|
|
AKHIR SEORANG CHINESE COYOTE - A Reality Beyond
Bono Anggono /Indonesia Media
Bagian 1
Dalam Press Release FBI 16 Maret 2006 dinyatakan bahwa Cheng Chui Ping (56) diganjar hukuman penjara selama 35 tahun atas tuduhan penyelundupan manusia ke Amerika Serikat, penyanderaan dan pencucian uang. Bukti-bukti menunjukkan bahwa Kakak Ping, demikian julukan yang diberikan, adalah seorang pimpinan sindikat internasional penyelundupan manusia kewilayah Amerika dan beberapa negara lainnya.
Berpenampilan sederhana, tanpa make-up dan lebih mirip seorang petani dipedalaman China daripada seorang ratu tega, selama bertahun-tahun Kakak Ping yang tidak berbahasa Inggris ini telah mengantongi puluhan juta dollar dari usaha penyelundupan orang-orang asal China daratan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. Mereka yang pasrah menyerahkan masa depannya diatas janji surga, dikenakan biaya hingga puluhan ribu dollar per kepala agar dapat menginjakkan kaki dinegeri ini.
Coyote yang berarti 'anjing yang menggonggong', merupakan julukan yang diberikan bagi mereka yang menerima bayaran untuk menyelundupkan manusia dari perbatasan Mexico kedaratan Amerika Serikat. Di China, para penyelundup manusia dijuluki She Thou atau kepala ular karena kelicikan dan kekejamannya. Ratusan ribu pendatang gelap asal China yang bermukim dan melakukan pekerjaan low-skilled dengan bayaran dibawah upah minimum di China Town New York dan kantong-kantong pecinan lainnya di Amerika Serikat, Canada dan beberapa negara Eropah serta Australia merupakan hasil kerja jaringan kepala ular.
6 Juni 1993 sebuah kapal kandas diperairan Queens, New York. Sesaat kemudian berlompatan keluar dari perut kapal hampir 300 orang pendatang gelap asal China daratan, belasan diantaranya tenggelam dan meninggal seketika. Sebelum tiba di Queens, kapal bernama Golden Venture itu telah menempuh perjalanan sepanjang 17 ribu mil dari Thailand menuju Kenya kemudian menyebrangi samudera Atlantic menuju New York. Beberapa pendatang gelap yang disekap selama berbulan-bulan dalam kapal tersebut adalah anak-anak. Mereka bertahan hidup berdesakan dalam ruang kecil yang pengab diperut kapal dengan makan nasi, kacang dan beberapa teguk air setiap harinya. Ketika melompat masuk kedalam laut mereka hanya mengenakan pakaian dalam.
Golden Venture bukan satu-satunya kapal yang mengangkut immigran gelap dari China daratan, beberapa bulan sebelumnya lebih dari selusin kapal tertangkap karena menyelundupkan manusia kedaratan Amerika Serikat. Dua bulan sebelumnya sebuah kapal bernama Mermaid 1 tertangkap diperairan Bahamas dengan 237 immigran gelap asal China didalamnya, beberapa minggu berselang kapal lainnya Pai Sheng terjebak di dermaga San Francisco dengan 250 orang pendatang haram didalamnya.
Beberapa mil dari perairan Queens, di sebuah toko dan rumah makan di 47 East Broadway-China Town New York, Cheng Chui Ping menonton berita kandasnya Golden Venture melalui televisi. Musim panas 2005 Kakak Ping merupakan salah seorang yang diadili berkaitan dengan kandasnya Golden Venture. Bersama jaringan internasional asal China, Thailand, Hong Kong, Belize, Kenya, Afrika Selatan, Guatemala, Mexico dan Canada, Ping mengatur perjalanan immigran gelap dari China menuju Amerika Serikat dan dari usahanya yang dirintis sejak tahun 80-an FBI memperkirakan beliau telah meraup 40 juta dollar.
Michael Chen (33) salah seorang penumpang Golden Venture yang kini memiliki Chinese Restaurant dipinggiran Columbus, Ohio bercerita bahwa dia dan beberapa pamannya berhasil masuk ke Amerika dengan bantuan para penyelundup manusia yang banyak mencari mangsa di Fuzhou. Para kepala ular ini, ujarnya, mulai beroperasi sejak tahun 60-an dimana banyak orang-orang China Daratan membanjiri Hong Kong. Tahun 1991 saat berusia 16 tahun, orang tua Chen mencari pinjaman sebesar 5000 Dollar untuk membayar uang muka keberangkatan Chen, total biaya yang dibutuhkan adalah 30,000 Dollar dan harus dicicil Chen setelah dia mulai bekerja di Amerika.
Jalan East Broadway yang berlokasi dibawah jembatan Manhattan merupakan perkampungan Fuzhou dan bagian dari salah satu China Town di New York (selain Manhattan, dua China Town lainnya berada dikawasan Brooklyn dan Queens). Kehadiran ribuan orang-orang asal Fuzhou merangsang tumbuhnya kelompok-kelompok preman yang menguasai perjudian gelap, panti pijat dan pengutipan uang keamanan dari para pedagang disana selain itu mereka juga telah menjadi tukang pukul dan mata-mata para Se Thou. Immigran gelap yang baru mendarat biasanya langsung disekap disebuah lokasi dan diberi waktu dua hingga tiga hari untuk menghubungi dan meminjam uang pada saudara mereka yang telah tiba lebih dahulu atau para rentenir guna melunasi sisa pembayaran jasa para kepala ular. Para preman akan menahan,menganiaya bahkan memperkosa mereka yang tidak berhasil mendapatkan pinjaman uang. Penganiayaan dilakukan dengan cara memukulkan benda keras kebagian punggung demikian bekas
penganiayaan tidak akan terlihat keluar. Bagi mereka yang mencoba melarikan diri dari sekapan atau tidak melunasi sisa bayaran, keselamatan anggota keluarga mereka dikampung halaman menjadi bayarannya. Demikian kejam hingga beberapa dari para pendatang yang tiba di Amerika atas jasa kepala ular melakukan bunuh diri.
Dikalangan pendatang asal Fuzhou di New York, sang ratu tega Kakak Ping dianggap sebagai contoh seorang immigran sukses dan berkharisma. Di Amerika Serikat hanya ada dua orang yang mereka segani : Cheng Cui Ping dan pamannya, Presiden George H.W Bush yang memberikan amnesty bagi para pendatang gelap asal China setelah peristiwa Tian An Men. Pada pertengahan tahun 90-an, PBB memperkirakan bisnis penyelundupan manusia dari China ke Amerika telah memberikan keuntungan sebesar 3,5 milyar dollar kepada para kepala ular. Masyarakat Fuzhou menyadari bahwa usaha menyelundupkan manusia adalah bisnis beresiko tinggi, Kakak Ping telah menangani insiden Golden Venture dengan bijak, mereka yang tertangkap dan dideportasi petugas setelah terjun kelaut, dihapuskan kewajibannya melunasi sisa bayaran. Kakak Ping juga membayar seluruh biaya pemakamam mereka yang tewas tenggelam, demikian reputasi dan kepercayaan masyarakat terhadap beliau menjadi naik. Nama Kakak Ping
menjadi jaminan mutu, untuk menjaring calon immigran gelap banyak kepala ular lainnya di Fuzhou meng-claim memiliki hubungan bisnis dengan Kakak Ping.
Bagian 2
Cheng Cui Ping lahir tahun 1949 disebuah desa pertanian propinsi Fu Cien (Hok Kian). Konon ayah Ping juga merupakan seorang kepala ular yang berpengaruh saat itu. Ping menikah dengan seorang nelayan bernama Cheng Yick Tak yang memberikan empat anak dan pada tahun 1981 Ping meninggalkan seluruh keluarganya menuju Amerika Serikat. Tidak jelas bagaimana caranya mendarat dinegeri ini, setibanya di New York, Kakak Ping membuka sebuah toko kecil di Hester Street dan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang asal Fuzhou. Saat itu China Town Manhattan masih didominasi orang-orang asal Kwang Tung (Canton). Ping memulai bisnis internasionalnya dengan menawarkan jasa pengiriman uang ke China, jaringannya sangat kuat dikampung halamannya, dengan biaya yang lebih rendah dan pelayanan lebih cepat dari Bank of China, membuatnya mendapat kepercayaan besar dari para pekerja restaurant dan buruh lainnya disekitar China Town. Kemudian Kakak Ping mulai merintis usaha
mendatangkan immigran gelap dengan bantuan para sanak saudaranya di Hong Kong. Seorang kakak Cheng Cui Ping akan menemui seorang client di Hong Kong, memberikan dokumen perjalanan palsu dan membawanya shopping agar nampak sebagai seorang turis. Kakak lainnya menjemput kedatangan client ini di Guatemala dan menerbangkannya ke California, dijemput oleh Kakak Ping yang kemudian membawanya ke New York. Tahun 1984 Weng Yu Hui ingin berangkat ke Amerika, sanak familinya di New York menghubungi Kakak Ping yang kemudian mengatur rute perjalannya ke Mexico. Hui bersama beberapa orang lainnya bersembunyi dikolong sebuah truk melewati perbatasan Mexico-Amerika dan tiba di Los Angeles dimana Kakak Ping sudah menanti dan langsung menerbangkan mereka ke New York.
Permintaan akan jasa Kakak Ping meningkat dan karena tidak bisa ditangani seorang diri maka, Ping mulai meng-sub order pada kepala ular free-lance yang belum cukup memiliki pengalaman. Pada bulan Januari 1989 seorang kepala ular Canada memberangkatkan empat orang immigran gelap menuju Amerika menggunakan rakit melintasi air terjun Niagara. Rakit tenggelam menewaskan seluruh penumpangnya. Kakak Ping akan melakukan apa saja guna menjalankan dan melindungi bisnisnya yang makin membesar. Dia membeli sebuah gedung berlantai lima di 47 East Broadway seharga tiga juta dollar dan menjadikannya sebagai pusat operasional, Ping juga bergabung dengan kelompok preman Fu Ching yang dikepalai seorang pemuda bernama Ah Kay.
Pada tahun 1981 Ah Kay menyelundupkan diri masuk ke Los Angeles melalui Ecuador, dari sana dia terbang ke New York dan bergabung dengan kelompok Fu Ching. Pada tahun 1984 ketua preman memerintahkan Ah Kay membunuh salah seorang rekan mereka yang membandel, ini adalah satu dari lima kasus pembunuhan yang dituduhkan pada Ah Kay saat persidangan. Pada tahun 1985, Ah Kay untuk pertama kalinya berurusan dengan Kakak Ping, dia bersama beberapa rekan preman lainnya merampok rumah Kakak Ping. Dalam aksinya Ah Kay menggondol uang 20 ribu dollar yang disembunyikan dalam lemari es. Pada bulan Maret 1986, Ah Kay dijatuhi hukuman penjara dua setengah tahun dalam kasus lainnya dan dipulangkan ke China tetapi kemudian kembali lagi ke Amerika melalui jalur Hong Kong, Thailand, Belize, Mexico, Guatemala dan San Diego. Sangat mencengangkan, Ah Kay yang didakwa telah melakukan lima pembunuhan di Amerika Serikat dan dideportasi ke China dikabulkan permohonan suakanya oleh
INS pada tahun 1991. Saat itu Ah Kay telah menjadi Kepala Ular dan pimpinan preman Fu Ching. Tertangkapnya ratusan pelancong asal Mainland China yang menggunakan dokumen palsu di JFK Airport, mengakibatkan Ah Kay mengalihkan operasinya melalui laut yang mana lebih menguntungkan karena tanpa tiket pesawat dan pembuatan dokumen perjalanan palsu.
Kakak Ping mendengar keberhasilan Ah Kay dalam mengirimkan ratusan pendatang gelap melalui kapal laut memutuskan mengirim seseorang untuk menjumpai Ah Kay di apartemennya di Hester Street untuk mengajaknya bekerja sama. Ah Kay meminta maaf karena pernah merampok Kakak Ping sebelumnya yang dijawab Kakak Ping "itu adalah masa lalu dan kita membicarakan masalah bisnis sekarang". Sebuah kapal akan segera mendarat dan Kakak Ping menawarkan Ah Kay 750 ribu dollar untuk mengatur membongkar muatan kapal tersebut. Beberapa minggu kemudian anak buah Ah Kay membongkar muatan kapal diselat Massachusetts dan ratusan penumpangnya diangkut melalui truk U-Haul kesebuah gudang di Brooklyn. Keberhasilan Ah Kay membuat Kakak Ping senang dan memutuskan untuk menjalin kerja sama lagi.
February 1993 kapal Golden Venture yang tidak laik untuk menyebrangi samudera Atlantik memulai perjalanannya dari perairan Thailand menuju Kenya. Pada saat bersamaan terjadi pertikaian yang menewaskan beberapa orang dalam kelompok preman Fu Ching pimpinan Ah Kay dalam perebutan rejeki Golden Venture yang memuat hampir 300 immigran gelap. Khawatir ditangkap pihak berwajib, Ah Kay memutuskan untuk melarikan diri ke China dan menyerahkan tanggung jawab penjemputan Golden Venture pada dua orang adiknya yang kemudian tertangkap aparat sebelum sempat menjalankan tugas. Hal ini membuat para penumpang Golden Venture panik karena tidak ada kapal kecil yang menghampiri untuk membongkar muatan. Mereka memutuskan terjun kedalam laut dan berenang kedaratan.
Juni 1993 para awak kapal Golden Venture yang di nahkodai Amir Tobing mulai diadili dengan tuduhan persekongkolan penyelundupan manusia. Petugas juga mengarahkan penyidikan pada kelompok preman Fu Ching dan menangkap seluruh anggotanya. Ah Kay tertangkap di Hong Kong dan diekstradisi ke Amerika Serikat. FBI mengorek berbagai informasi atas keterlibatan Kakak Ping pada kasus Golden Venture dan kemudian menggrebek markasnya di 47 East Broadway dimana petugas menyita alat laminating, beberapa passports, SIM dan Working Permits atas nama orang lain.Saat itu Kakak Ping telah melarikan diri dan tertangkap dibandara Hong Kong April 2000.
Dengan diringkusnya seluruh otak penyelundup Golden Venture, para penumpang bagai anak ayam kehilangan induk. Hampir 200 orang dari pendatang gelap ini dideportasi, lainnya meringkuk dipenjara di Pennsylvania menunggu proses suaka. Setelah ditahan selama 42 bulan, mereka dibebaskan dan diluar penjara telah menanti para kepala ular kagetan yang menagih sisa bayaran perjalanan dari Thailand menuju Amerika Serikat.
Insiden Golden Venture tidak mengurangi minat penduduk Fuzhou untuk meninggalkan kampung halaman mereka mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. Mereka memahami resiko yang akan dihadapi seperti perlakuan kejam oleh para Kepala Ular, rentenir yang mencekik bahkan keselamatan nyawa. Laporan yang dikeluarkan Government Accountability Office menyebutkan antara tahun 1997 dan 1999, immigran gelap yang tertangkap dalam usahanya memasuki Amerika Serikat meningkat 80%. Para kepala ular kini menjalin kerja sama dengan coyote di Mexico menyelundupkan pendatang gelap menembus pagar perbatasan Mexico dan Amerika dengan mematok biaya perjalanan dari Fuzhou menjadi 70 ribu dollar.
Cheng Chui Ping sedang mengupayakan banding akan putusan pengadilan, sementara itu rumah makan di 47 East Broadway masih beroperasi dan dikelola oleh suami dan putrinya. Business as usual. (Disarikan dari berbagai sumber).
| |