Kritik Film: Denias

Dr.Irawan /Indonesia Media

Sebuah film Indonesia yang pertama kali dicoba untuk masuk dalam nominasi Oscar dengan judul "Denias" telah membawa keingintahuan masyarakat film Indonesia di bilangan Los Angeles, ternyata memicu Konsul Pensosdikbud Agusti Anwar memfasilitasi forum kritik film di lantai 3 gedung KJRI-LA.

 

Dalam kesempatan ini bertindak sebagai moderator adalah, Saudari Rosy Law, salah seorang idealis film dari "Original Pictures INT"www.opifilm.com dimana dia sendiri juga merupakan producer dan director-nya. Disamping itu beberapa tokoh perfilman asal Indonesia juga dilibatkan dalam diskusi dalam film yang berdurasi 102 menit ini.Gusti Wahyu ,Ichan Tamimi ,Koko Hari Yudhosasongko (Cameramen dan Lighting), Steven (cinematografi).

 

Film ini dipetik dari kisah nyata yang menceritakan seorang anak Timika (Papua) yang hidup dalam dusun yang masih terkebelakang dimana fasilitas belajar dan mengajar masih sangat tertinggal, kemudian dia (Denias) berusaha meraih impiannya untuk sekolah, sesuai dengan amanat mendiang ibunya.

 

Terlepas dari berhasil atau tidaknya film ini masuk dalam nominasi Oscar, nyatanya "Denias" telah menyentuh hati dari para penonton. Film ini direlease pada October 2006 , dengan Director, John de Rantau, sedangkan penulisnya adalah Jeremias Nyangoen, produksi dari Studio Alenia Pictures. Para pemeran yang terlibat dalam film ini adalah sbb: Albert Fakdawer, Ari Sihasale, Marcella Zalianty, Mathias Muchus, Michael Mohede, Audrey Papilaya.

 

Dari hasil forum diskusi film dihasilkan sejumlah komentar sebagai berikut ;

Segi positifnya dari film ini:

Keberanian dari producer yang memilih thema Human Interest, dimana hal ini tidak populer bagi penonton film di Tanah Air saat ini yang kebanyakan lebih suka nonton film percintaan , Sex, ABG , dan kehidupan glamour nan mewah mengisi imaginasi dari masyarakat.

Keberanian producer juga ditunjukan dengan mengambil tempat shooting yang mahal ongkos , di Papua yang masih sulit dijangkau. Namun sisi positifnya bisa mengexpose keindahan alam pulau yang paling timur dari Indonesia, apalagi exposure dari puncak Cartenz yang bergelimang salju itu, yang secara tehnis tidak mudah melaksanakannya karena ketinggiannya.

Over all dari segi acting boleh dibilang termasuk "OK punya".

 

Konjen Sony juga mendapat masukan bahwa insentive pajak/tax credit bisa menjadi rangsangan untuk menggairahkan perusahaan film asing untuk syuting di Indonesia

 

Kekurangan dari "Denias" lebih banyak terkait prasarana seperti peralatan lighting, dan peralatan pembantu kamera seperti giro rail dan pengatur sudut

karena kebanyakan sudut kamera masih bermain disekitar eye level. Kembali keterbatasan ini mungkin disebabkan kesulitan prasarana transportasi untuk membawa perlengkapan tersebut ketempat itu.

Dari segi management juga perlu diperhatikan, seperti apabila cuaca tidak menguntungkan sebaiknya diadakan alternatif lain untuk pensyutingan, seperti apa yang dilakukan perusahaan film di Hollywood yang sudah terbiasa dengan plan alternatif secara systematis.

 

Melihat dari film ini, pemerintah dituntut lebih berperan dalam hal kemudahan prasarana didaerah terpencil. Kalau sudah bicara masalah seperti ini, maka terlihat pemerintah Indonesia belum optimal dalam pemerataan pembangunan ke daerah. Terkesan adanya diskriminasi kesejahteraan diJawa, dibanding dengan di Papua, padahal disana terletak sumber daya alam yang di eksplorasi oleh Freeport. Demikian pula adengan "Maleo" merupakan pembenaran adanya daerah operasi militer disana. Apakah inti dari film ini menuntut rasa keadilan ???

 

 

 

 

 

 

       

 


FastCounter by bCentral