|
|
Usaha Resto Bagian ke-13A
Kisah Sepucuk Pistol
Paris 9 Maret 1999 / Indonesia Media
Jarak resto - rumahku, kira-kira 15 km. Dua kali pindah metro(RER). Aku tinggal di pinggiran kota Paris sebelah Timur. Perjalanan begitu turun dari tangga rumah sampai tangga resto, kira-kira 45 sampai dengan 50 menit. Kalaudinas malam, sampai di rumah menjelang jam 24.00 terkadang menjelang jam 01.00. Sebenarnya kalau soal pulang malam bukanlah persoalan benar. Tetapi aku bepergian selalu dengan tas-sandang sejenis ransel. Dan isinya bermacam keperluan pekerjaan, seperti clips, jepitan surat, celotape, penghapus, karet, berjenis potlod, conte, gunting, buku dan pembukuan resto dan, ini yang penting, uang! Uang ini adalah penghasilan resto selama satu - dua atau tiga hari itu. Terkadang aku membawa uang sampai 5000 francs. Uang ini buat disetorkan ke bank. Tetapi kalau tak keburu waktu, karena bank sudah tutup, maka kubawa pulang. Kalau sudah lewat pertengahan bulan, misalnya tanggal 17 setiap bulan, aku sudah mulai
mengumpulkannya buat keperluan membayar gaji teman-teman. Tidak boleh lagi disetorkan ke bank, sebab uang buat keperluan itu paling sedikit harus mencapai jumlah 30.000 francs, bahkan terkadang belum cukup. Sebab tergantung berapa banyak jam-kerja seseorang pegawai dalam bulan itu. Setiap bulan tidak selalu sama. Dan uang ini karena keperluan itu terpaksalah
mondar-mandir antara resto dan rumahku. Dan uang itu pada masa-masa menjelang pembayaran gaji harus selalu dibawa, di dalam ranselku itu.
Kalau siang hari aku samasekali tidak merasa takut, tetapi tetap harus waspada. Di Paris, pencopeten, rampok, jambret, dan tindak kekerasan tidak kalah dengan Jakarta. Maka aku benar-benar harus waspada, harus selalu berhati-hati. Kalau tasku ini dirampok, dijambret, dan aku ditodong, maka gaji teman-teman tidak bisa dibayar. Dan aku tidak mungkin mampu menggantinya. Jadi bagaimana? Isi dalam tas ini adalah jiwa kami bersama. Jiwa bulan perbulan dari kehidupan kami. Dan pernah terjadi pada beberapa teman kami yang kena rampok, kena jambret dan kena pukulan, dikeroyok ketika pulang malam dari resto. Dan tasnya dirampas. "Untung" saja tak banyak barang berharga, yang hilang berupa surat keterangan, KTP, atau
kartu-kredit. Tetapi tetap saja menyusahkan, karena harus berhubungan dengan kantor-polisi buat melaporkannya dan mengurus penggantian yang baru. Ada juga uang, tetapi tidak banyak. Sudah kuceritakan, mana ada kebiasaan orang Paris membawa uang likid dalam jumlah banyak. Tetapi aku? Ini adalah uang resto, dan uang kami bersama, uang gaji pendapatan hasil kerja keras, banting tulang kami bersama. Dan kalau hilang, kalau dijambret, dirampok? Mau apa aku?
Pertanyaan ini selalu bergalau dalam kepalaku. Dan hidupku ketika sedang mondar-mandir membawa uang itu, selalu gelisah, tidak tenang, kuatir, dan selalu harus hati-hati. Bila pulang malam hari, banyak menemui anak-anak muda yang kelihatannya mencurigakan, selalu saja hati ini kuatir, gelisah dan harus selalu siap. Sebenarnya siap itu sendiri akupun tak tahu, tak jelas, akan bagaimana jadinya. Apakah aku akan melawan, akan berteriak, membalas pukulan anak-anak muda yang kuat dan gagah itu? Inipun belum jelas jawabannya. Tapi yang sudah pasti, orang jahat itu tentu saja tidak akan begitu mudah merebut tas ini, dan aku tentu saja tidak akan
menyerahkan-diri dan menyerahkan tas itu. Artinya bagaimanapun tua dan ringseknya tulang ini, ya, berlawanlah sedapatnya dulu.
Tetapi hal inipun bukannya gampang, dan mudah direka-reka. Orang jahat itu tipu-daya dan gerak-tipunya tidak dapat diperhitungkan secara tepat. Bukankah perkelahian dan peperangan itu adalah tumpuan gerak-pukul dalam segala jurus tipuan demi melemahkan dan membasmi musuh?! Dan inipun masih dalam teori di kertas. Sedangkan dalam kenyataannya sama sekali tergantung dari diri perorangan yang berperang dan bertempur, artinya juga dalam
perkelahian itu.
Selama aku menjabat sebagai penanggung jawab keuangan dan membawa uang ke mana-mana
itu, rasa kuatir, takut, cemas dan tidak tenang selalu membalut diriku. Kalau kebetulan dalam tas memang sedang tidak membawa uang, ada rasa sedikit tenang. Tetapi orang jahat tidak akan tahu apakah dalam tas itu sudah pasti ada uang atau tidak ada uang. Jadi tetap saja harus berhati-hati, paling tidak jangan sampai dipukul orang, jangan sampai dijambret orang, walaupun jelas uangnya kebetulan tidak dibawa.
| |