Guru Pon Pes Syeh Abdul Qodir al-Jailani ke Amerika Serikat

Indonesia Media

Koordinator Program Pendidikan Pesantren Syeh Abdul Qodir al-Jailani Rangkang Kraksaan Probolinggo, H. Rizqon Khamami MA,. Mengikuti program pertukaran “International Visitor Leadership” yang disponsori oleh Pemerintah Amerika Serikat ke Wahington, D.C. Dalam perjalanan menuju Washington, D.C., bermalam di kota Singapura, Tokyo dan Minneapolis menggunakan pesawat Northwest Airlines. Selama di Amerika Serikat, Rizqon berkesempatan berkunjung dan belajar di sekolah-sekolah dan Universitas yang ada di Amerika, seperti Universitas Arkansas, sekolah publik di New York dan banyak lagi. Rizqon berangkat bersama dengan delegasi dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Malang, IAIN Padang. Semua berjumlah empat orang.

 

Program “International Visitor Leadership” di fasilitasi oleh kantor pertukaran budaya pendidikan dan kebudayaan, Kedutaan Besar Amerika di Indonesia. Program berkunjung ke Amerika Serikat termasuk langka di pesantren. Hal ini berawal dari pertemuan K. H. Abdul Hafidz Aminuddin dengan Dr. Chatrine (seorang Doktor Islamic Studies) di Pon Pes Syekh Abdul Qodir al-Jailani. Dalam pertemuan tersebut, ada kerjasama antara kedutaan besar Amerika Serikat dengan pondok pesantren. Antara lain, memajukan pendidikan pondok pesantren melalui pertukaran guru pesantren untuk belajar ke Amerika Serikat. Para guru berkesempatan belajar tentang pengelolaan kurikulum dan administrasi madrasah tingkat dasar dan menengah di negara maju.

 

Mengapa Amerika mulai melirik pondok pesantren yang berbasis Nahdatul Ulama’ untuk belajar ke Amerika Serikat ?. Pendidikan di pondok pesantren adalah unik. Keunikan tersebut nampak dari makin besarnya santri yang belajar di ponpes mencapai ribuan. Pesantren di percaya oleh masyarakat untuk mengembangkan anak-anak mereka menjadi manusia berilmu dan berakhlakul karimah. Jika pendidikan di pesantren di kelola dengan profesional, akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia berbudaya mulia. Pertukaran guru pesantren, merupakan salah satu cara meningkatkan kemampuan guru untuk mengelola pesantren secara profesional.

 

Kedua, Amerika serikat menilai bahwa pondok pesantren berhasil mengembangkan masyarakat Islam yang humanis, yaitu memuliakan manusia. Pesantren berhasil menanamkan prinsip-prinsip toleransi, kejujuran, tanggung jawab, dan ketaatan pada agama Islam dan para guru mereka. Walaupun demikian, sebagian warga Amerika Serikat masih menaruh curiga dan membenci ummat Islam yang fanatis, yang memberikan label teroris pada sebagian ummat Islam yang radikal. Dengan keadaan tersebut, pertukaran ini akan menjalin rasa saling kenal mengenal agama satu dan agama yang lain, negara satu dengan negara lain. Rizqon memiliki kesempatan untuk menjelaskan Islam pesantren ke warga Amerika selama tinggal di Washington, D.C.,

 

Pelan-pelan, Pondok pesantren akan di kenal di kancah International, Pada era sekarang, NU membuka pintu lebar-lrbar kepada anak-anak muda NU untuk kuliah dan belajar ke Amerika, Australia, Jepang, India dan negar-negara lain. Benih-benih dari generasi awal anak-anak santri sudah merambah dunia international, saat ini mulai tampak, beberapa anak muda di kampus-kampus international. Apakah ini pertanda kebangkitan santri-santri NU di lingkungan pesantren tradisional seperti pondok Rangkang, pondok Genggong dan pondok Paiton? Semoga………

       

 


FastCounter by bCentral