|
|
Toleransi di Bali Perlu Dicontoh
SUARA PEMBARUAN DAILY/Indonesia Media
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi menegaskan, senyampang dengan perayaan Nyepi oleh umat Hindu di Bali pada Jumat (7/3), toleransi antarumat beragama di Pulau Dewata tersebut perlu dicontoh dan dikembangkan di daerah-daerah lain.
Di saat umat Hindu yang merupakan warga mayoritas melaksanakan ritual Nyepi, umat beragama, seperti Islam, tetap melaksanakan salat Jumat, meskipun dalam melantunkan azan dan kotbah tidak menggunakan pengeras suara. Demikian pula dengan umat Katolik yang melaksanakan ibadah Jalan Salib setiap Jumat menjelang Jumat Agung, juga tidak menggunakan instrumen musik saat menaikkan puji-pujian.
"Ini wujud toleransi beragama tanpa menghilangkan ajaran agama masing-masing. Meskipun tanpa pengeras suara, salat Jumat sesuai akidah tetap sah," ujar Hasyim, di Jakarta, Kamis (6/3).
Menurutnya, keseimbangan antara keyakinan sendiri dan bisa mengerti pendapat orang ini yang harus dijaga terus-menerus, guna merealisasikan pluralitas sebagai kekuatan bangsa yang mahadahsyat. "Bali, karena karakter wilayah ini dalam kondisi pluralitas agama yang relatif komplit, saya harap supaya kekuatan dan keindahan dari toleransi itu tetap dijaga. Sebab, orang yang bertoleransi itu juga menjadi sasaran gangguan dari pihak lain, dari dalam maupun dari luar," ujarnya mengingatkan.
Di Bali, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Denpasar, Ida Bagus Wiyana menegaskan, saat perayaan Nyepi, umat Muslim tetap diperbolehkan melaksanakan salat Jumat. Namun, diimbau agar umat agar berjalan kaki saat menuju masjid atau musala.
Sementara penggunaan pengeras suara, agar disesuaikan dengan kepentingan di dalam masjid tersebut. "Penggunaan pengeras suara tidak dilarang, hanya perlu disesuaikan volumenya," ujar Wiyana.
Menurutnya, perayaan Nyepi yang bersamaan dengan ritual menjalankan ibadah agama lain, merupakan ujian bagi umat beragama di Bali, sejauh mana sikap toleransi antarumat beragama dipupuk. Meskipun umat Hindu adalah warga mayoritas di Bali, Wiyana menolak adanya dikotomi mayoritas dan minoritas. "Yang lebih penting adalah menghormati keberagaman dan menjaga budaya Bali
Secara terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, H Roichan Muchlis mendukung kesepakatan yang dibuat FKUB. Menurutnya, berjalan kaki ke masjid saat Nyepi berlangsung tidak masalah. "Kalau ada keimanan, tidak ada yang berat," ujar Roichan.
| |