Usaha Resto di Negeri Perancis – Bagian ke-15B 

Indonesia Media

Dan kalau para tamu ini belum pulang-pulang juga, sudah tentu kamipun tak bisa pulang, dan capek ya tinggal capek, rasakan saja. Ada sepasang muda-mudi, biasa orang bule, sambil duduk berdekatan dan bercinta tenggelam-tenggelam. Berciuman, berpelukan, merokok, makan lagi
sekedarnya, lalu ngobrol lagi, tertawa, pelukan, ciuman mesra. Dan mana mereka mau perduli! Ini sudah kebiasaan di kota besar Paris ini, juga di banyak resto lainnya. Sepasang tamu ini duduk dekat dapur lagi, walaupun dibatasi "pagar gorden" tadi itu. Teman-teman dapur selalu menanyakan kepadaku, apakah sudah habis tamunya, apakah sudah pulang semua?! Karena
kalau sudah pulang, kami akan membuka "tabir gorden" itu dan tandanya orang dapur bebas akan ke luar-masuk, karena sudah tak ada tamu. Ketika itu sebenarnya akupun sudah hampir mencapai puncak kedongkolan. Sudah sangat capek, mau pulang mau lekas istirahat. Tetapi sepasang muda-mudi orang bule itu tetap saja asik clap-clup dengan bibirnya ciuman, pegangan kepala dan
muka, lengket lagi, lepas sebentar, diulangi lagi, sedangkan jam terus jalan. Sudah hampir jam 17.00.

Seorang teman dapur tanya lagi kepadaku. Apa tamu sudah pulang semua? Aku sedang ada pada puncak dongkolnya, dan dengan agak keras dan agak kasar, kusahuti teman itu. "Apanya yang pulang. Malah lagi gila-gilanya asik ngos-ngosan, clap-clup, muka sudah pada bonyok, diremas
dan diraup"!, kataku dengan setengah dongkol, dan dengan suara keras. "Mereka sih enak-enak, nah kita ini yang mau pulang, dari tadi tidak jadi-jadi, nungguin orang yang sedang mabuk cintrong";kataku lagi. Aku tetap ke luar-masuk antara dapur dan sal, dengan rasa marah, benci dan dongkol. Rupanya tamu yang saling remas-meremas dan muka pada hampir bonyok
itu, mungkin sudah merasa terlalu lama di resto, akhirnya bangkit dan mau pulang. Melihat begini, agak terasa akan mengurangi rasa kedongkolan tadi, dan kami bisa pulang walaupun sudah sangat terlambat. Ketika mau pulang si perempuannya berkata:

"Maaf Pak ya, kami terlambat pergi", katanya. Agak gemetar aku mendengarkannya. Kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Indonesia dengan baik! Mimpikah aku? Betulkah dia tadi berbahasa Indonesia ? Dan kujawab sambil menahan malu. "Bahasa Indonesianya baik sekali ya", kataku hampir kehilangan muka! "Akh, sudah banyak lupa, Pak. Kalau mau ngomong agak sulit, tapi kalau pasif, mendengarkan masih bisa dan masih bolehlah", katanya dengan cukup
genit. Terasa tertampar diriku ini. "Lama di Indonesianya?". "Bagaimana ya, lama juga tidak, sebentar juga samasekali bukan. Karena ayah-ibu saya dan kami semua pernah di Kalimantan , di Balikpapan. Karena orangtua saya bekerja di pertambangan minyak. Di sana kami selama 4
tahun. Lalu pindah ke Jawa, dan saya sekolah di IKIP Malang selama 2 tahun, lalu pindah lagi ke Perancis. Dan kini kami tinggal di Paris ini", katanya dengan bahasa yang bukan main bagus dan halusnya.

Hampir saja lututku terasa goyang. Dan pada akhir kisah, mereka minta diri dengan cukup sopan, karena minta maaf sudah terlalu lama duduk di resto kami. Begitu pasangan itu keluar, maka keluarlah beberapa teman dapur sambil menahan tertawanya memegangi perut masing-masing. Sambil menuding dan memaki diriku. "Makanya kamu sih nggak tobat-tobatnya! Mbok tahu dirilah, jangan suka sembarangan kalau ngomong! Orang bule apalagi yang ke resto kita ini, selalu banyak tahu tentang Indonesia , tahu bahasa kita!Kamu itu sejak dulu selalu ketangkap basah, karena selalu suka sembarangan ngomong, ngatain muka bonyoklah, clap-cluplah. Pastilah mereka mengerti semua apa yang kau katakana tadi! Yah, itulah obatnya orang suka ngomong sembarangan, rasain kamu!", kata teman-temanku. Dan aku diam saja. Lalu aku mau apa?! Semua salahku, mengapa ngomong sembarangan, dikira orang tak tahu bahasa kita, karena mereka orang asing, orang bule! Dan kejadian ini sudah untuk kesekian kalinya untukku. Kalau banyak teman marah dan mengkritikku, semua ada dasarnya.

 

       

 


FastCounter by bCentral