sudah kehabisan enersi lantaran di pagi hari cuma
makan oatmeal dan bukan nasi goreng pake kerupuk :-). Ketika sudah sekitar
setengahan jalan, aku menjadi pe-relay walkie-talkie antara yang sudah sampai
ke ujung dengan yang masih di belakangku, akan berapa banyak "sherpa" lagi
kami butuhkan. SK Bulgogi yang paling kuat, paling rajin bolak balik dan
rasanya ia kebagian bawa 3 kanu :-). Salahnya punya paha dan betis sekuat
tukang becak. Seperti di perjalanan ke Nellie, saya hanya sekali jalan bawa
canoe doang. Equipment pack dan daypack-ku dibawakan pemuda-pemuda harapan
bangsa sebab kalau saya harus balik lagi, buang waktu, aku dah cape mek :-).
Menjelang jam 9 pagi portaging sudah selesai dan rakyat bertepuk-sorak setiap
mereka-mereka yang datang terakhir nongol di ujung trail serta masih hidup.
Sebagaimana kebiasaan Melayu, kami tak lupa foto-foto lagi, foto keluarga
katanya. Mampus aku kalau punya 7 anak remaja yang selalu kelaparan seperti
peserta Nellie Lake trip ini :-). Selesai berpose satu persatu kanu mulai
di-load dan dinaiki para penumpangnya. Kembali saya dan nyonya yang terakhir
setelah sebelumnya keliling sebentar memeriksa apakah ada barang yang
ketinggalan, suatu rutinitas kami para canoeist kalau kemping di interior.
Sekian dulu, sampai kisah mendatang.
... (bersambung) ...
|