Ceng Beng A la Mexico

Bono Anggono / Indonesia Media

Masyarakat Tionghoa mengenal tradisi Ceng Beng (Qing Ming) yang jatuh pada bulan April, saat seluruh anggota keluarga berkumpul membersihkan makam dan melakukan upacara sembahyang menghormati leluhur mereka yang telah mendahului. Tradisi serupa berbeda bentuk dimiliki masyarakat Mexico dan negara Amerika Latin lainnya yang mereka rayakan sebagai Day of the Dead.

 

Empanadas, roti berbentuk tulang rusuk yang mengingatkan akan mereka yang telah tiada disiapkan. Sanak keluarga berkumpul membersihkan dan menghias altar. Persembahan garam di altar menyimbolkan bumi dan membersihkan jagat raya dari roh jahat. Lilin yang menyala menerangi jalan leluhur pada kehidupan abadi. Hiasan tengkorak yang terbuat dari gula dan coklat merupakan dekorasi yang tidak terlewatkan.

Pada hari ini, Day of the Dead dikisahkan mereka yang tiada akan kembali mengunjungi sanak keluarga untuk menyantap makanan kesukaan mereka yang telah disediakan.

 

Perayaan Day of the Dead, ujar Cathy Bosley, seorang pustakawan di Mexico merupakan perpaduan antara tradisi Katholic yang dibawa orang-orang Spanyol ke Mexico dan tradisi penduduk pribumi. Mereka yang merayakannya kadang berpenampilan dan meniru anggota keluarga mereka yang telah meninggal untuk menunjukkan ketidak-takutan mereka. Sementara mereka yang tidak memiliki altar dirumah, merayakan hari ini dengan membersihkan dan menghias makam yang dilanjutkan dengan tarian dan pesta sepanjang malam.

Day of the Dead yang berdekatan dengan Halloween berlangsung dua hari yakni pada 1 November (All Saints' Days) dan 2 November (All Souls' Days) dirayakan dengan penuh suka cita. Bagi mereka kematian bukanlah suatu akhir melainkan babak baru dari suatu kehidupan. Di Brazil, Day of the Dead merupakan hari libur nasional. Selain Amerika Latin, perayaan ini juga dilakukan di Filipina (Foto-foto dari Yahoonews).

 

       

 


FastCounter by bCentral