Suciwati Minta SBY Tangkap Muchdi

Ramadhian Fadillah /Indonesia Media

Istri mantan aktivis HAM almarhum Munir, Suciwati, tak kenal mencari keadilan untuk suaminya yang terbunuh secara tragis di pesawat Garuda. Janda dua anak itu kemarin mendesak Presiden SBY untuk segera menetapkan status mantan Deputi Penggalangan BIN Muchdi Purwopranjono (Muchdi P.R.) sebagai tersangka.

 

"Saya secara pribadi mendorong presiden untuk memerintahkan adanya penyelidikan terhadapnya (Muchdi), kalau perlu langsung penangkapan," ujar Suciwati dalam jumpa pers bersama KASUM (Komite Aksi Solidaritas untuk Munir) di Kantor Kontras, Jakarta, kemarin (19/2). Sejumlah anggota KASUM yang hadir kemarin adalah Asfinawati, Kartika Rahayu, Choirul Anam, John Muhamad, dan Edwin Partoli.

 

Menurut Suciwati, misteri kasus pembunuhan suaminya yang diracun dengan arsenik pada 2004 itu kini semakin gamblang. Keterangan dari tersangka mantan Dirut Garuda Indra Setiawan beserta Budi Santoso sebagai saksi di persidangan kasus Munir semakin menguatkan keterlibatan Muchdi yang juga mantan komandan Kopassus itu. "Dukungan presiden bisa memperkuat kekuatan Polri untuk bisa memeriksa dia," ujar Suci.

 

Choirul Anam dari divisi hukum KASUM menambahkan, penyelidikan terhadap Muchdi P.R. harus segera dilakukan. Sebagai seorang mantan perwira tinggi, tidak tertutup kemungkinan bahwa Muchdi akan melakukan lobi-lobi tingkat elite untuk menghambat penetapan dirinya sebagai tersangka. "Persoalan di sini adalah koneksi Muchdi yang kuat bisa menghentikan aturan hukum yang ada di tingkat lapangan," ujar Choirul.

 

Selain persoalan klasik tersebut, KASUM menilai Muchdi adalah salah satu penghambat jalannya persidangan kasus Munir. Beberapa keterangan Muchdi saat dipanggil saksi di persidangan dianggap menyesatkan. Di antaranya adalah pengakuan dia yang tidak merasa kenal dengan Polly dan mengakui nomor HP miliknya dalam print out, namun tidak merasa dirinya menelepon. Padahal, empat saksi lain yang dipanggil saat itu -Indra, Budi, M As’ad, dan Raden Padma- mengakui adanya relasi antara Muchdi dan Polly. "Logikanya sederhana, kebohongan (Muchdi) dalam persidangan tentu patut dicurigai," ujar Asfinawati, aktivis KASUM bidang hukum lainnya.

 

Suci menambahkan, yang diupayakan itu sebenarnya bukan untuk mengejar kemenangan dalam kasus kematian suaminya. Bagi dia, yang terpenting saat ini adalah semua yang terlibat dalam pembunuhan Munir segera diperiksa untuk mendapatkan kejelasan secara hukum. "Menang kalah tidak penting. Bagi saya, pengungkapan kebenaran atas kasus ini yang terpenting," ujar Suci.

 

       

 


FastCounter by bCentral