|
|
Imlek dan Berkah Kue Keranjang
Yuyuk Sugarman
/ Indonesia Media
Warga Tionghoa merayakan tahun baru Imlek 2557 yang jatuh pada 07 Pebruari 2008. Pada awalnya, Imlek atau Sin Tjia merupakan perayaan yang dilakukan para petani di China yang biasanya jatuh pada tanggal 1 di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini berkaitan dengan pesta petani menyambut musim semi.
Para petani di China ini dalam menyambut Imlek biasanya melakukan sembahyang kepada Sang Pencipta dan mengadakan perayaan Cap Go Meh. Semua ini dilakukan sebagai perwujudan syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak.
Dalam menyambut Imlek, mereka menyajikan berbagai jenis makanan, biasanya 12 jenis, untuk menjamu leluhur. Selain itu, mereka juga menggunakan hari itu sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Kedua belas macam makanan atau kue ini mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12.
Di China, hidangan yang wajib adalah mi panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti ”kemakmuran”, ”panjang umur”, ”keselamatan” atau ”kebahagiaan”, dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.
Ada suatu kepercayaan bahwa kue-kue yang dihidangkan lebih manis daripada biasanya. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu, dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu sembahyang menyambut datangnya tahun baru Imlek. Maka, tidak heran jika banyak pengusaha kue atau roti yang membuat kue keranjang untuk dijual secara partai kecil atau partai besar, bahkan banyak yang menerima pesanan.
“Sudah menjadi tradisi, setiap perayaan Imlek harus ada kue keranjang. Keberadaan kue keranjang sama dengan keberadaan ketupat dan opor dalam perayaan lebaran umat Islam.
Untuk menghasilkan kue keranjang, dibutuhkan proses cukup lama. Setelah tepung ketan dan gula diadoni, lantas dikukus selama delapan jam, tidak lebih dan tidak kurang. Lebih dari delapan jam hasilnya terlalu keras. Kurang dari delapan jam kuenya tidak tahan lama. Setelah itu, kue yang telah matang didinginkan dan dicetak dalam sebuah kaleng yang telah disiapkan, lalu diangin-anginkan, bahkan bila perlu dijemur.
(sumber:ys/suarapembaruan/edllsda99/IM)
| |