Old Soldiers Will Never Die

Arnold Lukito /Indonesia Media

Pertama-tama , terima-kasih untuk Pak Eddy Budi Santoso, Pak Andi Rahadian(SF KJRI), Hendy Wijaya, dan Beni Bevly mereka semuanya telah membantu dan berkerja sama dengan baik dalam acara menyambut kedatangan BrigJen(Purn)Tedy Jusuf selama di San Francisco.

Dari acara temu-muka kepada masyarakat Indonesia di SF, semoga dapat mencerahkan dan dapat menghasilkan hal yang positive kepada semua lapisan komunitas Indonesia di SF, bahwa minoritas Indonesia pun telah mengabdikan dirinya sebagai perwira tinggi, dengan setia di TNI-AD. Walaupun jalan karir ini agak kurang populer untuk dipertimbangkan oleh kaum minoritas di Indonesia, dengan berbagai macam-alasan.

Pak Tedy bertukar pengalamann dan pembicaraan sampai kemasalah US Embargo terhadap TNI, menurut Pak Tedy hal itu sangat disayangkan karena hilangnya hubungan erat antar Indonesia dan US Military Forces, Pak Tedy tambahkan mereka yang pada waktu itu berpangkat LetKol dan Kolonel pada saat Embargo dicairkan sudah banyak yang menjadi Jenderal di TNI, lalu mereka belum mempunyai hubungan baik dengan US Forces. Kemudian pembicaraan mengenai gaji sebagai prajurid/perwira vs di US Forces. Dimulai dari mengapa gaji TNI, POLRI maupun pegawai negeri selama ini sama sekali kurang memadai sehingga akan sangat sulit bagi mereka untuk konsentrasi terhadap profesinya vs naluri untuk mencari nafkah tambahan demi menghidupi keluarga mereka, dan masalah ini adalah mismanagement dari atasan.

Pak Tedy menjelaskan sebagai TNI BrigJen pensiun menerima hanya 75% dari gaji bulanan sekitar US$200/bulan. Sedangkan tentara US mendapatkan 100% bila mempunyai 20 tahun waktu service. Di US dimulai dari gaji prajurid yang paling rendah sekitar $1500/bulan, ditambah 3Xmakan perhari, adanya fasilitas sauna/gym/trainer, jaminan medical/dental, disediakan perumahan, ditambah sekitar $100-$250/bulan untuk dikirim kedaerah bahaya/perang, ditambah juga C.O.L.A yang berbeda tergantung lokasi setiap bulan, kenaikan gaji pokok 3% setiap tahun, tiket murah kira-kira $25 terbang keseluruh dunia dengan MAC Flight, diberikan free life insurance, tiket kapal terbang “gratis” ke Irak, Kuwait, dan Afghanistan yang tentunya tidak dapat ditolak, ditambah hiburan gratis dari USO yang sering kali mendatangkan Pop Stars dari zaman Bob Hope, sampai Brooke Shield dan Jessica Simpson.

Sedangkan TNI-AD walaupun tidak mendapatkan fasilitas extra seperti yang didapatkan di US, tapi mereka mendapatkan keuntungan sampingan yang kadang-kadang jauh melebihi mereka di US Military Forces terutama dalam segi hadiah bonus dan KEBAL HUKUM. Karena mereka sangat ditakuti oleh polisi dan rakyatnya sendiri. Sebaliknya di US Military mereka hampir tidak pernah dikerahkan terhadap rakyatnya sendiri. Dilain pihak tidak ada yang berani meludahi dan menimpuki dengan telur busuk kepada tentara yang baru pulang dari East Timor seperti apa yang terjadi ketika Vietnam Veteran tiba di US Airports disambut oleh anti-war demonstrators pada saat itu.

Kami menemaninya berkunjung ke Alameda Naval Base melihat Museum Kapal Induk Hornet yang pernah aktif dalam Perang Dunia II, yang terlibat dalam beberapa aksi dekat Irian Jaya terhadap serangan Jepang, juga sebagai kapal yang dikerahkan untuk mengambil awak krew Apollo 9 ketika mendarat di lautan, secara langsung juga yang telah terlibat menjatuhkan ratusan Pesawat Japanese Kamikaze Pilot dalam aksi dekat Okinawa, dan Iwojima. Bahkan landasannya pernah diperbaiki karena terkena serangan dari Pesawat Kamikaze Pilot. Biaya perawatan Kapal Induk Hornet tidak dilakukan oleh pemerintah tapi dilakukan dengan berbagai acara fund-raising oleh para veteran-veteran yang masih perduli menghabiskan waktunya bergilir setiap hari. Pada October 2000 yang lalupun ada Vietnam Wall Experience Road Show diadakan didepan Kapal Induk Hornet dengan menggelar semua nama dari 58 ribu korban dimana sayapun ikut berpartisipasi menjaga fasilitas sampai pukul 22:00. Salah satu acara fund raising yang mereka sering lakukan yaitu mengadakan Golf Tournament diatas landasan kapal terbangnya, dan juga membuat New Years Party ditempat yang sama. Hal ini tentunya tidak bisa disamaartikan dengan TNI yang berbisnis di Indonesia.

 

Dalam perjalanan menuju Golden Gate Bridge Pak Tedy sempat juga mengumpamakan dirinya sebagai “Old Soldiers will never die”. Saya tanya apa maksudnya? Dijelaskan seperti halnya seorang Dokter tetap memperjuangkan pasiennya, dalam keahlihannya sebagai Pejuang RI, maka dirinyapun akan tetap setia kepada negara yang selama ini telah diperjuangkannya yaitu Indonesia.

Kita sampai ditempat lokasi seminar di Parks Tae Kwon Do, 1739 Noriega St sekitar 14:00, acara dimulai sekitar 15:00 berakhir pada 17:00. Acara diskusi mengenai Indonesia-Today berjalan lancar dan semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita semua. Kitapun mendiskusikan masih adanya undang-undang yang masih melakukan diskriminasi terhadap minoritas yang tinggal di Indonesia. Hal itu telah diperjuangkan oleh banyak tokoh-tokoh minoritas dan berhasil menghapuskan sebagian besar. Bahkan sudah menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Besar Nasional.

Taman Budaya Tionghoa

Pada acara itu Pak Tedy sebagai ketua PSMTI memberikan informasi bahwa sedang membangun Taman Budaya Tionghoa dalam Taman Mini Indonesia Indah. Dibawah ini adalah gambar design bila Taman Budaya Tionghoa selesai.

Pak Tedy Jusuf dalam brochure menulis: “Taman yang akan menjadi pusat budaya dan kebanggaan masyarakat Tionghoa ini seluas 4.5 HA, akan dibangun pecinan, rumah adat, pagoda, gedung utama, theater kesenian, museum dan taman taman yang bercirikan khas suku Tionghoa. Untuk itu panitia TBT menghimbau masyarakat Tionghoa dimanapun berada mau berpartisipasi dalam pembangunan ini, agar tujuan dan cita cita yang luhur ini bisa segera terwujudkan. Penyumbang dapat menyumbang berupa dana, bangunan, barang barang, atau foto bersejarah dan lain lain yang bermanfaat untuk pembangunan taman ini”. (Gambar rancangan terlampir)

Nama penyumbang diabadikan

Sumbangan suka rela ini dapat ditransfer melalui Bank BCA Cabang Asemka Jakarta No Rekening: 001.304.8808 atas nama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia. Sebagai kenang-kenangan bila menyumbang US$100.00 keatas maka nama anda akan dicantumkan abadi pada salah satu tembok dalam kompleks Taman Mini tersebut. Yang tentunya akan dapat dilihat oleh anak dan cucu kalian pada masa yang akan datang dan membuat mereka sangat bangga. Di Hayward Japanese Garden. Pak Tedy mempelajari rancangan design arsitektur bagaimana mereka menaruh pohon-pohon dan lokasi nama-nama donator sebagai inspirasi kemuka untuk mengabadikan nama nama penyumbang dalam projek Taman Budaya Tionghoa yang sedang dikelolanya.

 

Pak Tedy tertegun melihat Memorial Protest didekat Pleasant Hill Bart Station. Dengan membuat 3909 salib putih sebagai total korban di Iraq dan Afghanistan yang ditambahkan setiap hari, untuk Pak Tedy adalah pengalaman demokrasi yang sangat baru dimana seorang penduduk sipil dapat melakukan unjuk rasa dan protest anti perang yang didukung oleh ribuan ibu-ibu diseluruh Amerika terhadap Bush Administrasi tanpa dapat dituduh melakukan penghujatan seperti di Indonesia, ataupun sebagai anti Amerika dan pro-teroris.

Sewaktu Pak Tedy berkunjung ke US Marines Recruiting Office di San Leandro, dan memperkenalkan dirinya sebagai Jenderal Purnawirawan dari Indonesia, mereka menyambut dengan hangat, lalu berpose bersama dan memberikan US Marines promotionals Stickers sebagai souvenirs untuk dibawa pulang ke Indonesia. Pak Tedy bertanya apa motto US Marines, yaitu Semper Fidelis artinya Always Faithful.

Suatu saat pada waktu Pak Tedy selagi cerita mengenai TNI-AD dan US Marines lalu katakan: “Hidup Marines”, bayangkanlah seorang TNI-AD Jenderal Purnawirawan satu mobil dan hanya kita berdua lalu dia mengucapkan secara pribadi kepada seorang former US Marines veteran, (Saya benar-benar malu hati dan jadi bingung sendiri, lalu berpikir apakah harus mengucapkan Hidup ABRI?” padahal saya telah terus terang katakan kepada Pak Tedy dulu mendukung US ketika melakukan Military embargo terhadap TNI dan juga mendukung US ketika mencairkan kembali beberapa tahun yang lalu karena keadaan politik yang sudah sangat berubah sekarang ini.) tentu lidah sudah menjadi kaku, selain tersenyum.

Dalam mobil menuju airport, kita banyak bertukar informasi mengenai cara recruiting di US vs di Indonesia, tapi Pak Tedy katakan adanya system yang sama yaitu harus tanda tangani kontrak kira-kira 8 tahun untuk prajurid di Indonesia. Dan lebih lama untuk yang sekolah AKABRI.

Sebelum berpisah karena respek kepada Pak Tedy akhirnya terlontar juga ucapan: Hidup ABRI !!!, dan Pak Tedy matanya bersina-sinar dan tersenyum lebar lalu mengucapkan lagi Hidup Marines yang kesekian kalinya.

Bila datang ke Jakarta jangan lupa untuk mampir ke Taman Budaya Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah!

 

 

 

       

 


FastCounter by bCentral