Usaha Resto – Bagian ke-18B

Indonesia Media

"Pak, ada keberatan saya dengan ucapan Bapak tadi. Bapak mempersoalkan saya
atau mungkin kami, tentang soal berani atau tidak pulang ke Indonesia
sekarang ini. Dan saya sebenarnya sangat ingin berkata banyak soal ini.
Tetapi karena tempat ini sebuah resto, dan tugas kami di sini melayani
orang-orang datang makan, seperti Bapak dengan teman-teman Bapak ini, maka
sebaiknya kami tidak melayani sebuah diskusi politik apapun. Tugas kami
melayani dengan sebaik-baiknya sebagaimana layaknya sebuah restaurant. Jadi
maaf saja kalau saya tidak menjawab apa kemauan Bapak dengan pertanyaan dan
kata-kata itu tadi", kataku dengan usaha keras agar diucapkan dengan tenang.

Orang itu tampaknya tidak begitu puas dan terdiam agak lama. Teman-teman
dapur sudah pada gelisah, mau keluar mau melihat "tampang" orang itu. Aku
berusaha menentramkannya yang padahal aku sendiri juga mungkin sebenarnya
jauh lebih bergelora dari mereka.

Sukurlah hari itu tidak tejadi apa-apa. Maksudku, kami tetap seperti
biasa, dan samasekali tidak terprovokasi. Kejadian ini sudah lama
sekali, tetapi ada lagi kejadian seakan-akan sebuah interupsi. Ketika aku
sedang bertugas di bar, datang seorang muda tegap-gagah, berambut cepak
west-point. Dia datang mendekati diriku.
"Apa kabar Pak, baik?", katanya seakan ramah.
"Baik Pak, Bapak apa kabar? Dari mana saja ini?", kataku membuka percakapan.
"Ya, kalau saya, datang ke mana saja selalu ada tugas, mengemban tugas.
Seorang seperti saya, selalu saja ada tugas, dan tugas itu dari negara. Saya
dari kopassus, tahu kopassus?!". Kontan kujawab.
"Tahu benar, Pak. Saya kira tak ada orang Indonesia yang tak tahu itu
kopassus", kataku kontan.
Kelihatannya orang itu entah senang entah tersindir, tak tahulah aku! Tapi
nama kopassus kok berani-beraninya dia bawa sampai ke Eropa ini. Padahal
nama itu sudah begitu busuk dan jahatnya!

Sukurlah dialog yang saling tak ramah itu berakhir hanya sampai disitu
saja. Tapi padaku mengendap rasa penasaran yang tak selesai-selesai. Siapa
yang tak kenal kopassus yang tukang-culik dan spesialis pembunuh itu!
Tetapi juga siapa tahu orang itu hanya sok-sok saja mengaku kopassus. Hanya
dapat diambil kesimpulan, menggunakan penyebutan nama itu hanya sebagai
pamer kekuasaan dan kekuatan buat menakuti orang, atau sekedar gertak
saja, atau ada hal lainnya, tetapi bagaimanapun "mengolahnya" tetap saja
negatif!

Tamu-tamu kami yang berjenis demikian sangat sedikit, dan kalau secara
global dipukulratakan, hanyalah satu-dua persen saja, tak berarti bisa
mempengaruhi jalannya resto dan kehidupan kami secara keseluruhan. Dan kami
tetap saja bergembira menerima orang-orang Indonesia , yang kami rasakan
sedulur, yo sanak yo kadang juga adanya. Dan kami sudah tentu membedakan
mana yang baik dan mana yang kurang baik. Kalaupun hal ini kuceritakan
anggaplah hanya sebagai intermezzo dalam sebuah cerita
kehidupan panjang dalam rentetan kehidupan kami.

Pada ummnya teman-teman Indonesia yang datang ke resto kami itu, mungkin
juga mau tahu, yang seperti apa sih restauran Indonesia yang katanya resto
kaum-pelarian-politik itu! Dan ini memang bukan suatu rahasia lagi, sudah
terlalu banyak ditulis, baik yang mau mengangkat kami maupun yang mau
memperpurukkan kami lagi sedalam-dalamnya. Tapi bagaimanapun bukankah kami
harus survivale, harus bertahan hidup? Dan hidup itu haruslah
bermasarakat. Karena itu kami membutuhkan banyak teman, banyak sahabat, banyak
kerabat. Dan karena itu pula kami harus selalu tampak jernih terbuka dan
ramah, selalu senyum, jangan sampai tampak seperti mau cari gara-gara saja!
Pernah kami berpendapat, kalau tak bisa senyum, tak bisa ramah, tak bisa
berkomunikasi, lebih baik tidak usahlah jadi seorang restaurateur. Mungkin
benar pendapat ini, tetapi juga mungkin ada kekurangannya.

Paris 30 Maret 1999  

 

 

       

 


FastCounter by bCentral