Nellie Lake Second Trip # 4
Jusni Hilwan/Indonesia Media
Kalau Anda pernah kemping dan masak nasi di interior, tidak usah lah untuk
18 orang kelaparan, di tengah-tengah angin yang menderu puluhan km, untuk
beberapa anak Indo yang tahu nasi mateng seperti apa, baru Anda akan maklum
mengapa dua koki utama, Janti dan isteriku memutuskan memakai minute rice
azha dah. Kukira itu suatu keputusan atau perencanaan yang brilyan. Nasi
kami mateng terus, ya instant rice Uncle Ben yang tinggal disedu. Rasanya
juga not-too-bad dibandingkan makan nasi yang masih ada biji atau berasnya.
Hanya menu makan malam pertama di awal trip ini sudah membuat Bang Herry
jadi alergi dengan telor :-). Kenapa? Karena sambal goreng udang telor yang
dihidangkan, tadinya di-freeze dengan akibat telornya Bang Herry jadi masih
dingin ketika ia mau santap :-). Benny yang tinggi standard security-nya,
menganjurkan masakan itu di-freeze karena dimasak 3 hari sebelumnya, lantaran
kita tidak bisa afford 18 orang mencret berats di pendayungan hari pertama.
Akibatnya memang masakannya tidak seenak standardnya Janti sehingga ia terus
ngegerundel sampai kita teman-temannya Benny, mendukung keputusan tepat itu.
Interior camping memang menguji kekompakan suami-isteri, apalagi kalau sampai
ente salah bilang "mate lu kemane", ketimbang "are you OK honey" :-) :-).
Seminggu sebelum berangkat, para peserta yang semuanya punya Internet access,
sudah memantau ramalan cuaca atau seberapa dinginnya daerah barat cagar alam
Killarney itu. Ramalan awal adalah sekitar 10C di malam pertama, semakin
lama semakin menghangat. Suhu segitu, tanpa angin yang berarti, tanpa hujan
di dalam ramalan seakhir pekan, cukup oke, not bad. Tetapi saya tetap
menganjurkan rakyat untuk bersedia tahan dingin, antaranya membawa pakaian
hangat yang cukup disamping sleeping bag untuk yang tidak bawa isteri :-).
Ya, ada 2 cowok single yang sangat available dan calon suami yang kuanggap
oke bila Anda cewek single yang bisa diajak kempingan. Yang satu kuatnya
lebih daripada Samson sebab dulu katanya ia mbecak di kampungnya di
Kediri :-). Yang satu lagi kemampuan motretnya di atas rata-rata mat kodak
yang kukenal. Cocok sekali bila Anda cewek yang mampu menyelam. Kenapa? Ini
nanti ceritanya.
Eniwe, setelah selesai menyantap telor dingin :-), mengerek makanan ke atas
pohon, mengambil beberapa camilan termasuk kopi 3-in-1 ex Indofood, kami
ngobrol di sekeliling api unggun. Malam pertama itu, selain campsite masih
gratisan karena di crown island, juga kayu bakar di interior bersifat 'help
yourself cut it', d.p.l. gratisan. Kalau Anda tidak mau rugi bayar $ 10 per
malam kemping di interior, gergajilah satu pohon mati, so pasti kepulangan
modalmu :-). Kayu bakar yang dijual di campground car camping, tidak bisa
menang mutunya dengan kayu pinus kering yang umumnya kami peroleh dari hutan.
Kalau kayu itu sudah terbakar dan menyala, wanginya harum semerbak, perfume
isterimu ex toko kalah banget, kecuali ente pengantin baru :-). Ya, kita
yang sudah menikah tentu tahu, biarin si isteri mulutnya bau jigong ketika
bangun tidur, ia selalu harum wangi bila usia pernikahanmu baru semingguan.
Jangan entar kalu udah 32 tahun kawin, "duh bau lu, gosok gigi gih" :-).
Excited akan melihat lagi Nellie Lake atau paddling di danau dan sungai yang
saya tahu berkelak-kelok, asyik kalau belum lelah, jam 4 pagi saya sudah
bangun. Tidak mau mengganggu rakyat termasuk orang yang tidur di sebelahku,
saya diam-diam saja ngelamunin trip-tripku ke interior yang cukup untuk
bahan lamunan berjam-jam. Menjelang jam 6 saya keluar, menikmati mulai
terangnya langit di ufuk timur dengan planit Venusnya yang indah sekali.
Makanan kuturunkan satu katrolan, yang berisi food-pack saya dengan kopi
dan bran hidangan awalku di pagi hari. Pagi itu giliran saya dan nyonya
menghidangkan bubur ayamnya yang sudah terkenal sedunia. Tidak percaya
google-in azha. Ya, suatu ketika seorang anak Indo di luar batang kirim
email ke saya dan minta resep bubur ayam kami yang ia ketemukan ceritanya
di Internet. Singkat cerita, menu masakan pagi di hari kedua trip kami ini
adalah Bubur Ayam Cecilia, kumplit pake cakwee, bawang goreng, daun bawang
dan tongcainya. Bubur sepanci penuh hampir habis digasak dan kami pun
bersiap-siap untuk mendayung lagi, masuk ke Kill Me Park :-). Kog, bukannya
Killarney? Tunggu di kisah berikutnya.
|