"Kamu Ketuaan Berkuasa Lagi"

Berpolitik.com /Indonesia Media

"Kok cuma sebentar? tapi kayaknya seru juga," begitu komentar yang masuk ke SMS panitia pelaksanaan Ikrar Kaum Muda Indonesia.

Sebentar? Kalau melihat dari tayangan live Metro TV, acara itu memang terasa begitu pendek. Maklum, yang ditayangkan hanyalah bagian akhir penghujung acara: pembacaan ikrar dan penyulutan obor kaum muda.

Yudi Latif yang kebagian tugas membacakan ikrar itu menjalankan tugasnya dengan hikmat. Di atas panggung Yudi tak sendirian. Di belakangnya tampak sejumlah orang muda lain. Beberapa di antaranya: Agung Putri, Rieke Dyah Pitaloka, Fajrul Rahman, Ray Rangkuti, Budi Tanuwibowo, Sukardi Rinakit, Faisal Basri, Azwar Zulkarnaen, Sri mumpuni, Sri Palupi, Saeful Tavip, Saiful Bahri, Bima Arya S, Chalid Muhammad, Romo Benni, Romo Sandyawan, Usman Hamid dan Hilmar Farid.

Usai pembacaan ikrar, Agung Putri dan Fajrul secara simbolis menyalakan obor yang lantas diikuti dendangan lagu "saatnya kaum muda memimpin" yang dilantunkan Franky Sahilatua. Sejatinya, syair lagu ini merupakan gubahan dari lagu "Saatnya Kejujuran Memimpin" yang pernah didendangkan pula oleh Franky menjelang pemilu 2004 lalu bersama sejumlah aktivis lain yang tergabung dalam koalisi besar anti politisi busuk.

Pembacaan ikrar ini dihadiri tak kurang seribu orang yang berkumpul di halaman dalam Gedung Arsip Nasional di bilangan Gadja Madah, Jakarta Barat. Di antaranya terlihat antara lain Mudji Sutrisno, Din Syamsuddin (PP Muhammadiyah), Rizal Ramli (ekonom), Denny JA (LSI), Sys NS (Partai NKRI), Hanif Dhakiri (eks PKB), Jacobus Eko Kurniawan (aktivis 98), Budiman Sudjatmiko (PDIP), Indira Damayanti(politisi perempuan), Indah Dahlan (Paramadina), Sabri Saiman (politisi PAN), Hamdan Zoelva (politisi PBB) Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina), Isra Ramli (peneliti LSI), Beathor Suryadi (aktivis PDIP), Rama Pratama (aktivis 98, anggota DPR dari PKS), Pius Lustrilanang (Sekjen Partai Demokrasi Pembaharuan), Ferry Juliantono (Prodem), Farid Faqih (Gowa).

Dan, tentu saja ada Benny G Setiono, Bondan Gunawan dan Sudaryanto yang juga menjadi bagian dari mereka yang menjadi penggagas acara ini. Beberapa penggagas lainnya seperti Maruli Gultom dan Radhar Tribaskoro berhalangan hadir.

Sebelum puncak acara itu, ada serangkaian acara pendahuluan, dari mulai kesaksian para korban pembangunan, pembacaan puisi, atraksi grup musik Stadela maupun pertunjukan anak-anak ciliwung merdeka. Totalnya, ada dua jam. Jadi, tidak sebentar.

Jadi tidak sebentar jika menengok perjalanan sampai ke Gedung Arsip Nasional itu. Pada mulanya, ada berbagai pertemuan yang berjalan sendiri-sendiri. Entah mengapa, semuanya mengerucut pada satu gagasan yang mirip: kepemimpinan kaum muda. Tatkala dipertemukan, tentu saja ada dialog yang cukup hangat. Tapi, perbedaan perspektif tak menghalangi semangat yang sama:saatnya kaum muda memimpin.

Regenerasi Bukan Hadiah
Ikrar ini jadi tambah seru karena berkembang menjadi polemik. Di hari yang sama(28/10), Menpora Adyaksa Dault malah mengumandangkan ajakan yang anti kaum muda. Menurut mantan ketua KNPI ini, pemuda jangan bermain di kategori politik. Kemarin (29/10) juga keluar tanggapan agar kaum muda tak sekadar menuntut hak tapi harus berbuat.

Hari ini(30/10) di kolomnya di harian Kompas, Sukardi Rinakit mengkonfirmasi adanya dugaan bahwa kumpulan kaum muda ini ingin diarahkan untuk mendukung capres tertentu. Sebelumnya, pernah pula ada pendapat, gerakan kaum muda ini merupakan pengembangan dari gagasan "potong satu generasi" yang pernah dikumandangkan beberapa waktu silam.

Sebelumnya, juga sempat mencuat pertanyaan usang: siapa yang dimaksud kaum muda? 50 tahun ke bawah? 40 tahun ke bawah? AGung Puteri, aktivis Elsam, dalam orasinya di acara pembacaan ikrar menyatakan, yang dibutukan tak sekadar kaum muda dalam segi usia tapi juga muda dalam pemikiran. Kaum muda yang sudah terhanyut dalam kebusukan politik hari ini, tentunya sulit untuk diharapkan.

Pertanyaan kemudian bergulir kepada mereka yang berstatus anggota partai politik? Lagi-lagi, status politik bukan soal, sebenarnya. Dengan jernih, Budi Tanuwibowo dari Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) menegaskan kriteria kaum yang dimaksud. Dalam orasinya malam itu Budi menggariskan kembali arti pentingnya satu kata dan perbuatan.

Ketika gagasan saatnya kaum muda memimpin dikumandangkan, tak bisa lain ditafsirkan bahwa telah terjadi kemacetan regenerasi kepemimpinan politik. Jika di dunia bisnis, regrenerasi itu berjalan alamiah dan cepat, di dunia politik, lumayan seret. Ini terutama sekali langsung terlihat di partai politik.

Rektor Universitas Paramadina, Anis Baswedan pernah menyatakan, partai politik (parpol) di Indonesia tidak memberikan peluang yang bagus bagi generasi muda untuk mengembangkan potensinya. Padahal, dengan rekruitmen dan memberi kesempatan yang besar pada generasi muda maka itu menunjukkan parpol sudah berpikir untuk jangka panjang.

Yang dikatakan Anis dipekuat oleh kesaksian Rieke Dyah Pitaloka, artis yang juga kader PKB. Menurut Rieke, di parpol kaum muda hanyalah asesoris.? Mereka terang-terangan bilang kepada saya, kamu perempuan, kamu pemain sinetron, bisa apa? Tidak hanya di pemerintahan itu terjadi, maka jika ada yang menyatakan seperti itu lagi, saya akan katakan, saya bisa disini mengajak kebaikan!? katanya.

Tapi, barangkali, ada benarnya juga. Regenerasi politik bukan sebuah hadiah, tapi sesuatu yang harus direbut. Memang benar, dalam batas-batas tertentu, oligarki kaum tua nan konservatif memang akan menjadikan kaum muda sebagai asesori dan figuran belaka. Tapi, secara umum, demokrasi kita telah berkembang ke arah kompetisi yang lebih terbuka.

Jadi, jalan masuk untuk meraih kepemimpinan politik sebenarnya untuk sebagian berpulang kepada kaum muda sendiri. Menyiapkan diri agar mampu menggerakkan publik agar menjadikan dirinya sebagai preferensi utama pemimpin politik. Ini memang bukan pekerjaan yang mudah dan murah.

Kontestasi yang terbuka pada gilirannya mengandaikan ketersediaan sumber daya. Tapi berbeda dengan kaum tua yang berpaling kepada para cukong dan konglomerat hitam, kaum muda mesti berpaling kepada rakyat. Jika dari mereka dana mengalir, kepemimpinan kaum muda tinggal selangkah lagi.

Tapi, ya, jalan ke arah itu, pastilah terjal.Meski terjal tak apalah karena bukankah kita sudah bosan dengan yang itu-itu saja?

Jadi, ingatlah terus lagu "ketuaan" yang merupakan plesetan dari lagu "Ketahuan" dari grup Matta yang sedang kondang saat ini. Syairnya digubah oleh Kahar salah seorang pegiat dari Komunitas Kota Kita. Lagu plesetan ini dengan riang dinyanyikan Stadela malam itu,

       

 


FastCounter by bCentral