Nellie Lake Second Trip # 8

Jusni Hilwan/Indonesia Media

Masakan siang di hari Sabtu itu adalah tugas si SK, yakni pita dengan bulgogi

Korea yang memang enak punya setelah daku kebagian mencicipinya. Ketika kami

selama beberapa hari terakhir ngerek makanan, tas berisi bulgogi dan pita

itu adalah yang paling berat, sekitar 10 kg katanya. Bulgoginya saja sudah

2 kilo, kata SK berkali-kali ke saya. Namun, apa yang terjadi ketika ia

sudah mendarat dengan tugas mulia menyiapkan makan siang? Ia membagi-bagikan

bulgogi itu lupa lautan alias sejibunan kepada mereka-mereka yang sudah

tiba bersamanya. Ia tak ingat bahwa daging 2 kilo itu perlu dibagi 18 orang.

Akibatnya ketika saya dan lainnya tiba di angkatan terakhir, jumlah bulgogi

sudah mengenaskan. Sedemikian sehingga Bang Roli konon cuma kebagian kuahnya,

padahal ia yang paling semangat ngerek tas makanannya SK. Nasib nasib Bang:-).

Tapi maklum dah prens, begitulah kalau yang namanya bujangan, tidak punya

isteri yang bisa disalahin :-), eh yang bisa dimintakan bantu bagiin. Next

time better SK, maksudnya kalau kau udah punya bini. :-)

 

Acara sesiangan sesorean di Nellie Lake tidak banyak variasinya kecuali

bersemangat menunggu dinner yang kami tahu menunya pasti uenak, nasi dengan

dendeng balado a la Janti yang juga sudah terkenal sedunia. Engga percaya?

Google-in Balado Janti dan pasti keluar di halaman pertama. Bagusnya kemping

untuk sahaya yang makannya dikit, meski kebagian jatah setengah bulgogi :-),

saya mah ga lapar lapar banget ketika kami main truf menunggu dinner. Ketiga

prenku lainnya sebetulnya sudah lapar tetapi mereka gengsi alias tunggu

dipanggil makan. Kog ga dipanggil-panggil nih, padahal sudah jam 6 sore dan

sebagian sudah pada mulai makan. Bang Herry lalu ngajarin, kalau sampai

dipanggil kita akan tanya "menunya apaan sih?", pura-pura engga semangat :-).

Eh tidak lama isteriku nongol di tempat permainan kami yang letaknya memang

sedikit jauh dari "dining room". Ia tahu gengsian kami dan berkata, "Engga

bakalan kalian dipanggil" (sebab ia buka rahasia ke Janti setelah mendengar

strategi Bang Herry). Terpaksalah, dengan nyengir-nyengir bukan kuda, kami

samperin Janti sambil membawa omprengan kami dan minta jatah makan. Kali ini

so pasti rakyat kebagian jumlah dendeng yang cukup sebab potongannya gede-gede

sehingga saya cuma perlu ambil 3 potong padahal dapat jatah 4. Esok harinya,

sisa dendengku itu maupun dari orang yang lain dipakai dijadikan nasi goreng

a la Nellie yang uenak tenan, kata para penggasaknya.

Salah satu acara yang tadinya kurencanakan di Sabtu siang itu adalah belajar

canoe rescue, yakni kalau sampai kanu kita terbalik, bagaimana cara

menyelamatkan diri maupun terutama, si kanu :-). Pan manusia Indonesia tiada

harganya lantaran masih ada 220 juta lainnya. Tetapi air di Nellie keburu

dingin, rakyat demenan main truf, sehingga hanya guru Awi dan murid Adhi yang

semangat mengajari dan belajar canoe rescue. Ga pa pa, yang penting mereka

sudah melihat bagaimana caranya, tinggal praktek doang. Pada prinsipnya

kanu yang terbalik kita kosongkan airnya dengan bantuan satu kanu lainnya,

yakni dinaikkan ke kanu itu. Setelah air kosong, kanu dibalikkan lagi untuk

ditumpaki oleh dua orang yang tadinya kecebur ke danau. As simple as that,

hanya kalau sampai terjadi benaran, moga-moga si tercebur tidak panik dan

mampu melakukannya, Tuhan atau dewa pelindung canoeist bersamanya.

 

Hari Sabtu malam Minggu itu adalah hari yang rileks sebab esoknya kita cuma

akan hiking 4 km total pp tanpa beban ke Grace Lake. Jadi sampai malam

anak-anak bermain api unggun dan kita ibu bapak bercengkerama sambil tiduran

di atas batu quartz. Sesekali tampak satelit lewat di atas kepala kita,

jarang-jarang meteor yang turun menghunjam ke bumi. Jawaban bapak rookies

atas pertanyaan Bang Herry, menarik kita semua menyimaknya. Inilah interior

campingnya yang pertama sejak ia pindah ke Kanada bersama keluarganya.

Ia merasa selama ini hidupnya sudah kurang belens, maksudnya bekerja dan

bekerja terus, lupa akan rekreasi yang intensitasnya tinggi seperti trip ke

Nellie Lake kami ini. Ia memang mujur, ketiga anaknya mendapat teman 4 anak

remaja lainnya alias mereka engga boring-boring banget. Tetapi itu bukan hal

yang utama. Kemampuannya menyediakan waktunya bagi anak-anaknya dan terus

berada bersama-sama, mengalami susah dan senang 5 hari 4 malam, adalah

suatu karunia. Tidak semua bapak mau atau pun bisa demikian, jangan dibilang

ibu-ibu Indo yang umumnya lebih demenan syoping :-). Menggaungi komentar

Benny, way to go Angku Hartoni :-). Sampai kisah berikutnya.

... (bersambung) ...

 

       

 


FastCounter by bCentral