Usaha Resto – Bagian ke-14A

Kisah Sepucuk Pistol

Paris 10 Maret 1999 / Indonesia Media

Benda baru, barang baru dan sudah lama diimpi-impikan, sepucuk pistol. Waktu
kecilku dulu bila melihat seorang polisi atau tentara, dengan pistol
dipinggang, bukan main gagahnya. Menurut penglihatanku ketika itu, hanya
apabila seseorang polisi atau tentara pakai pistol, barulah dia polisi dan
tetara tulen, dan hebat.
Yang lainnya yang tidak pakai pistol, walaupun dengan pedang, apalagi hanya
pentungan, bahkan dengan senapang sekalipun, juga termasuk mitralyur, senapang
mesin, akh, itu sih samasekali tidak hebat. Yang hebat itu yang pakai pistol!
Demikianlah pikirku ketika itu. Dan kini menjelang umurku tak lama lagi
pensiun, aku bisa memiliki sepucuk pistol. Dan atas nama resto dan direktur
kami, Pascal, lengkap dengan surat-surat resminya, dan perjanjian yang harus
ditaati dengan keras.

Tentu saja dalam hari-hari pertama, benda mengkilat kehitaman itu selalu
saja kugosok-gosok, kuciumi dan baunya yang terasa enak, bau mesin yang
halus, terus kuelus-elus. Kubungkus dengan saputangan merah, dan alat
pengelapnya agar terus mengkilat, kubelikan sebuah saputangan beledru dan
sutra berwarna kemerahan, warna merah mawar-muda. Barangkali kalau ada orang
melihatku bertingkah-laku demikian, dengan senyum dan rasa
bahagianya, tentulah akan berpikir, mungkin orang ini rada sinting atau
gendeng.

Tentu saja kalau malam-malam pulang dengan tas-ransel yang banyak uang
itu, aku merasa lebih aman dan ada rasa percaya-diri. Sedikit saja ada
gerak-gerik yang kira-kira mencurigakan, tanganku sudah masuk ke dalam
sela-sela tas-ransel dan memegang gagang pistolku. Walaupun banyak
gerak-gerik atau sedikit saja yang kuanggap pertanda, awas hati-hati, siapa
tahu orang-orang ini mau merampok, maka aku siap-siap mencari gagang
pistolku. Terkadang pistol itu kusimpan dalam kantong, terkadang kuselipkan
di pinggang antara ban dan celana pantalon, dan terkadang dalam tas-ransel
dekat amplop uang dan buku pembukuan resto.

Tetapi bila aku sedang tidak membawa uang, maka pistol itu terkadang
kutinggalkan di rumah saja. Untuk apa dibawa-bawa, kan keberadaannya hanya
karena untuk melindungi hartabenda dan uang resto. Sayangnya pikiran
pendapat begini tidak lama. Kupikir, orang jahat kan tidak tahu apa itu
isinya yang dalam tas-ransel, apa ada uang atau tidak. Tentu mereka akan
selalu menyangka pastilah ada benda berharga, uang atau katakanlah
perhiasan. Maka berkembanglah pikiran dan pendapatku yang saling
tumpangtindih. Dan lagi bukankah pada periode tertentu, aku pernah selalu
diikuti intel, informan dan siapa tahu mata-mata dari KBRI atau langsung
petugas dari Jakarta buat menculikku?! Dalam hatiku, siap-siap sajalah, orang
jahat itu bukannya sedikit, dan kapan akan melakukan kejahatan, dia kan tidak
akan mengatakannya. Karena "peperangan" pendapat dan pemikiran yang ada
dalam kepalaku ini, maka kuputuskan sajalah, selalu bawa pistol, dengan
tambahan alasan, demi keamanan diri sendiri.

Mungkin dan siapa tahu, semua gerak-gerik yang kuanggap
mencurigakan, jangan-jangan hanya perasaanku saja. Padahal siapa tahu
sebenarnya tidak ada apa-apa, biasa-biasa saja. Dan secara tanpa
sadar, lama-lama terasa, sebenarnya dengan adanya sepucuk pistol ini, apakah
aku merasa lebih aman atau ada rasa lain tertentu yang justru membuatku
lebih gelisah. Pertanyaan ini tidak pernah bisa terjawab, tetapi ketika aku
sedang tenang, jernih, sedang kosong, maka terasa dengan adanya sepucuk pistol
itu, watakku, tabiatku agak berubah. Berubah bagaimana? Rasanya malah
sebaliknya dari dulu itu, di mana ketika aku tidak punya senjata itu, malah
lebih bisa berpikir panjang dan agak jernih. Kini setelah punya
pistol, malah ada terasa lebih berani, bahkan lebih mau galak, mau lebih
beringas, dan sepertinya agak mudah terpancing dan terprovokasi. Lalu
terpikir padaku, pantas saja polisi dan tentara itu pada
galak-galak, sok-sokan, pada beringas dan beringas itu selalu saja kepada
orang lemah yang tidak punya daya apa-apa, tidak punya senjata, kongkritnya
kepada rakyat kecil.

Lama juga aku "berperang" dengan diriku sendiri ini. Menyelidik diri, periksa
diri. Dan terkadang jauh ke belakang, dan sampailah kepada titik-awal
kehidupan. Ketika sebelum peristiwa-besar-nasional tahun 1965, aku selalu
bekerja dan mendapat pekerjaan yang sejajar, paralel dengan kesukaan dan
kecintaanku pada bidang tersebut. Tetapi sesudah itu, keadaan menjadi
berubah dan sampai kini. Apakah perkaranya? Bahwa sekarang ini aku bekerja
karena keharusan, karena kewajiban, karena keterpaksaan dan harus begitu, dan
bukan karena kesukaan dan kecintaan. Tetapi aku menyadari dan memang
kujanlankan, bahwa sekali pekerjaan itu terpegang, haruslah berusaha
mencintainya, paling tidak harus bertanggungjawab penuh, sukur-sukur kalau
bisa mencintainya secara langgeng.

 

       

 


FastCounter by bCentral