Nellie Lake Second Trip # 3
Jusni HilwanIndonesia Media
Perencanaan trip kami ke Nellie Lake ini bukan saja berlangsung mulai awal
tahun ini ketika kami mencoba nasib, apakah mujur bisa nge-book campsite di
Nellie Lake di akhir pekan Labour Day. Maklum cuma ada 3 campsite di danau
sepanjang beberapa km itu. Tetapi juga lewat 18 versi perubahan trip plan
kami, dari mulai urusan siapa memasak apa dan bilamana, berapa berat setiap
peserta untuk mengatur beban canoe, sampai ke rendezvous place dan checkpoint
stop untuk isi bensin. Baru pertama kali ini saya kemping dimana ada 6 canoe
@ 3 orang dengan total 7 tenda per campsite. Akibatnya ya poyeng rek, apalagi
di hari-hari terakhir beberapa peserta melaporkan ternyata timbangan mereka
sudah naik 5 10 kg saking makmurnya hidup anak-anak Indo di Toronto ini :-).
Karena tidak tahu persis beban yang mampu ditampung canoe sewaan merk Souris
River yang 16 feet (saya sering sewa yang 18.5'), maka saya ubah lagi dua
canoe assignment, siapa duduk di canoe yang mana. Alhasil ketika loading ke 6
canoe sudah selesai dan melihat hasilnya, semua serba balance dan freeboard
canoe kami tinggi sesuai dengan teori, hatiku puas dan lega. Sampai kulupa
untuk menyalakan GPSku padahal itu satu-satunya modal kompasku (saya lupa
membawa kompas manual kuno :-)). Akibatnya reading north-nya ngaco sehingga
saya salah instruksi untuk menyuruh canoe-canoe awal ke arah west yang kukira
east. Barulah setelah paddling beberapa ratus meter dan GPS-ku mulai menunjuk
arah yang benar, yakni kita menuju west, saya sadar bahwa salah arah. Namun
apa daya, isteriku udah gedheg banget ke GPS itu sebab saya ogah beli yang
baru. Ketika kukatakan, rasanya kita menuju west atau salah nih, ia suruh
saya buang azha itu GPS yang katanya sudah engga reliable. Jadilah kami
berkelahi dulu dengan akibat baru 15 menit kemudian, peserta di canoe
yang pertama melihat ada jembatan lalulintas di depan mereka :-). Sekarang
kami berdua, si jeha dan bininya yang hobi bengkelai, baru percaya sudah
salah arah sebab mana ada jembatan mobil di atas pendayungan ke Charleton
Lake, danau besar pertama yang akan kami arungi.
Namun, itu juga salah satu test awalku terhadap keluarga rookies yang sudah
kukemukakan oke punya. Kalau mereka complain padahal baru nyasar 2 x 15 menit
alias paddling extra setengah jam, aku sudah siap untuk mempersilahkan mereka
pulang balik azha ke Toronto, ihik ihik :-). Disitulah aku mereset semua
data GPS-ku ketika kami kembali mendayung menuju loading dock dan aku me-set
marking point I untuk dipakai sebagai koordinat tujuan balik nanti. Paddling
awal menuju suatu crown island atau pulau milik negara kami lakukan di atas
danau yang relatif tenang airnya. Di semua canoe, stern paddler atau pengemudi
sudah pernah ikut Jeha Outfitter trip sebelumnya sehingga mampu menyetir kanu.
Beberapa bow paddler, pendayung di depan, langsung mendapat kursus kilat
on-the-spot dari si bosku yang memperhatikan menyimak teknik mendayung mereka.
Sesuai rencana, setelah mendayung sekitar 1 jam-an, kami tiba di pulau
bernama Horseshoe Island lantaran bentuknya kaya tapal kuda. Hati lega tiga
kali, pertama pulau itu tidak dihuni campers lainnya, kedua, lahannya cukup
untuk menampung 7 tenda, ketiga, ada pohon besar sehingga kami bisa mengerek
makanan ke atas. Perlu Anda ketahui bahwa beruang bisa berenang sehingga
sesekali ada berita koran, penghuni pulau, campers yang ignoramus dan
menggeletakkan makanan mereka begitu saja, tewas digebuk dicakar beruang.
Hari masih siang atau belum waktunya untuk mempersiapkan makanan ketika kami
tiba di pulau. Jadi ada waktu tersisa untuk bermain kartu, mainan favorit
para sintingers bernama truf. Bila Anda belum tahu, mainan ini pada dasarnya
mirip dengan contract bridge, yakni dimulai dengan bidding, tapi dewek-dewek.
Artinya kita bid sendirian, mau mendapatkan berapa trick, 0 s/d 13 tergantung
bagusnya kartu kita. Yang membuat card game ini cocok untuk orang sinting
adalah jumlah bid dari 4 pemain, tidak boleh 13, artinya atau harus di bawah
itu atau di atasnya. Dengan perkataan lain, so pasti akan ada pemain yang
sial, engga masuk biddingnya, atau kelebihan atau kekurangan. Sebetulnya
sinting-sinting juga dibutuhkan kepiawaian bila Anda mau menang di dalam game
itu, strategi dan kemampuan menghitung kartu sisa seperti main bridge.
Sedemikian menariknya game ini sehingga di hari-hari terakhir, para remaja
yang ikut trip pun sudah kecanduan bermain truf, dasar calon sintingers :-).
Sekian dulu, sampai kisah berikutnya.
|