|
|
PASTI SELAMAT! BUKAN SEMOGA!
Pdt. Eddy Fance / Indonesia Media
Suatu kali seseorang bertanya kepada saya (sebenarnya sambil “menuding”), dengan nada tinggi: “Kok orang Kristen sombong banget yah? Soal keselamatan, pakai ‘pasti-pastian’ segala. Kan lebih rendah hati kalau bilang ‘mudah-mudahan’ diselamatkan. Atau ‘semoga’ diselamatkan, atau ‘insya Allah’ diselamatkan”.
Dengan tenang dan sambil tersenyum saya menjawabnya: “Oh ya? Yang sombong siapa? Soalnya, yang bilang ‘pasti’ bukan si orang Kristen itu, tetapi Tuhanlah yang mengatakannya dalam FirmanNya”.
“Ya, sama saja. Kalau dalam agama saya, yang pasti-pasti begitu sama dengan dosa menyombongkan diri”, balasnya masih dengan suara sengit.
Masih dengan tersenyum dan tenang saya menyahutnya: “Begini saja deh. Saya coba berikan ilustrasi. Misalkan ada dua sorga. Pertama, coba bayangkan sorganya orang-orang non-Kristen, yang menurut Anda tidak sombong atau rendah hati itu. Ketika orang-orang bertemu nanti di sana, tentunya akan saling bersapa tanya, bukan? Si A bertanya kepada teman-temannya: “Eh, ngomong-ngomong apa yang membuat kalian bisa masuk ke sorga ini? Coba ceritakan kira-kira apa faktor penyebabnya?”
Si B menjawab dengan percaya diri: “Wah, untung pahala saya cukup banyak. Ketika di dunia, saya rajin membantu fakir miskin, membangun rumah ibadah, dan setia beribadah”.
Si C ikut menyeletuk bangga: “Saya sih beruntung, bisa naik haji tiga kali semasih saya hidup. Semua ini menambah kesucian dan pahala saya. Ketika ‘ditimbang’, ternyata dosa saya lebih ringan”.
Si C yang tidak mau kalah, ikut menepuk dadanya dan berkata: “Puasanya dong, saya ngak pernah lepas, dan zakat saya pun tak pernah luput. Saya kira itu kuncinya”.
Si D tenang namun dengan kepala sedikit terangkat dan mantap: “Saya yakin ketekunan saya bersembahyang setiap hari itulah yang menjadi faktor penentu. Saya ngak pernah lalai. Ditambah dengan berbagai hukum yang wajib saya tidak pernah lupa. Itulah yang membuat saya diterima di sini”.
Si E tidak mau ketinggalan. Dia mengangkat tangan dan menyambung dengan suara lantang: “Bung, menurut saya usaha keras dalam menambah banyak kebajikan, menyucikan diri lewat meditasi, puasa, mutih, hanya makan sayuran, menolak makanan ‘haram’, dan menghindari kejahatan dan perbuatan amoral. Itulah yang menambah ‘point’ saya untuk diterima di sini”.
Si F juga ikut nimbrung sambil berkacak pinggang: “Terus terang, saya cuma pegang satu hal. Berusaha untuk mengontrol nafsu, walaupun tidak mungkin 100% sempurna. Karena nafsulah yang membawa penderitaan dan kesusahan, bukan? Ketika di dunia saya berusaha keras untuk mengontrol nafsu keserakahan, nafsu seksual, nafsu mabuk-mabukan, nafsu kemarahan, kebencian, dan berbagai nafsu kedagingan lainnya”.
Coba Anda bayangkan, kesimpulannya, pastilah masing-masing orang akan membanggakan kehebatannya atau keberhasilan usahanya atau perjuangannya sehingga dia bisa masuk ke sorga, bukan? Karena mereka yakin untuk dapat masuk ke sorga haruslah berusaha sendiri, sekuat tenaga, pikiran, dan usaha apa saja. Entah itu ketekunan sembahyang, membayar zakat, berbuat kebaikan, memberi sedekah, menyucikan diri sendiri, bermeditasi, mengontrol nafsu, menyiksa diri, dan memenuhi berbagai “aturan agama” yang semuanya berhubungan dengan “usaha”nya sendiri.
Nah, sekarang coba bayangkan di sorganya orang Kristen. Ketika ditanya mengapa Anda ada disini? Pastilah setiap orang akan menjawab dengan penuh hormat: “Wah, sebenarnya saya tidak layak masuk ke sini. Saya penuh dosa dan kenajisan, namun Kristus telah membayar hutang dosa saya diatas kayu salib. Karena anugrah Alah dalam Kristuslah, saya diijinkan masuk ke sini”.
Yang lainnya akan berkata dengan penuh syukur: “Untung ada Yesus Kristus yang mengasihi saya dan mengampuni dosa saya, kalau tidak pasti saya sudah binasa”.
Yang lainnya lagi juga akan menjawab dengan rendah hati: “Semuanya karena belas kasih dan kebaikan Yesus Kristus dan hanya jasa Kristuslah yang menggantikan hukuman dosa saya. Saya tidak ada andil apa-apa. Terpujilah Dia!”
Kesimpulannya, saya yakin semua orang akan mengembalikan segala pujian, hormat, kemuliaan, syukur, dan “kredit” hanya kepada Yesus Kristus yang sudah mati menggantikan hukuman dosa bagi mereka yang mau percaya kepadaNya (lihat: I Petrus 2:24; Yohanes 1:12). Dan, kebangkitan Kristus menjadi jaminan atau garansi keselamatan yang pasti itu (lihat: I Korintus 15:14). Karena memang jasa, usaha, dan kebaikan manusia tidak ada “tempat” dalam mendapatkan Kerajaan Sorga yang indah, mulia, suci, dan kekal selama-lamanya. Usaha manusia yang sudah berdosa itu sia-sia adanya untuk mencapai keselamatan lewat kekuatan sendiri (lihat: Roma 3;23; Efesus 2:8-9). Bagaiman mungkin manusia berdosa bisa menyucikan diri sendiri? Mustahil!
Selanjutnya, saya bertanya kepada orang yang tersebut: “Sekarang, permisi tanya, siapakah yang lebih sombong? Orang non-Kristen yang mengandalkan jasanya sendiri, atau orang Kristen yang mengandalkan jasanya Tuhan dalalm keselamatannya? Walaupun di bibir, mereka dapat berkata: ‘semoga’, atau ‘mudah-mudahan’, atau ‘insya Allah’, namun dalam praktiknya kan mengandalkan jasa, usaha dan kebaikan diri sendiri, kan? Coba, siapa yang lebih sombong?”
Dengan suara rendah dan kepala manggut-manggut, si penanya itu kemudian menjawab: “Iya, benar bapak. Yang sombong tentu yang mengandalkan jasanya sendiri”.
Saudara, kepastian keselamatan bukanlah menunjukkan kehebatan kita yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Sesungguhnya, tidak ada sedikitpun “ruangan” yang disisakan bagi jasa manusia untuk kekekalan yang disediakan oleh Allah. Benar-benar 100% anugrah Allah. 100% jasa Tuhan Yesus Kristus rela menjelma menjadi manusia, dan mati disalibkan untuk menggantikan hukuman dosa manusia. Lalu, bangkit kembali membuktikan keallahanNya dan kuasaNya yang menaklukkan kuasa dosa, kuasa maut dan kuasa iblis. Sekali lagi, Kebangkitan Kristus adalah jaminan yang pasti atas anugrah keselamatan itu bagi orang-orang yang sungguh beriman kepadaNya.
Lalu, apakah orang Kristen tidak perlu melakukan kebaikan di dunia ini? Jawabnya, sangat perlu! Namun, usaha kita berbuat baik setelah diselamatkan merupakan “buah pertobatan” dan “buah pengucapan syukur” atas karya keselamatan oleh Kristus bagi kita. Bukan merupakan “jasa” atau “pahala” yang meluluskan kita masuk sorga. Kita bisa yakin pasti selamat, bukan karena faktor diri kita sebagai manusia yang lemah dan berdosa. Melainkan, merupakan jaminan (garansi) dari Allah TriTunggal, yaitu Allah yang Esa yang memperkenalkan diriNya dalam tiga pribadi (Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus), yang setara, sehakekat, seatribut dari kekal sampai kekal selama-lamanya. Alkitab berkata,
“Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. BapaKu yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan BapaKu” (Yohanes 10:27-29). Di dalam Dia [Kristus] kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia [Kristus], kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan [garansi] bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya ” (Efesus 1:13-14).
Anda lihat, bahwa orang Kristen yang sudah diselamatkan itu, dipegang dalam tangan Yesus Kristus dan tangan Allah Bapa. Dan di dalam dirinya ada Roh Kudus yang lebih besar dari roh manapun (bdk: I Yoh.4:4) memetarikannya menjadi milik Allah selama-lamanya. Sebab itu tidak ada satu tangan pun – termasuk tangan si iblis – yang sanggup merampas keselamatan jiwanya. Inilah jaminan kepastian keselamatan dari Allah TriTunggal, Allah yang sejati. Anugrah keselamatan sesungguhnya adalah 100% inisiatif dari Allah, dan 100% karya Allah. Demikian pula pemeliharaan keselamatan yang pasti, itu pun adalah 100% inisiatif dari Allah dan 100% karya Allah sendiri.
Bersyukurlah buat keselamatan yang sudah Saudara terima dan hiduplah sesuai dengan anugrahNya! Bagi Saudara yang belum mendapatkan kepastian keselamatan ini, terimalah Yesus Kristus sekarang juga! Ya, hari ini juga! Jangan menunda agar Saudara tidak menyesal, karena Anda tidak tahu tentang hari esok Anda, bukan? Dapatkanlah yang pasti. Bukan yang semoga!
| |