Hendra Lee - Mata Elang

Dr. Irawan / Indonesia Media

Jakarta, December 31, 2007/Indonesia media

Hampir tidak bisa dipercaya kalau kita tidak mengenal dia dari dekat. Bayangkan pendidikan formalnya tidak melampaui kelas 4 Sekolah Dasar, namun sosok yang selalu tampil seperti pemuda tanggung ini boleh dibilang sudah menjadi konglomerat dibidang panggung dunia hiburan, bahkan bidang usahanya sudah merambah ke perhotelan , restaurant, properti dan masih banyak lagi .

Hanya sampai kelas 4 SD.

Berbeda dengan konglomerat muda sekarang yang kebanyakan dari hasil warisan orang tuanya. Hendra yang terlahir dibilangan Old Town Jakarta 1953 sepenuhnya berjuang atas usaha sendiri. Ketika meletusnya peristiwa G-30-S dia terpaksa menjadi anak putus sekolah , padahal saat itu dia duduk dibangku sekolah tidak lebih dari kelas 4 SD disekolah Hsie Ho (sekolah Tionghoa di Jalan Toko Tiga , Jakarta). Lie Hong Kwang (nama aslinya) yang status kewarganegaraannya adalah WNA (Warga Negara Asing) tidak bisa lagi melanjutkan sekolah formal karena sekolahnya ditutup lalu diambil alih dan dijadikan pos KKO (Mariner). Banyak anak yang bernasib seperti dia waktu itu karena politik Indonesia saat itu, sebagian besar dari mereka melanjutkan sekolah dengan segala cara yang tentunya memakan biaya besar dalam pengurusan surat-surat, namun cucu Lie Hong Djoe yang satu ini orang tuanya tidak mampu memberikan pendidikan formal lebih lanjut kepada dia . Hal ini bisa dimaklumi karena Hendra sebagai anak kedua dari 6 bersaudara.

Mulai didunia musik

Waktu yang sangat banyak dari Hendra dari putus sekolah ini digunakan untuk menghias sepedanya mulai dari sanalah dia mulai menempa jiwa bisnisnya , sepeda yang dihias dan diperbaiki dijual belikan , lalu meningkat ke jual beli sepeda motor. Sementara waktu yang terluang juga digunakan untuk memupuk disiplin kepribadiannya lewat latihan Karate aliran Go Ju Ryu, dan menjadi assisten pelatih dari Maskun. (Catatan: Sekarang Maskun sudah mendapat gelar Master Dan 7. )

Masuknya Hendra kedunia entertaintment adalah didorong hobby nya yang suka iseng mengetuk-ngetuk piring dan meja dengan sendok garpu waktu makan, tanpa terasa menumbuhkan keinginannya bermain drum . Suatu hari dia putuskan menjual sepeda motornya dan uangnya dibelikan seperangkat alat band yang bekas. Mulailah dia melatih diri sebagai pemain drum , kala itu hanya satu lagu yang dilatihnya setiap hari yaitu “Have you ever seen the rain” dari kelompok CCR (Creedence Clear water Revival). Sambil berlatih dia tidak mensia-siakan waktu dengan perangkat band itu, dibentuklah Band “Jaguar” yang didukung oleh musisi Alex dan Jacob (yang kemudian dikenal sebagai si “Kembar”) sampai suatu hari karena drummernya berhalangan , terpaksa dia memberanikan diri bermain drum. Sejak itu mulialah debutnya sebagai pemain drum professional, kendati tidak pernah mengenyam pendidikan music formal.

Banyak bintang musisi yang diorbitkan dari studionya sejak itu termasuk , Kembar group, Farid Bani Adam, dan lainnya. Puncak dari bisnis bandnya ketika dia menjadi boss dari group band legendaris“God Bless” , dengan bintang utamanya Achmad Albar si Jenderal Kancil. Ketika itu banyak group musik dari luar negeri didatangkan untuk bersanding dengan Group musik keras itu.

Hendra yang dikenal juga dengan julukan “Gojin” mengakui bahwa bisnis band ternyata tidak membawa keuntungan financial yang significant . Gojin sempat jatuh terpuruk setelah itu , hari-hari gelap itu tidak ingin dia ceritakan lagi.

Bangkit kembali

Urusan panggung pentas , tata cahaya, dan sound system, memang sudah mendarah daging pada pemuda “Tio Ciu” ini. Gojin mengendus kelemahan dari panggung pentas di Indonesia saat itu, tehnik pencahayaan panggung masih dirasa ketinggalan . Maka mulailah dia mengutak-ngatik lampu, berbagai experiment empiris dia lakukan., sampai menggunakan alat dapur (sendok) sebagi reflector dan potongan aluminium untuk mengatur titik focus, box lampunya dibuat dari kayu yang sempat menjadi bahan tertawaan orang-orang. Namun ketika ditampilkan lampunya sanggup menyorot sampai awan , mulailah kahalayak menjadi keder dan mulai percaya akan produknya, disusul lahirnya perusahaannya dibawah bendera “Mata Elang”

Hendra mengakui bukan sedikit orang-orang sirik yang mencoba sabotase hasil karyanya, tapi karena dia sendiri sebagai pencipta dan operatornya , semua kendala bisa diatasi dengan mudah. Selanjutnya kepiawaiiannya mulai menembus dunia internasional, oleh karena itu dia dipercaya sebagai subcontractor untuk event-event besar di Dubai. Sydney Australia, Korea, Hongkong, dan Malaysia.

LED Raksasa

Saat ini system LED nya dikenal sangat spectaculair dalam membawakan visualisasi di panggung raksasanya. Light Emiting Diode yang digunakannya bisa mencapai 200 meter2 , bahkan dia sanggup membuat layar LED sebesar 500 meter persegi, katanya. Mungkin pembaca sulit membayangkan sebesar apa layar monitor/TV yang dikatakan 500meter2 itu, kalau dihitung dengan rumus Pitagoras akan menghasilkan ukuran diagonal diatas 7700 inches, bandingkan dengan big screen TV yang besarnya 65” dirumah. Sementara itu lampu-lampu sorotnya sudah mencapai 2000 titik dalam event yang spectacular.

Hendra sempat mendapat pujian dari organizer American Idol yang menilai Asian Idol yang diurusnya ternyata melampaui American Idol dalam hal tata audiovisual. Dalam acara panggung hiburan malam tahun baru 2008 ini beliau menangani panggung raksasa lengkap dengan audiovisualnya secara simultan di beberapa tempat di Jakarta, seperti di Ancol, PRJ (Kemayoran), Monas, dan Mall Kelapa Gading. Malam itu Hendra tetap memegang kendali operasional semuanya lewat layar monitor dirumahnya sambil memberikan instruksi kepada para stage managernya dilapangan.

Merambah ke bisnis lain.

Dalam dua tahun terakhir ini Hendra mulai merambah kedalam dunia perhotelan, dan property , sekarang dia disibukan oleh renovasi gedung-gedungnya antara lain Twin Plaza Hotel di Tomang /Slipi dan Hotel Pasir putih di Ancol.

Restaurantnya di Ancol “Back Stage” (tempat artis mangkal) yang baru buka kurang dari 5 bulan ini sudah pada taraf fully booked setiap hari. Oleh karena itu dia merencanakan membuka Café Electronic untuk tempat mangkal para otak “IT” untuk tukar pikiran.

Cita-cita luhur

Dalam waktunya yang sangat sibuk itu masih sempat dia memikirkan untuk membuka sekolah ilmu panggung entertainment dan show biz yang dicanangkan bakal setaraf dengan universitas. Saat ini lembaga itu sudah setingkat training center. Hendra juga mensponsori pembentukan TV Club Indonesia yang bermarkas di gedung Twin Plaza. Maksud dari pembentukan TV Club yang beranggotakan para insane-insan pertelevisian dari seluruh stasiun TV di Indonesia, adalah membangun kemitraan, profesionalisme dan citra pertelevisian Indonesia. Saat ini 8 dari sepuluh TV nasional merupakan mitra kerjanya. Ambisinya membuka sekolah didasari atas kesedihannya yang dialaminya ketika dia tidak bisa sekolah.

Semoga Akwang bisa menjadi suri tauladan untuk kita semua dalam menemukan sukses kita masing-masing. Kuncinya , kalau ada kemauan yang keras pasti kita bisa. Pendidikan dan uang bukan segala-galanya, demikian pesan Gojin kepada kita semua.

 

 

 

       

 


FastCounter by bCentral