|
|
Doktor Honoris Causa Tehnik untuk Pak Ci
jawapos / Indonesia Media
Gelar keilmuan di depan nama Ir Ciputra resmi bertambah satu kemarin (1/3). Begawan properti Indonesia itu mendapat tambahan gelar doctor honoris causa (doktor kehormatan) dalam bidang ilmu teknik dari Universitas Tarumanagara (Untar).
Pengembang sukses berusia 76 tahun itu dinilai berjasa dalam mengembangkan industri properti di tanah air serta memiliki visi penuh inovasi. Bertindak sebagai promotor adalah Prof Dr Ir Wiratman Wangsadinata, guru besar Fakultas Teknik Untar.
Ir Ciputra pada kesempatan tersebut menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pengembangan Properti untuk Masyarakat yang Digerakkan oleh Kewirausahaan-Visioner. "Buat saya, membangun sebuah kota sama halnya dengan membuat karya masterpiece yang dapat dinikmati dan memberikan kesenangan bagi semua orang," kata Ciputra dalam orasi ilmiah di Universitas Tarumanagara kemarin. Dalam penganugerahan gelar itu, hadir dua anggota Kabinet Indonesia Bersatu, yakni Menteri Perumahan Yusuf Asyari dan Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa.
Pria yang akrab dipanggil Pak Ci itu menambahkan, gelar doktor merupakan kehormatan bagi dirinya yang sekaligus menjadi tantangan untuk konsisten dalam pembangunan meski dalam situasi dan kondisi apa pun.
Lahir di Parigi, sebuah kota kecil di Sulawesi Tengah, tidak membuat Ciputra kecil kehilangan imajinasi kreatifnya. Anak Tjie Siem Poe dan Lie Eng Nio itu bertekad ingin menjadi seorang insinyur arsitek yang dapat mengatasi kemiskinan dan kemelaratan. Ketika dia berumur 12 tahun, ibunya menjadi orang tua tunggal sejak ayahnya meninggal di penjara Jepang. "Ibu yang mengajari saya menghargai pelanggan dan menghargai waktu," ujarnya.
Saat berstatus mahasiswa Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), Ciputra dan teman-temannya mendirikan perusahaan konsultan Biro Arsitek Daya Tjipta. Namun, hal itu tidak memuaskan hasrat Ciputra karena hanya menunggu pihak lain memberi order. Akhirnya, Ciputra memutuskan untuk menjadi arsitek yang berjiwa entrepreneur, menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain, dengan mendirikan PT Pembangunan Jaya pada 1962.
Proyek pertama yang dikerjakan adalah mengubah kawasan Senen, yang dikenal kumuh, sarang pencopet, pelacuran, dan kemiskinan, menjadi kawasan yang tertib, bersih, dan modern. Berkat tangan dinginnya, sejak 1967, kawasan Senen berubah menjadi pusat perdagangan yang dipenuhi dengan ruko dan pusat perbelanjaan modern pertama dan terbaik di Jakarta pada waktu itu. "(Proyek) Senen adalah awal dari keberhasilan-keberhasilan berikutnya," ungkap Pak Ci.
Ancol merupakan proyek kedua yang paling fenomenal. Meski pada abad ke-17 Adrian Valckenier, gubernur jenderal Hindia Belanda saat itu, sudah merintis pembangunan rumah peristirahatan di tepi pantai Jakarta tersebut, namun pada zaman Jepang, kawasan itu mulai ditinggalkan. Dengan berbekal visi Bung Karno dan permintaan gubernur DKI saat itu, Ali Sadikin, yang meminta Ancol dijadikan setaraf dengan Disneyland-nya Amerika, maka Pak Ci pun mulai berkarya.
Hasilnya, Ancol masuk sepuluh besar kawasan wisata terbesar dunia dengan jumlah pengunjung 12 juta orang per tahun. Bukan hanya itu, PT Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan perusahaan patungan milik Pemerintah Daerah DKI (72 persen), PT Pembangunan Jaya (18 persen), dan publik (10 persen) mendapatkan laba bersih lebih dari Rp 144 miliar pada 2007. "Di rawa yang kotor dan berlumpur itu, saya melihat peluang besar," tegasnya.
Ciputra pula yang mendongkrak Pondok Indah menjadi kawasan elite seperti sekarang ini, dari sebelumnya sebuah kawasan kering dengan kebun karet yang tidak produktif. Kunci suksesnya adalah menyambungkan Jalan Radio Dalam dengan kawasan baru melalui Jalan Haji Nawi. Kunci sukses keduanya, meyakinkan pihak lain untuk berpartisipasi dalam hal investasi serta mendapatkan pinjaman dari bank. "Proyek Pondok Indah kita mulai dengan modal kapital nol," ungkapnya.
Di Surabaya, Ciputra juga berhasil membuat proyek fenomenal, yaitu Citra Raya, sebuah kawasan yang disebut sebagai The Singapore of Surabaya. Awalnya, lahan seluas 1.500 hektare di Surabaya Barat itu hanyalah lahan kosong yang kering sehingga sulit dikembangkan untuk usaha agraris. Dengan teknologi terapan, Ciputra mengalirkan air Sungai Brantas menuju empat kolam besar yang memiliki fasilitas pengolah air. Melalui bendera Ciputra Group, bisnis Ciputra juga melebar ke mancanegara. Sebuah proyek properti dibangun dan sukses terjual di Vietnam.
Rektor Universitas Tarumanagara Prof Dr Ir Dali S. Naga mengaku mengenal Ciputra sejak berpuluh tahun lalu. Dia melihat Ciputra sebagai sosok yang memiliki semangat kuat untuk berlomba dan bersaing sejak masih muda. Bahkan, menurut Dali, Ciputra pernah menjadi atlet lari Pekan Olahraga Nasional (PON). "Sampai sekarang semangat Pak Ci masih menggelora," jelasnya.
| |