Budaya Jadi Perekat dan Penyambung 'Urat Malu' Bangsa

republika.co /Indonesia Media

Minimnya pemahaman terhadap budaya bangsa dan jiwa individualisme yang semakin menguat di kalangan masyarakat membuat Indonesia sulit untuk kembali nilai-nilai luhur.

"Kita perlu menyambung kembali 'urat malu'. Karena selama ini tidak lagi malu untuk korupsi, untuk mengambil hak orang lain," kata Raja Mempawah, Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim usai acara ritual budaya Robok-robok di Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, Rabu.

Menurut dia, budaya menjadi alat untuk menyambung kembali "urat malu" tersebut karena nilai-nilai luhur yang ditanamkan di dalamnya. Ia juga mengeluhkan sikap pemerintah terutama di masa Orde Baru yang mengenyampingkan peran keraton atau istana dengan alasan feodal serta ingin memisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Pada masa itu, rakyat biasa sulit mendapatkan pendidikan yang tinggi sehingga hanya kaum priyayi yang mendapat kesempatan. Ia menambahkan, Keraton Amantubillah Mempawah sejak awal berdiri di abad ke-17 telah mengusung sikap pembauran. Sejumlah panglima perang Opu Daeng Menambon, Raja Mempawah (1737 - 1767 M) berasal dari beragam etnis seperti Tionghoa, Melayu, dan Dayak.

Sementara Kris Biantoro, artis empat generasi yang menghadiri ritual budaya Robok-robok mengkritisi generasi muda yang tidak lagi mengenal budaya bangsa.
Gubernur Kalbar, Cornelis mengatakan, ketahanan budaya menjadi salah satu visi utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalbar tahun 2008-2013 yang tengah disusun pihak eksekutif.

Menurut Cornelis, setiap suku bangsa harus mampu mengembangkan diri. "Budaya menjadi alat pemersatu bangsa. Kalau tidak bersatu, negara akan hancur," kata Cornelis.

Robok-robok digelar setiap Rabu terakhir di bulan Safar untuk memperingati napak tilas kedatangan Opu Daeng Manambon ketika tiba di Sungai Mempawah sekitar tahun 1736.


Tidak hanya di Kuala Mempawah yang berjarak 76 kilometer sebelah utara Pontianak itu, ritual serupa juga dilakukan warga yang menetap di kawasan pesisir Kalbar seperti di Kecamatan Sungai Kakap (Kubu Raya), Kecamatan Siantan (Kabupaten Pontianak) dan Kecamatan Segedong (Kabupaten Pontianak).

Untuk masyarakat biasa, Rabu terakhir di bulan Safar diperingati dengan membaca doa selamat di halaman rumah atau ruang terbuka yang dilanjutkan makan "seprahan", yakni makan bersama-sama dengan menu utama ketupat.

       

 


FastCounter by bCentral