Usaha Resto di Negeri Perancis – Bagian ke-17B

Indonesia Media

Ada rombongan empat-lima orang, duduk mengambil tempat di ruangan sal
bawah(tanah). Mereka wanita dan pria. Mana kami mengira akan terjadi
kesalahan atau juga penipuan, tetapi ternyata mereka hanya membayar buat dua
orang, yang lainnya tidak membayar. Katakanlah agar jangan berburuk
sangka, mereka lupa. Tetapi tetap saja ada kemungkinan memang sengaja
menipu.

Ketika sedang sangat ramainya tamu, biasanya pada Jumat dan Sabtu malam, kami
sering menolak tamu, karena tak ada tempat, penuh. Umumnya ada satu
periode, hampir setiap Jumat dan Sabtu malam, kami selalu menolak tamu, karena
tak ada tempat. Ketika masa-masa begitulah, adakalanya kami "kebobolan".
Beberapa tamu, lalu meninggalkan ruangan tanpa bayar! Kami tak bisa
mengontrolnya satu demi satu, dan lagi kami bekerja berdasarkan saling
percaya, bukan dengan mata melotot atau melirik mengawasi dengan curiga.
Biarpun selalu harus teliti, dan waspada, tetapi sikap sopan dan ramah dan
baik, serta hangat, sangat menuntut kami bekerja secara demikian.

Jadi kalau memang ada niat-ingsun buat menipu kami, maka kamilah yang paling
empuk untuk ditipu! Namun demikian dapat kami katakan, selama belasan tahun
resto kami berjalan, penipuan demikian sangat sedikit. Dan menurut
penyelidikan kami, setiap restopun akan mengalami hal-hal begituan. Yang
paling harus diperhatikan, mengapa ada penipuan itu? Mungkin dirikita punya
kekurangan dan kesalahan, mungkin ada orang tidak suka akan kita, mungkin
orang benci akan kita.

Penipuan atau kelalaian orang lain maupun dirikita, pada umumnya sangat sedikit, takkan sampai merugikan, takkan sampai sekian persen. Kelalain atau
penipuan itu umumnya, karena cheque kosong, atau tidak ditandatangani, atau
palsu, atau uangnya kurang atau "lari" meninggalkan tempat-duduk, tanpa
bayar.

Ada yang jujur dan mengharukan. Seseorang datang dan menyatakan secara
terusterang bahwa dirinya hanya punya uang sekian, dan ini, katanya sambil
memperlihatkan uangnya kepada kami yang sedang bertugas. Dengan uang
sejumah sekian, saya mau makan. Tolonglah atur dan sediakan makanan yang
seharga uang itu. Saya makan apa saja, asal tidak daging babi, katanya. Kami
katakan pada umumnya kami semua beragama Islam, dan kami tidak menjual
makanan itu. Setelah menanyakan apa saja yang kira-kira disukainya, maka
kami sediakan makanan seperti apa pesanannya semula. Menurut perhitungan
harga, sebenarnya yang kami sediakan jauh lebih mahal harganya dari uangnya
yang ada. Dan dia puas dan menyatakan sangat berterimakasih.

Ada juga seorang tamu. Kelihatannya sulit sekali menghitung uangnya, karena
mungkin recehan melulu. Dia memesan makanan. Tetapi hanya semangkuk sup
dengan sepiring nasi putih saja, lalu acar. Makanan begini sangat murah
lagipula apasih gizinya. Dan pemesanan begini sangat langka, bahkan boleh
dikatakan takkan dilakukan orang normal! Kami tanyakan mengapa memesan
dengan cara demikian. Dan pelanggan itu menjawab dengan sedikit mendekatkan
mulutnya ke telinga kami, agak pelan dan agak malu, bahwa dirinya tak punya
uang. Nah, beres kalau begitu, kata kami. Dan kepadanya kami sajikan makanan
yang ada dagingnya, yang harganya di atas uangnya yang ada. Dan pelanggan
itu sangat puas. Pelanggan ini rupanya ketika itu sedang jadi pengangguran.
Dan setelah dia mendapat pekerjaan tetap, ternyata dia tak lupa kembali
makan di resto kami. Dan dia dapat tersenyum, tertawa dan bergurau dengan
kami. Tidak lagi mendekatkan mulutnya ke telinga kami mengucapkan kata-kata
yang sangat pelan diucapkan dan agak malu-malu. Semoga pelanggan kami ini
akan terus aman tenteram dengan pekerjaan-tetapnya, jangan sampai jadi
pengangguran lagi.

Paris 29 Maret 1999

 

       

 


FastCounter by bCentral