Seorang ibu Bergulat dengan Buaya 7 Meter

bangkapos.com /Indonesia Media

Warga Desa Mukut Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin, Sumatera Selatan, dibuat mencekam dan ketakutan ketika akan mandi dan melakukan aktivitas mencari ikan di Sungai Batang Hari wilayah ekstransmigrasi Banyuasin itu.

Betapa tidak. Dalam sebulan terakhir ini buaya liar sepanjang 7 meter yang mendiami Sungai Batang Hari wilayah Pulau Rimau itu terus menerus mengamuk dan menyerang warga.

Sedikitnya, sudah 4 warga menjadi korban keganasan hewan buas pemakan daging yang diperkirakan sudah berumur puluhan tahun tersebut. Empat warga Desa Mukut yang menjadi korban itu antara lain Putra Rojal (25) tewas setelah diseret buaya ketika sedang mandi pagi di Sungai Mukut, 2 Februari, seminggu kemudian sekitar tanggal 12 Februari 2008 Andira (11) dan Padai (40) juga tewas menjadi korban keganasan buaya liar itu.

Jasad ketiga korban hingga saat ini belum ditemukan, kendati keluarga korban bersama warga setempat sudah berusaha mencari jasad mereka dengan jalan menyusuri sungai tersebut. Namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

Dan korban terbaru adalah Trisnawati (25) bin Mulatif, pada Rabu, (5/3) sekitar pukul 06.00 WIB. Ketika itu ia sedang mandi di Sungai Mukut yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya.

Kendati selamat, Trisnawati mengalami luka robek bekas gigitan yang cukup parah, di kedua kakinya. Sedikitnya, ia harus menjalani 50 jahitan di RSUD Banyuasin.

Ibu Trisnawati, Rohima (40) bercerita, ketika sedang asyik mandi, tanpa diduga seekor buaya katak besar berwarna kehitaman dengan panjang sekitar 7 meter langsung menyambar kaki Trisnawati. Ia langsung menjerit minta tolong.

Si buaya menghempaskan tubuh Trisnawati sehingga timbul tenggelam di air. Teriakan Trisna didengar ibunya, Rohima. Melihat anaknya diseret buaya, Rohima berusaha menolong dengan jalan ikut menceburkan diri. Ia pun ikut bergulat dengan binatang buas pemakan daging itu.

Rohima memukul dan membuka mulut buaya dengan sekuat tenaga. Upayanya membuahkan hasil. Buaya lantas melepas gigitannya, sehingga Trisna terlepas.

Rohima ketika ditemui di ruang UDG RSUD Banyuasin masih nampak pucat pasi. Sesekali air matanya nampak meleleh melihat kondisi putri keduanya yang mengerang kesakitan dengan luka robek bekas gigitan di kedua kakinya.

Ia mengaku telah pasrah dan mengira putri keduanya itu tidak akan selamat, mengingat beberapa kali tubuh putrinya itu dihempas hingga masuk kedalam air oleh buaya tersebut.

Berbagai upaya untuk menangkap buaya itu sudah dilakukan, mulai dari mendatangkan paranormal yang didatangkan namun hasilnya sia-sia dan korban keganasan buaya masih terus terjadi.

Sementara itu, Dokter jaga UGD RSUD Banyuasin Dr Hery Saputra, yang merawat Trisna, mengatakan, itu merupakan kasus yang pertama kali ditangani RSUD Banyuasin. "Korban mengalami luka robek yang cukup serius, sedikitnya 50 jahitan yang harus dilakukan untuk menutupi luka-luka yang dialami Trisna," katanya.

       

 


FastCounter by bCentral