MISSION TRIP TO UGANDA – Bagian ke-1
Butce
/ Indonesia Media
“By the way, saya baru dapat kabar bahwa baru saja terjadi Ebola outbreak(wabah ) di Uganda. Beberapa dokter dan perawat yang merawat pasien tsb ikut meninggal..Sangat contagious, menular melalui sentuhan kulit dan 90 % orang yang terkena akan meninggal dalam waktu 2 minggu . Belum ada vaccine dan obatnya. Dan jarak outbreaknya tidak jauh dari tempat KKR( kebaktian kebangungan rohani dilapangan) dan seminar kita. ..Pikirkan baik-baik..no pressure..dan saya mengerti kalo ada yang mau mengundurkan diri. Walaupun saya sendiri tetap akan pergi.” Dengan kata-kata itu pastor Danny Hanafi menutup khotbahnya. Sejenak semua jemaat terdiam. Terutama gua.
Padahal untuk mission trip ini, saya baru saja membeli the cheapest ticket dari LA ke Uganda seharga $1900 dengan konswekensi melaui route yang jauh dan harus ganti pesawat and no refund. The regular price $10.000..On top of it , kita masing-masing membayar $1500 untuk biaya disana.Trip selama 10 hari ,kerja keras dan safari cuman 1 hari. Teman-teman dekat saya lansung rame-rame menyuruh mencancel aja.
Si Olivia dengan sok taunya bilangin saya begini,
“ Ko ..bukannya apa..kalo Ko Den ( Daniel Hanafi) pasti dicover oleh malaikat..tapi lo kan belum tentu kali motivasi kamu untuk safari aja…”
Dan untuk mission trip ini,saya diharuskan untuk membawa,menginstal dan mengoperasikan lighting. Bayangin aja 6 lampu sorot dengan berat 90 lb, lampu-lampu high-tech ini bisa mengkombinasikan 250 warna. Dan harus dikendalikan dengan computer.Padahal..untuk menginstalkan VCR aja saya harus panggil teman ,sekarang saya haru instalasi lampu dan jalankan program computer yang belum pernah saya lihat.
Dalam pikiran saya..ada apa sich repot-repot bawa lampu..kalo mau khotbah..yach khotbah aja..lampu sorot biasakan juga bisa….Gimana kalo lower back saya kambuh kan bisa barabe.
Rasanya seumur-umur trip ke Africa ini yang paling tidak ceng li. Udah ongkosnya mahal, bisa mati kena penyakit,suruh kerja keras dan suruh bawa barang-barang berat. Dan safarinya cuman 1 hari..heh…saya maunya cancel aja..
Tapi malu juga. Al..teman kita orang Iran yang baru bertobat dan join IFGF, walaupun business real estatenya lagi susah, tetap berapi-api untuk ikut. Bahkan dia memutuskan untuk stop di Bangkok untuk ikut membantu mengopoperasi bibir sumbing orang –orang yg tidak mampu. Karena dia juga seorang dokter ahli bedah. Rencananya dia akan beri seminar tentang caregroup.
Pastor Tony Pramono yang kerja dicancer department Cedar Sinai dan istrinya Frida dengan tenangnya menyatakan tetap akan pergi,walaupun sempat ragu-ragu karena ibunya tiba-tiba kena stroke dan anak satu-satu mereka tiba-tiba sakit demam. Dan akhirnya hanya istrinya Fida yang tetap ikut. Kemenakan pak Radius Prawiro ini dibesarkan dalam kehidupan yang selalu berkecukupan dan sangat concern akan makanan dan kebersihan. Diam-diam dia ke Costco beli protein bar, rencananya that is the only food yang akan dia makan.
Dia kebagian seminar mengenai pendidikan anak dan sekolah minggu.
Si Adit, jangan tertipu dengan penampilan yang low profile dan sederhana.He is multi talented, Disamping master dalam international relationship, permainan organ dan keyboardnya luar bisa,bisa menirukan suara para penyanyi terutama Michael Jakson, bisa nyanyi baritone dan tenor bahkan seriosa hebat ndak. Dan yang paling penting bagi saya dia ngerti technical dan program computer utk lighting. Kendalanya orang tuanya lagi vacation di New York,jadi dia harus terbang ke New York baru dari sana ke Brussell , Kenya dan ke Uganda.
Pastor Arif, this handsome pastor memang suka ngajar dan kebagian pekerjaan yang lebih berat. Terpisah dari team dia harus ke Congo,negara yang lagi perang dengan pemberontak dan yang terkenal dengan child soldier..Anak-anak kecil yang diculik dan dijadikan tentara. Konon ibu-ibu Africa setelah seminar rame-rame datangi dia dan memberi dia ciuman terimakasih. Kemudian satu-satu minta difoto ama dia .”Mereka menjuluki dia Jacky…” Tentunya Ko Den (Daniel Hanafi ) complain, “ Oh…that is the customs? Kok gua ndak pernah dicium ya?”
Pastor Daniel hanafi ndak usah dibilang lah..He is a motivator speaker dan khotbahnya selalu menarik. Dan of course penggerak dari semua ini. Kesukaaannya pergi ke daerah-daerah bahaya, kalau bisa yang belum pernah dikunjungi orang, khotbah dan doain orang sakit..Udah berapa kali mau dibakar hidup-hidup,mau dipotong dan disembelih orang.
“So cik May(his wife) bilang apa ko Den…? “ Tanya saya.” Oh..dia tenang..tenang saja..she believe in me….” Sahutnya Hhhhh no comment lah…
Dan yang paling mengharukan adalah Charlina. Peserta paling muda baru berumur 20 tahun ini sangat luar biasa. Walaupun papanya termasuk orang terkaya di Indo dan dia bisa vacation ke Aspen, setelah mengetahui bahwa ada wabah Ebola malah menyatakan untuk ikut.
“ Pa..kitakan bisa mati dimana saja….” Sahutnya menenangkan orang tuanya. Setelah merayakan natal dengan papa mamanya di rumahnya di Singapore ,dia terbang ke Dubai dan akhirnya ke Uganda. Dia kebagian sebagai worship leader karena suaranya bagus dan kebagian mengajar seminar praise and worship.
So, dengan berat hati saya berangkat juga. Karena semua berangkat dengan different schedule dan connection jadi saya berangkat sendirian. Tentunya dengan pesan-pesan terakhir ke teman-teman..”Andaikan something happen to koko ……this is my mom phone number” sahut saya dengan pandangan sedih, rasanya mau mati gitu.
Dan bisa diterka deh..gua kena denda karena overweight…oleh United airlines di LA dan Kenya airlines di London. Rasanya saya pengen tinggalin aja lampunya itu…
(Bersambung ke edisi berikutnya)
|