Pengalaman Pahit Dicekal Police ICE
Bono Anggono
/Indonesia Media
Pagi itu seperti biasa klakson mini-bus jemputan kerja berbunyi memberi tanda
kehadirannya didepan apartemen. Segera Fitri (bukan nama sebenarnya) bergegas
masuk kedalam kendaraan yang akan membawanya bekerja disebuah perusahaan jasa
pengemasan di New Jersey, kira-kira 30 menit perjalanan dari Philadelphia, PA.
Fitri bukan penumpang pertama yang dijemput, didalam van sudah duduk beberapa
pekerja lainnya. Kendaraan bergerak perlahan untuk menjemput penumpang
berikutnya yang tinggal dijalan yang sama seratus meter didepan. Sesaat kemudian
tiba-tiba terdengar raungan sirene yang dibarengi sorot lampu menyilaukan mata
berasal dari mobil yang berada tepat dibelakang mobil jemputan. Kendaraan
diperintahkan untuk berhenti, seluruh penumpang panik, beberapa langsung
komat-kamit berdoa dan bertanya-tanya ada apa gerangan. Tiga petugas berjaket
Police ICE menghampiri dari sisi kiri, kanan dan belakang mini-bus. Salah
seorang petugas meminta sopir menunjukkan
kelengkapan dokumen kendaraan serta menanyakan status imigrasi, sementara satu
petugas lainnya menggunakan lampu senter mengamati seluruh penumpang melalui
kaca jendela dan petugas lainnya memerintahkan sopir membuka pintu bagian
belakang untuk memeriksa jika ada seseorang yang bersembunyi dikolong tempat
duduk.Petugas meminta seluruh penumpang menunjukkan ID. Dengan tangan bergetar
penumpang yang sebagian besar wanita mengeluarkan beragam ID yang berlaku
maupun tidak. Ada yang memperlihatkan ID swasta, ID keluaran gereja dan ID
kreatif yakni foto-copy passport yang diperkecil dan dilaminating. Yang terakhir
ini membuat petugas tersenyum. Petugas mengamati data ID dan mencocokkan wajah
setiap penumpang. Setelah menanyakan dan mencatat nama dan alamat perusahaan
tempat mereka bekerja, tiga police ICE ini kemudian berunding satu dengan
lainnya dipinggir jalan. Selang beberapa menit mereka kembali ke mini-bus,
mengambil dan memborgol penumpang pria.
Seluruh penumpang wanita dilepaskan namun diperintahkan untuk segera
meninggalkan Amerika karena mereka telah tinggal melampaui masa berlaku visa
mereka. Segera setelah petugas pergi seluruh penumpang sibuk menelepon
kesana-sini melaporkan kejadian yang baru mereka alami. Setelah mendengar
peristiwa penangkapan ini, para pekerja yang menumpang mobil antar-jemput
lainnya yang telah tiba lebih dahulu ditempat kerja bergegas pulang dan
memutuskan untuk tidak bekerja karena khawatir petugas akan datang menggrebek.
Melalui seorang rekan wartawan harian di Philadelphia yang menghubungi ICE
(Immigration and Customs Enforcement) , saya mendapatkan konfirmasi bahwa Police
ICE hanya menangkap over-stayer pria hari itu adalah faktor kebetulan belaka
bukan kebijakan mereka.
Nasib Cecep, sebut saja demikian, tidak sebaik Fitri. Tiga minggu sebelum
mini-bus Fitri dihentikan Police ICE, Cecep beserta seratusan illegal immigrants
asal berbagai negara sudah diterbangkan dari Pennsylvania ke Willacy County
Processing Centre-Texas, penjara immigrasi yang dapat menampung ribuan orang
tidak bersurat di Amerika.
Seperti Fitri, Cecep juga merupakan satu dari ribuan WNI yang tinggal dan
bekerja di Philadelphia dan sekitarnya.Fitri sudah hampir 10 tahun berada di
Amrik, Cecep baru beberapa bulan mendarat. Untung tak dapat diraih, malang tak
dapat ditolak. Bersama belasan WNI lainnya, Cecep kena cekal Police ICE
pertengahan Oktober lalu. Beberapa ratus meter mendekati lokasi pabrik tempat
Cecep bekerja, mobil van yang ditumpangi dihentikan polisi lalu lintas yang
telah menguntit sejak beberapa menit sebelumnya. Seperti biasa petugas tetap
tinggal dalam mobilnya sambil mengecek plat nomor van melalui komputer. Sesaat
kemudian tiba beberapa van bertuliskan Police ICE diluarnya mengepung van yang
ditumpangi Cecep dari berbagai arah. Seluruh penumpang diperintahkan menunjukkan
ID dan digeledah, kecuali pengemudi, status immigrasi penumpang lainnya tidak
jelas. Jam belum menunjukkan pk.07.00 pagi saat seluruh penumpang baik pria
maupun wanita diborgol dan digiring masuk
van petugas untuk selanjutnya diinterogasi dikantor immigrasi Callowhill Street
Philadelphia. Beberapa pekerja, dengan alasan kemanusiaan, dilepaskan petugas
dan kembali kerumah masing-masing sedangkan lainnya langsung dipindahkan ke York
County Prison di Pennsylvania sore itu. Setibanya di York, seluruh tahanan tidak
diperkenankan memakai ikat-pinggang dan tali sepatu dan satu per satu diperiksa
kesehatannya. Wajah para pekerja yang tertangkap menunjukkan keletihan,
penyesalan dan tekanan. Andaikan pagi tadi bangun terlambat, andaikan saya sakit
hari ini, andaikan saya tidak bekerja dipabrik ini...
Keesokan pagi, seluruh tahanan diperintahkan untuk bersiap karena akan
diterbangkan ke Texas. Pemberitahuan ini sangat mengagetkan karena mereka tidak
menduga akan dipindahkan ke Texas, ini berarti tempat yang sangat jauh dari
Philadelphia dan tidak ada rekan yang akan datang menjenguk. Ditengah
ketidak-percayaan mereka diangkut menuju airport yang tidak mereka ketahui
dimana lokasinya berada. Bersama seratusan tahanan immigrasi lainnya, sebelum
menaiki tangga pesawat, bagaikan teroris yang akan diterbangkan ke Guantanamo,
tidak hanya tangan yang diborgol petugas tetapi juga kaki! Beberapa tahanan
wanita nampak menangis menerima kenyataan ini. Tidak ada pramugari yang melayani
dan memberi makan dalam pesawat khusus ini, yang ada hanyalah Police ICE
bersenjata lengkap.
Setibanya di Willacy County Processing Centre- Texas, seluruh tahanan diperiksa
ulang kesehatannya, difoto dan diambil sidik-jarinya serta diberi baju tahanan
berwarna biru tua bernomor ID didada. Ruang tahanan lebih mirip bangsal besar
yang berisi ranjang susun dan kamar mandi. Tidak ada jam ataupun kalendar
penunjuk waktu, yang tersedia hanyalah papan catur, kartu dan permainan
monopoly. Setiap ruang dihuni oleh kira-kira 50 orang tahanan dari berbagai
negara dan WNI yang terpegang petugas dari beberapa state. Setiap tahanan
mendapat nomor account untuk menerima kiriman uang dari luar penjara dan dapat
digunakan untuk membeli kartu telepon, jajanan atau tiket pesawat ketanah air.
Seluruh percakapan melalui telepon umum yang tersedia dimonitor dan direkam
demikian para tahanan tidak dapat menjalankan bisnis narkobanya seperti di Nusa
Kambangan. Tidak peduli apakah dia seorang agent arogan, sub-agent yang sering
tidak bayar gaji, sopir pecandu narkoba,
leader bertaring tajam, bertugas pegang mesin atau pegang sapu dipabrik, semua
tahanan diperlakukan sama oleh petugas.
Mulailah hari-hari panjang, hari-hari penantian dalam tahanan dilewati Cecep dan
yang lainnya. Aktivitas rutin hanyalah tidur, makan, main kartu, olah-raga,
bersih-bersih, antri memakai telepon dan nonton televisi. Makan diberikan tiga
kali sehari termasuk susu, kopi dan juice didalamnya. Seminggu sekali tahanan
dapat mengajukan permohonan untuk bertemu dan berbicara dengan tahanan dari
bangsal lainnya. Sesama tahanan hanya dapat berbicara didua ruang berbeda
berpembatas kaca dan diawasi petugas. Minggu kedua seluruh tahanan diadili oleh
hakim immigrasi dengan didampingi pengacara dan penterjemah. Bagi mereka yang
tidak memiliki catatan kriminal selain menjadi over-stayer, dua pilihan
diberikan hakim : mengajukan status legal dengan membayar uang jaminan atau
kembali ketanah air setelah selesai menjalani masa hukuman.
Semoga anda dapat memetik pelajaran dari pengalaman pahit yang dialami Fitri dan
Cecep.
|