Kunjungan Brig.Jen (Pur) Teddy Jusuf ke LA

Dr.Irawan /Indonesia Media

Sudah lama kami mendengar nama Brig.Jen (Pur) Teddy Jusuf yang aslinya bernama Him Tek Ji, namun awam dikenal sebagai Sioeng Tek Ie. Beliau adalah orang Tionghoa yang menduduki jabatan tertinggi di TNI AD setelah Laksamana John Lie di TNI-AL.

Seperti kami ketahui, tidak banyak orang Tionghoa menjadi anggota militer apalagi di Angkatan Darat.

Berikut adalah biodata singkat dari Pak Teddy yang notabene anak Betawi kelahiran Bogor tahun 1944 dan besar di Pasar Baru. Pendidikan SD nya di Hsin Hwa (Gang Tepekong), disusul SMP Pah Cung (Kebon Kelapa), Lulus SMA di Pa Hwa (Patekoan), dan lulus ujian SMA B negeri pada tahun 1962. Pendidikan Militer berlanjut dengan Lulus AKMIL 1965, SESKOAD 1978, SESKOABRI 1988, dan tamat LEMHANAS 1999.

Sedangkan Kariernya di militer dimulai dari Letnan, 1966 – Komandan Kompi Yonif 519 Kodam V Brawijaya di Sidoarjo. Kapten, 1974 – Wadanyon Yonif 507 Kodam V Brawijaya di Surabaya, Mayor 1976 – Komandan Detasemen Tempur RTP-16 di Tim Tim, Mayor, 1977 – Kepala Biro Operasi Kodam V Brawijaya di Surabaya, Letkol, 1978 – Komandan Secaba Rindam Jaya di Jakarta, Letkol 1983 – Dandim 0503 Jakarta Barat Kodam Jaya di Jakarta, Letkol 1985 – Waaspers Kodam Jaya di Jakarta, Kolonel, 1987 – Asisten Perencanaan Kodam IV Diponegoro di Semarang, Kolonel 1989 – Paban I Asisten Pengamanan TNI AD di Jakarta, Kolonel 1991 – Danrem 131 Satiago di Manado, Kolonel 1993 – Paban Sospol Kasum ABRI, Brigjen, 1994 – Staf Ahli Pangab Bidang POLKAM, Brigjen 1995 - Anggota Fraksi ABRI DPR-MPR RI, Brigjen 1999 – Purna Tugas.

Tanda Penghargaan yang dioperolehnya selama di kedinasan: Bintang Kartika Eka Paksi Naraya, Bintang Yuda Dharma Naraya, Satya Lencana Penegak, Satya Lencana Kesetiaan 8,16 dan 24 th , Satya Lencana Dwiyasista, Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Veteran Pembela

Pengalaman Organisasi: 1993 – 1996 Sekjen Istitut KARATEDO Indonesia (INKAI),1997 – 2005 Ketua Umum PEXI (Persatuan Catur Gajah Seluruh Indonesia), 1998 – sekarang Ketua Umum dan Pendiri Paguyuban Marga Tionghoa Indonesia. ( PSMTI)mempunyai cabang di 29 provinsi dan ranting dan afiliasi di 250 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Beliau bersama isterinya Lisanti Suryamiharja mempunyai 3 anak, Sheilla, Edwin, dan Tricia yang semuanya telah berkeluarga.

Pak Teddy mengungkapkan bahwa Misi PSMTI yang dipimpinnya adalah : Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia, Kesetaraan dengan semua etnis bangsa Indonesia, Kesetaraan dengan semua etnis bangsa Indonesia ( Tidak Diskriminatif), Memantapkan jati diri dan percaya diri sebagai orang Tionghoa Bangsa Indonesia. Saling memperhatikan dan Tolong menolong.

Pak Teddy dalam hasil karyanya selama menjabat ketua umum PSMTI sejak tahun 1999 telah menghasilkan kemajuan sbb:

Setelah 6 Tahun:

Jaringan persaudaan masyarakat Tionghoa Indonesia telah terjangkau disemua provinsi dari 350 kota terjangkau 251 kota sbb; 93 Cabang, 28 Afiliasi, 130 Perwakilan.

Peraturan diskriminasi yang telah dicabut :

Kebebasan menggunakan bahasa, adat Istiadat dan ibadah sesuai agamanya masing-masing (Inspres No. 6 Tahun 2000)

Imlek sebagai hari libur Nasional, Masalah SKBRI (60% Selesai), Adanya minat orang Tionghoa memasuki Partai politik dan menjadi anggota DPD-DPR-DPRD, Kemampuan untuk memberi pertolongan bila diperlukan, Diberikan kesempatan untuk turut merayakan hari Nasional ( 17 Agustus ), Diberi Kesempatan untuk membangun taman Budaya Tionghoa Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah, Disahkan UU No. 12 Tahun 2006 Tentang kewarganegaraan, Disahkannya UU No. 23 Tahun 2007 Tentang Administrasi Kependudukan, Perubahan istilah orang Cina menjadi orang Tionghoa, Perubahan Istilah orang Indonesia asli pada pasal 6 UUD-45

Hasil RAKERNAS ke-II

Menganjurkan orang Tionghoa untuk Prtisipasi dalam semua aspek kehidupan masyarakat dan Profesi hasil sudah banyak orang Tionghoa yang berprestasi sebagai Politisi, Contoh: Dikepulauan Riau ada 17 Orang yang menjadi anggota DPRD dan DPD,

Hasil RAKERNAS III

Menuntut hak kesetaraan bagi orang Tionghoa, dan penghapusan perlakuan yang yang diskriminatif yang ditujukan bagi orang Tioanghoa ( SKBRI )

Hasil Munas Ke – 2

Antara lain : Mendesak dihapuskannya segala macam peraturan yang diskriminatif, Mensukseskan dibangunnya Taman Budaya Tionghoa Indonesia Taman Mini Indonesia Indah.

Hasil Rapat kerja Nasional Ke-VII

Membahas asset Milik orang Tionghoa yang disita tahun 1965, Penyusunan kepengurusan 2006-2009.

Bagi yang ingin mengetahui kegiatan PSMTI lebih lanjut silahkan menghubungi:

Kantor sekertariat Panguyuban Sosial Marga Tioanghoa Indonesia, Komplek Puri Delta Mas Blok H-8, Jln. Bandengan Selatan No. 43, Jakarta Utara 14450, Telepon : (021) 666-9248, 669-6553,669-5652, Fax : 6669-2274, Bankers : BCA Cabang ASEMKA Jakarta, Rekening No: 001-303-5030, Atas nama Panguyuban Sosial Marga Tioanghoa Indonesia.

Situasi terkini di Indonesia

Pak Teddy Memaparkan tentang apa yang terjadi baru-baru ini di Pontianak, dimana terjadi kerusuhan dan pembakaran rumah -rumah orang Tionghoa, diduga kuat sangat erat kaitannya dengan hasil Pilkada baru-baru ini yang dimenangkan oleh Gubernur orang Dayak dan Wagub dari golongan Tionghoa Karena selama ini sudah lama sekali kekuasaan di tingkat Gubernur dikuasai oleh orang Melayu. Perlu diketahui komposisi komunita di Kal Bar, 40 % adalah orang dayak disusul 30% orang Tionghoa dan sisanya orang Melayu dan Madura. Rupanya ada ketidakpuasan dari pihak golongan Melayu yang selama ini memegang tampuk kekuasaan, kendati pada zaman Sukarno dulu gubernur Kal Bar adalah dari golongan Dayak. Untuk itu Pak Teddy yang pernah ikut sebagai Jurkam pada pilkada kemarin menasehati kepada penguasa baru agar bersikap legawa tetap merangkul unsur-unsur Melayu dalam struktur pemda Kal Bar baru yang akan mulai dalam bulan January 2008 ini.

Saat ini diakui memang TNI dan Polri dalam posisi terpuruk, akibat catatan gelap dari masa lalu. Sekarang tidak banyak orang mau mencalonkan diri menjadi tentara, karena gajinya sangat minim sambil menunjukan dirinya sendiri selaku pensiunan Brig Jen beliau harus hidup dengan uang tidak lebih dari Rp. 2 juta sebulan. Jadi tentara dan Polisi belum tentu nantinya bisa menjadi pejabat , karena paradigmanya sekarang telah berganti. Alhasil TNI kekurangan pasokan SDM sekarang ini. Untuk Tionghoa masuk tentara sepertinya masih kedengarannya aneh selama ini , tapi untuk membuktikan bahwa Tionghoa juga bisa membaktikan dirinya selaku warga negara Indonesia sudah selayaknya harus lebih banyak komponen Tionghoa berpartisipasi kedalam semua profesi di NKRI . Sehubungan dengan itu Pak Teddy menyatakan diri sebagai relawan yang akan membimbing adik-adik Tionghoa yang berminat untuk masuk AKMIL (Taruna Akabri). Jadi bila mana ada yang mau kesana silahkan cari saja Pak Teddy.

Keprihatinan kita terhadap Indonesia saat ini adalah “Korupsi” yang merajalela, maka diminta kaum muda Tionghoa yang masuk dalam jajaran kepengurusan pemerintah agar jangan tergoda oleh hasrat mencuri atau korupsi. Sebagai perwira dari keturunan Tionghoa, tidak mudah mempertahankan karier dan kepangkatan, karena selalu menerima sorotan. Karena itu beliau selalu bertindak hati-hati agar tidak membuat kesalahan atau tergoda atas kekuasaan yang sangat mudah untuk melakukan tindak korupsi.

Pak Teddy sebagai anggota TNI sudah komit hidupnya untuk NKRI, maka walaupun apa yang terjadi beliau tidak mau menginggalkan Indonesia. Saya mau hidup sampai mati di Indonesia, masih banyak urusan yang harus dikerjakan untuk Indonesia. “Jangan samakan saya dengan para jenderal Taiwan yang pensiun tinggal di Amerika, menurut saya itu tidak etis”, cetusnya.

Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh DR.Frits Hong sendiri dan berlangsung sampai larut malam, banyak masyarakat yang datang dari jarak jauh untuk bertatap muka langsung dengan Pak Brig Jen ini.

Dalam kesempatan itu proyek Anjungan budaya Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah yang dibangun oleh Pak Teddy Jusuf mendapat saluran dana $3000 dari ketua umum ICAA, DR. Frits Hong .

Kemungkinan besar Pak Teddy akan bersafari kebeberapa kota di AS, seperti Atlanta, dan San Francisco untuk bertemu sapa dengan masyarakat Indonesia dalam waktu dekat ini. Pak Teddy juga akan kembali ke LA untuk mengekspos proyek anjungannya yang seluas 4.5 hektar lebih luas agar bisa mendapat dukungan dari saudara-saudara kita disini. Jangan lupa masih banyak cerita-dan laporan situasi terkini bahkan peristiwa yang lalu yang belum pernah diberitakan di media masa yang akan dituturkan oleh Pak Teddy Jusuf. Stay Tune!!

 

       

 


FastCounter by bCentral