MENANGANI Masalah KORUPSI
ANTARA/Indonesia Media
Gebrakan Kapolda Jabar Susno Duadji, bisa diperkirakan, akan menimbulkan
kerutan kening pada mereka-mereka yang selama puluhan tahun belakangan
ini, hidup bermewah-mewah, asyik bergelimang dalam kultur korupsi,
kolusi dan nepotisme Orba. Siapa mereka itu, kalau bukan para petinggi
pejabat dan elite Orba serta kroni-kroni mereka, para pengusaha yang
berkubang bersama dalam lumpur KKN dinasti penguasa Orba. Mereka itu
berada di tingkat paling atas, terus menjalar ke bawah. Mereka itulah
yang sedikit banyak tersentak. Bisa diduga tersirat dalam fikiran
mereka-mereka itu: Mau apa Kapolda Jabar ini?
* * *
Mengikuti gebrakan Kapolda Jabar Irjen Drs Susno Duadji langsung aku
teringat pada pembicaraanku dengan mendiang Ruslan Abdulgani ketika
berkunjung ke kantor beliau di Pejambon, Jakarta beberapa tahun yang
lalu. Begitu kami bertemu dan bersalaman, Cak Ruslan dengan wajah puas,
membanggakan gedung kantornya. Dulunya bekas gedung 'Volksraad' zaman
Hindia Belanda, kata Cak Rus. 'Ini adalah pemberian Gus Dur yang amat
berharga ', katanya memuji Abdurrahman Wahid, yang ketika itu menjabat
Presiden RI. Aku bertanya pada Cak Rus, apa saja hal-hal baik dan
penting yang dilakukan oleh Gus Dur sejak beliau jadi presiden. Dalam
suasana santai tapi serius, Cak Ruslan menyatakan bahwa: 'Salah satu
kebijakan Gus Dur yang teramat penting ialah bahwa Gus Dur secara nyata
melepaskan Kepolisian dari TNI. Kepolisian tidak lagi merupakan bagian
dari TNI. Sekarang ini, polisilah yang bertanggungjawab atas keamanan
dalam negeri. Mereka bisa bertindak tanpa harus tanya dulu kepada TNI.
Ini punya arti penting sekali', demikian Cak Ruslan menekankan lagi.
* * *
Bagiku yang menarik perhatian dan menimbulkan rasa simpati ialah, cara
yang ditempuh oleh Susno Duadji. Cara yang tidak gampang, kalau tidak
hendak dikatakan yang paling sulit. Yaitu dengan operasi penanganan
korupsi -- Dengan memulainya di KALANGAN SENDIRI. Kapolda Jabar mulai
dengan melakukan 'Bedah Diri'. Halmana berarti melakukan 'Pembersihan'
di 'Kalangan Sendiri' terlebih dulu..
Sebelum menjabat Kapolda Jabar, Susno Duadji, memang tugasnya a.l. dalam
rangka pemberantasan korupsi. Dalam kata-katanya sendiri: ' . . .
Terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan
kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur
bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK (Pusat
Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). Itulah tugas saya yang
paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan
menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin'.
Perhatikan kata-kata Susno Duadji: 'Itulah tugas saya yang paling
berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri,
dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin'. Coba
lihat, -- suatu kepuasan batin bagi seorang Kapolda Jabar, bisa
menjebloskan menteri, atau pejabat tinggi lainnya yang korup tentunya,
dan menjebloskannya ke dalam penjara dengan sendirinya sesudah melalui
proses pengadilan yang wajar. Semoga tokoh generasi muda ini, bicara
dengan segala kesungguhan dan akan benar-benar melakukannya dalam
tindakan nyata apa yang dijanjikan dan dinyatakan dalam tekad untuk
MEMBERANTAS KORUPSI.
'BERSIHKANLAH' dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Aku ingat
kata-kata yang pernah diucapkan oleh mantan Presiden Megawati
Sukarnoputri, tapi lupa apakah ketika mengucapkan itu, beliau masih
menjabat atau tidak. Ketika itu pernah Megawati menyatakan bahwa,
Kejaksaan Agung harus 'membenahi diri' terlebih dulu. Karena di situlah
berlangsung praktek korupsi. Pernyataan Mega sedikit ada samanya dengan
logika Susno Duadji. Bersihkan dulu aparat sendiri, baru bertindak
terhadap yang diluar.
Sayang, rupanya Kejaksaan Agung belum sampai ke situ. Mungkin 'ciutnya
semangat' serta 'macetnya' rancana Kejagung untuk ikut melakukan
pemberantsan korupsi, disebabkan kadung menjadi kecut, hilang
semangatnya, oleh peristiwa ditembak matinya pada tg 26 Juli 2001, di
tengah jalan, Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita. Kartasasmita juga
menjabat Ketua Muda Bidang Mahkamah Agung RI. Pembunuhnya adalah empat
orang asasin berkendaraan sepeda motor.
Tanggapan umum ialah bahwa Hakim Agung Kartasasmita dibunuh karena
berani menjatuhkan vonis hukuman 18 bulan penjara terhadap Tommy Suharto
yang tersangkut kasus tukar guling tanah milik Bulog dng PT Goro Batara
Sakti. Kemudian ternyata memang Tommy Suharto yang terlibat (dalang)
kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita. Karena Hakim Agung
Kartasasmita berani bertindak tarhadap kasus korupsi keluarga Cendana.
Untuk pembunuhan terhadap seorang Hakim Agung RI itu Tommy dijatuhi
hukuman 15 tahun penjara. Sungguh ajaib, empat tahun kemudian Tommy
Suharto bebas.
* * *
Maksudku di sini sekadar mengingatkan Kapolda Jabar Irjen Susno Duadji,
agar berhati-hati dan waspada. Karena apa yang ia sedang lakukan itu
adalah seperti memasuki 'sarang harimau'. Namun, seperti juga yang
diyakininya sendiri, suatu tindakan yang dilakukan demi kepentingan
rakyat, pasti akan dapat dukungan rakyat.
Jadi, jangan takut, jangan kecil hati, MAJU TERUS PANTANG MUNDUR.
Bagaimana seyogianya sikap yang harus diambil oleh pemerintah pusat di
JAKARTA. Apa yang harus dilakukan oleh Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla? Pasti masyrakat dan semua orang yang
peduli dengan pemberantasan korupsi yang sudah membudaya di negeri kita,
berharap agar SBY dan JK memberikan sambutan positif terhadap inisiatif
Kapolda Jabar dalam usahanya membersihkan barisan sendiri terlebih
dahulu, dan kemudian bertindak keluar.
Tidak ada jalan lain yang lebih baik, selain, memberikan dukungan, dan
bantuan sepenuhnya di segala bidang kepada Kapolda Jabar. Selain itu mensosialisasikan cara Kapolda Jabar, yaitu
'memberishkan diri terlebih dulu', kepada lembaga-lembaga kenegaraan
lainnya.
Di segi lain, patut diingat dan diperhatikan, nasib para anggota
kepolisian, terutama di lapisan bawahan, yang hidup pas-pasan. Gaji
mereka di lapisan bawah umumnya masih belum mencukupi untuk menghidupi
keluarga sendiri. Maka terjadilah praktek anggota-anggota kepolisian
selama ini. yang demi bisa menyalanya api di dapur masing-masing, yah,
terlibatlah mereka dengan berbagai praktek 'pungli' dan tindakan korupsi
lainnya.
|