Usaha Resto Bagian ke-13B

Indonesia Media

Setiap aku pulang malam, dan ada orang-orang yang patut dicurigai , apalagi

anak-anak muda yang tampangnya tampak beringasan, sangar, maka diri ini sudah

mulai curiga dan sudah pasang kuda-kuda. Kira-kira bagaimana cara

melawannya, cara mempertahankan tas ini, dan akhirnya sebuah perkelahian yang

tak seimbang, antara anak-anak muda yang kuat-gagah dengan orang tua yang

hampir pensiun.

Lama sekali aku berpikir tentang keamanan diri selama selalu membawa uang

ini. Ada beberapa teman yang sudah kena jambret, pukulan, dirampok. Dan

bukannya mustahil siapa tahu akan tiba juga giliranku

pada suatu kali. Akh, jangan sampailah! Sehingga tibalah pada satu keputusan

dalam hati. Aku harus menemui direktur kami, Pascal. Aku minta dipersenjatai

demi keamanan keuangan resto. Sungguh aku tidak merasa aman selalu membawa

uang begini. Aku minta dipersenjatai dengan sepucuk pistol demi menjaga

diri, dan demi menjaga keuangan resto.

Aku datang pada Pascal, dan kukemukakan pendapatku ini. Dia tertawa

terbahak-bahak mendengar penjelasanku ini.

"Akh kau ada saja Simon. Aku saja yang hidup di tengah ratusan kaum

imigrant di beberapa asrama itu, yang penghuninya selalu saja berkelahi, tokh

tidak memerlukan pistol".

"Ya, Anda masih muda dan kuat, dan banyak pembela dan pengawalnya. Saya?

Sudah tua, selalu sendiri dan selalu membawa uang. Dan uang ini uang semua

teman, uang resto. Sekali dirampok, habislah gaji satu bulan, darimana

mendapatkan penggantinya. Saya tidak sanggup mengganti, kan Anda tahu

sendiri, darimana sumber saya kalau tidak ada resto ini", kataku bertahan.

Dan banyak lagi kukemukakan pada Pascal, betapa aku memerlukan pistol itu

buat mempertahankan diri dan mempetahankan harta-benda resto yang selalu

kubawa-bawa.

Pascal tidak meng ya kan dan juga tidak membantah alasan-alasanku. Tetapi

kulihat dia juga banyak dan lama berpikir tentang alasan yang kukemukakan.

Dalam pada itu waktu terus saja berjalan, dan aku terus saja selalu gelisah

dan tidak tenang, terutama kalau menjelang pengumpulan uang buat persiapan

terima-gaji buat kami seluruh pegawai resto.

Suatu hari mendadak ada tilpun dari Pascal buatku. Dia minta aku datang ke

asrama orang-orang dari Afrika yang dia jadi direkturnya. Segera aku

memenuhi panggilannya.

"Jadi betul dan tetap saja kau berpendirian mau punya pistol itu?", kata

Pascal begitu aku duduk di hadapannya.

"Ya, dan tetap begitu pendapat saya", kataku.

"Apa kau bisa menggunakannya, pernah, dan tahu gunanya kapan harus

digunakan?!", agak keras dia mengatakan ini. Dan kuceritakan apa adanya yang

pernah aku tahu dan alami. Termasuk terpaksa aku menceritakan bahwa aku

sudah pernah dan lama menggunakan pistol ini. Dulu ketika kecil bahkan

ketika di SD, aku sudah tahu dan pernah menggunakan pistol kepunyaan ayahku.

Ayahku seorang mantri kehutanan, -boschwezan, di zaman Belanda. Dia punya

browning, lalu lee enfield, dan aku pernah belajar menembak, dan ayah yang

mengajarkan. Ayahku seorang pemburu, jelas suka berburu rusa, kijang bukannya

orang. Di rumah kami penuh dengan sangkutan pakaian dan baju yang terdiri

dari tanduk rusa dan kijang. Ayahku mencatat selama hidupnya dia sudah

menembak rusa sejumah 56 ekor, rusa besar-besar, dan puluhan kijang serta

ratusan kancil, pelanduk. Ayah punya senapang double-loup, senapang berlaras

dua, lalu beberapa senapang dan jenis pistol lainnya. Dan sesudah aku

dewasa, lagi-lagi aku bertemu dengan berjenis pistol dan senapang ini.

Sebenarnya aku sangat tertarik dengan berjenis senjata beginian. Tak

usahlah kuceritakan hal-hal yang bikin rumit orang lain!

Pokoknya Pascal dengan keras seperti mengadakan ujian kepada seseorang yang

akan ditentukan lulus tidaknya.

"Untuk apa kau mau punya pistol?".

"Buat berjaga-diri, bertahan dan mempertahankan harta-benda resto dari

perampokan dan perampasan".

"Kapan tepatnya kau akan menggunakan dan meletikkan pemicunya?".

"Ketika tidak ada lagi jalan lain, terpaksa dan dalam keadaan bertahan diri

dan membela diri, di mana harta dan nyawa kita sangat terancam dan sangat

kritis".

"Kau tahu apa arti harga sebuah peluru?!"

"Adalah jiwa seseorang", kataku mantap.

"Betul kau mengerti menggunakannya, dan kapan kau terpaksa menggunakannya?".

"Saya akan menggunakannya kalau betul-betul terpaksa dan tak ada jalan

lain, di mana harta-benda dan jiwa saya harus dilindungi dengan pistol

itu", kataku lagi.

"Kau harus bertanggungjawab penuh dengan pistol itu. Kau tahu kalau terjadi

di luar semua yang kau katakan, tidak hanya kamu yang masuk penjara tetapi

aku juga masuk penjara akibat perbuatan kamu, mengerti kamu?!".

"Ya saya mengerti sepenuhnya, dan saya akan menjaganya dengan

memperhitungkan semua akibat yang Anda katakan tadi", kataku mantap.

Dalam hatiku, semoga saja pistol itu tidak akan sampai diletuskan. Sebab

kalau sebuah saja peluru ke luar, artinya ada sebuah jiwa yang

hilang, seseorang lain atau aku sendiri. Dan terasa dalam diri ini, sudah

lama benar aku ingin punya pistol begitu.

 

       

 


FastCounter by bCentral