Sepintas tentang seni Barongsai Bagian ke-4 (Tamat)

G.H. /Indonesia Media

Selain itu harus menguasai gerakan-gerakan singa seperti cara berdiri, berjalan, mencakar, istirahat, memanjat, berlari, melompat, berguling dan membersihkan kuping dengan kaki, berkedip mata, serta menguasai urutan fase-fase permainan seperti tidur, pembukaan, bermain, mencari sesuatu, makan, penutupan dan tidur kembali. Seperti

halnya dengan tarian "Ball Room Dancing", barongsai juga mempunyai formasi atau figur gerakan tertentu seperti formasi Pakua dan macam-macam gerakan lainnya, tergantung perkumpuan dan alirannya.

 

Permainan Barongsai pada hakikatnya adalah gabungan antara seni dan keahlian bela diri (Kung Fu), karena dituntut dari seorang pemain untuk memiliki fisik sehat, kuat, reaksi cepat, fleksibel, stamina tinggi, gesit, lincah, dan memiliki kuda-kuda serta otot yang kokoh. Karena itu banyak perkumpulan barongsai berawal dari perguruan silat

Kung Fu. Seorang pemain juga harus menguasai jurus-jurus dasar akrobatik, untuk meloncat, salto, berguling dan menjaga keseimbangan tubuh. Tetapi sekarang banyak perkumpulan barongsai yang didirikan dari perkumpulan seni budaya dan bukan hanya dari perguruan silat saja.

Klimaks dari atraksi permainan barongsai biasanya merebut amplop merah berisi uang atau Angpao (lay see) yang diikat dengan sawi hijau atau selada air (cai qing) yang biasanya digantung antara 4,5 m sampai dengan 6 m diatas permukaan tanah. Dan ini biasanya hanya pemain yang terlatih dapat mencapainya dengan berkerja sama dengan

pemain lainnya seperti membentuk sebuah pyramida manusia. Perebutan Angpao ini sering menjadi objek kompetisi sengit antara perkumpulan sehingga menjadi sebuah atraksi yang menarik bagi para penonton serta dapat menilai barongsai mana yang lebih unggul.

 

Disini reputasi dan keahlian setiap perkumpulan barongsai diuji.. Pada tahun 1950-1960-an, tak jarang suka terjadi persaingan sengit antara perkumpulan Barongsai sehingga sering terjadi bentrokkan fisik antara mereka. Di Hongkong pernah terjadi persaingan dan perkelahian antara perkumpulan sedemikian rupa, sehingga pemerintah Hong Kong mengeluarkan larangan untuk bermain Barongsai ke jalanan, tanpa mendapatkan ijin sebelumnya.

Dalam perkembangannya sekarang, telah diadakan kompetisi dan pertandingan barongsai internasional yang damai antara bangsa, seperti yang telah beberapa kali diselenggarakan di Genting Highlands ( Malaysia) hampir setiap tahunnya. Kompetisi ini menilai kemampuan tim-tim Barongsai dari mancanegara untuk merebut titel "World Lion King" yang bertujuan untuk mengangkat standard kemampuan barongsai dari seluruh dunia.

 

Kreativitas, daya improvisasi, kemampuan akrobatik, keharmonisan, keunikan, tingkat kesulitan, teamwork, keindahan kostum dan pukulan instrumen tambur menjadi kriteria penilaian juri. Salah satu tingkat permainan yang sulit adalah permainan diatas tiang-tiang yang bervariasi ketinggiannya dari 0,8 meter sampai dengan 3 meter. Setiap tim Barongsai diberi waktu maksimum 15 menit untuk memperagakan kemampuannya.

 

Etiket dan kebiasaan umum permainan Barongsai

 

Barongsai umumnya baru boleh digunakan setelah meliwati ritual pencucian atau pembukaan mata terlebih dahulu (Dian Jing), tujuannya ialah untuk membangkitkan dan mendapatkan restu serta spirit kepada Barongsai baru tersebut. Sesudah ini secarik kain merah diikatkan pada tanduk Barongsai tersebut sebagai lambang dari Singa yang sudah jinak. Kemudian barongsai perlahan-lahan membuka mulut, menggoyang kuping,

dan bangkit, diiringi dengan tambur, gong dan gembreng, lalu memberikan penghormatan tiga kali dengan bungkukan (soja), kemudian membungkuk tiga kali lagi ke arah altar (meja sembahyang) sebelum memulai debut perdananya. Sebelum dan sesudah main, barongsai harus melakukan ritual penghormatan dengan membungkuk tiga kali. Kalau meliwati vihara dan kelenteng atau rumah abu, barongsai diwajibkan melakukan penghormatan tiga kali dengan membungkuk, untuk penghormatan..

 

Sekiranya dua barongsai bertemu di jalan dari kelompok berlainan, maka masing-masing memberikan penghormatan dengan tiga bungkukan dan tidak boleh mengangkat kepala lebih tinggi dari yang lainnya, mulut tertutup serta tidak boleh berdiri hanya satu kaki saja dengan mengangkat kaki yang lainnya. dan kalau bertemu dengan barongsai

yang lebih senior, barongsai muda harus merendahkan kepalanya, sebagai tanda penghormatan terhadap barongsai yang lebih senior.

 

Sebelum masuk atau keluar bangunan, barongsai membungkuk tiga kali memberikan penghormatan lebih dahulu, dan kalau sekiranya didalam bangunan ada meja sembahyang, maka barongsai memberikan penghormatan yang sama terhadap meja sembahyang tersebut. Masuk atau keluar ke/dari sebuah bangunan, buntut barongsai harus terlebih dahulu yang meliwatinya, lalu kemudian menyusul kepalanya, dan biasanya kaki kiri terlebih dahulu yang melangkah. Barongsai tua yang meninggal (karena rusak dan sudah lama usianya), secara tradisi dilakukan ritual pembakaran kepalanya, sebagai bentuk pemakaman yang layak.

 

Perkembangan Barongsai di Indonesia

Barongsai di Indonesia mulai mendapatkan popularitas dan berkembang ketika organisasi Tiong Hoa Hwe Koan mulai didirikan pada tahun 1900, yang menjadi salah satu pendukung utama dari perkembangan seni budaya Tionghoa di Indonesia. Hampir setiap organisasi Tiong Hoa Hwe Koan diseluruh Indonesia dan perkumpulan silat (Kung Fu) atau seni budaya dan sosial Tionghoa lainnya seperti Hoo Hap, memiliki perkumpulan barongsai sendiri.

 

Perkumpulan-perkumpulan barongsai ini akhirnya dilarang sama sekali oleh rejim Orde Baru, Suharto sejak tahun 1965 dan dilarang bermain hampir selama tiga dekade, karena setiap ekspresi budaya Tionghoa dianggap menghambat asimilasi, pembauran atau berpotensi membahayakan kestabilan dan budaya nasional. Tetapi sejak keruntuhan rejim Suharto dan sejak jaman pemerintahan Gus Dur dan Megawati, maka tarian barongsai sebagai bagian dari kebudayaan Tionghoa diijinkan dan mengalami kebangkitan kembali.

 

Banyak perkumpulan-perkumpulan barongsai baru yang tumbuh di beberapa kota Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Bahkan sekarang sudah berdiri organisasi Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin). Pemain dan penggemarnya juga tidak terbatas atau eksklusif dari etnis Tionghoa lagi. Warga dari etnis lainnyapun, dan bahkan beberapa kesatuan dari tentara Indonesia (TNI) ikut serta

berpartisipasi dalam memeriahkan tarian barongsai ini !

 

Kebangkitan kembali seni barongsai di Indonesia mendapat sambutan yang menggembirakan dari warga Tionghoa Indonesia. Bukan saja warga etnis Tinghoa Indonesia saja yang dapat menikmati kesenian barongsai ini, warga dari etnis lainnyapun dapat menikmatinya dan bahkan ikut berpartisipasi dalam kegiatan seni tersebut. Seperti halnya dengan barongsai sendiri yang asal usulnya merupakan produk interaksi

budaya antar bangsa yang kemudian menjadi bagian dari kebudayaan orang Tionghoa, maka seni barongsai ini diharapkan juga dapat memperkaya khasanah budaya Indonesia.

 

Catatan dari penulis:

Pada Gathering Milis Budaya Tionghoa baru-baru ini, saya kebetulan berhalangan untuk menghadirinya, karena sedang tidak berada di Jakarta pada waktu itu. Saya yakin dari beberapa laporan yang disampaikan oleh beberapa anggauta milis yang menghadirinya,

pertemuan tersebut sangat positif dan informatif. Terutama mengenai pembahasan seni barongsai yang saya sendiri adalah penggemarnya dan ingin sekali mendengarnya pada waktu itu. Tulisan tentang barongsai disini sebenarnya telah lama ditulis tetapi baru sekarang baru dapat dikirim. Saya kira karena barongsai sebagai bagian dari budaya

Tionghoa, maka saya akan meyambutnya dengan baik kalau sekiranya ada pendapat yang berbeda dari sudut pengalaman dan pandangan yang berlainan, akhirnya juga untuk menambah pengetahuan kita tentang budaya Tionghoa.

 

 

       

 


FastCounter by bCentral