Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 58 (Tamat)
Indonesia Media/Jusni Hilwan
Ke Indo ini, sebagai layaknya orang waras, saya masuk travel-medical insurance
(Amex Global Assist). Hampir saja terjadi proses claim tadi pagi, ketika
bajaj yang kutumpangi memotong ke kanan satu mobil yang sedang mau ke kiri.
Hampir saja kumenyebut Ya Tuhanku ..., kalau tidak kulihat bahwa mobil itu
mengkilap alias mahal bo. Jadi si supir mobil mengerem menghindari tabrakan
dengan supir bajaj yang keturunan monyet :-) yang bergegas membawaku ke kolam
renang Tirta Mas. Semuanya terjadi lantaran mobil pinjamanku sama tuanya
dengan pesawat-pesawat terbang di Indonesia ini, setiap saat ia bisa mogok.
Untungnya Toyota Kijang mogoknya di darat dan kapal Adam Air bisa di udara:-(.
Jadi terpaksa saya numpak bajaj pergi berenang sebab sepeda tidak ada di rumah
ini, motor apalagi. Begitulah caranya kita hidup di kota seperti di Jakarta,
kata Bung Karno: ber-vivere pericoloso. Buat ente yang kaga kebagian pernah
dengerin pidato Pemimpin Besar Revolusi kite entu, artinya hidup yang tidak
membosankan seperti para prenku di Amerika Utara :-). Bagusnya naik bajaj
adalah selain kita bisa lebih dekat dengan kehidupan rakyat, memantau dengan
kecepatan slow-motion denyut nadi kehidupan di ibukota, juga kita bisa memetik
bunga cempaka di pinggiran jalan, yang sudah lama tak kucium wanginya :-).
Satu fenomena yang mungkin biasa bagi Anda tetapi menyedihkan untukku, di
trayek ke Tirta Mas, bajaj melewati sekolah TK-SD mewah di komplek apartemen
Pasadena di Pulo Mas bernama Sevilla School. Tidak ada yang kulihat ngedrop
anak murid skul itu yang pakai bajaj, tapi semuanya sedan mengkilap, sampai
memadati jalan karena 2 lapisan. Ketika satu pak supirnya berhenti, ia dengan
susah payah menarik keluar seorang bocah yang terokmok :-(. Dari mobil lain,
nongol seorang anak lain yang tak kalah gendutnya. Begitulah nasib anak-anak
Anda di kota ini, sudah tidak lagi bersepeda berjalan-kaki ke sekolah dengan
akibat mereka pada overweight. Kalau pemandangan seperti itu ada di Texas,
Amrik, kutak-akan heran sebab porsi hamburger buat anak-anaknya pun tidak
bisa kuhabisi saking guedenya. Ini kan di tanah Melayu yang menurut data
statistik BPS, 37 juta lebih penduduknya alias se-Kanada, ada di bawah garis
kemiskinan.
Fenomena lainnya yang masih tetap menarik adalah larisnya orang jualan roti
di kota ini. Ketika baru buka, antrian pembeli di toko roti bernama Breadtalk
sepanjang beberapa puluh manusia dan suwer kulihat dengan mata kepala sendiri.
Oleh karena itu, ketika kemarin seng-iseng aku jalan-jalan di Mal KG 3,
melihat antriannya 'reasonable', kubeli beberapa buah roti disitu. Memang
rek, rotinya enak sekali sebab ... serasa roti :-) :-). Jauh lebih emphug
dari roti gambang yang kubeli di Bandung, tombo kangen. Iya, kenape Breadtalk
engga jual roti gambang ye. Eniwe, fenomena jualan roti ini sepertinya,
semakin mahal harga suatu toko roti, semakin orang antri membelinya. Perilaku
manusia model begini khas di Betawi sebab di Cibaduyut tentu semakin murah
suatu jualan, semakin orang mau membelinya. Terbukti lagi ketika anak dari
sepupuku, yang sekolah S1 Food Science di Ustrali, sekarang jualan cookies.
Ia menghantarkan beberapa jenis cookies yang dijualnya (di mal mewah) satu
kotaknya Rp 50 ribu, padahal isinya bangsa 10 biji kue sebesar jempol.
Beginilah caranya orang membiayai anaknya sekolah di luar batang :-). Emang
manusia Indonesia panjang akalnya dan hebat ilmu jualannya.
Hari-hariku berliburan di Betawi, kota kelahiranku, tempat tumpah darah beta
sudah semakin tinggal sedikit. Sudah kukatakan pakansiku disini bak kemping
di cagar alam. Bukan saja setiap pagi kuberenang bolak-balik di "danau tak
berombak" Goldwater Lake alias Tirta Mas yang airnya lumayan semakin jernih
(sebab cindil-cindil yang mengencinginya sudah pada masuk sekolah :-)), juga
bila aku boker, mirip dengan di box di cagar alam Kanada. Lho kog? Yah, cairan
anti nyamuk berisi Deet yang kubawa sudah tinggal setengah botol isinya. Sebab
sebelum aku menunaikan tugas alamiah itu, maap ye, pantatku dan selangkanganku
kusemproti Deet :-). Tak lain karena daerah Pulo Mas tempat tinggalku bila
ada di Indo, merupakan daerah persemaian nyamuk-nyamuk. Barangkali bisa
disamakan dengan Winnipeg, kota dengan populasi nyamuk terbesar se-Kanada.
Dengan teknik a la kempingan itu, bukan saja daerah empuk di tubuh kita akan
bersih dari bentol-bentol, juga bau cairan itu mengingatkan seolah-olah kita
sedang duduk di atas box atau kotak WC di cagar alam Kanada, bukan di
daerah perumahan Villa Tanah Mas di Pulo Mas :-). Asyiknya pakansi di Betawi.
Sesekali tidak nyetir dan menjadi penumpang di mobil memberikan kita lebih
banyak keleluasaan untuk memantau keadaan sekeliling jalan yang kita lewati.
Kalau di kunjungan beberapa tahun lalu saya melaporkan munculnya motor-motor
murah(an) ex Cungkuo, dengan merek seperti Jia Ling, Ma Ling :-), Ciao Tung,
Bun Tung :-), dapat saya update bahwa semua motor tersebut sudah buntung
alias ga laku lagi di Jakarta ini. Yang sekarang kulihat merajai adalah merek
Honda dan Yamaha. Jadi kalau di depan mobil Anda berseliweran puluhan motor
sekaligus, bak blackflies di acara kemping di cagar alam Kanada bulan-bulan
ini, mayoritas adalah merek Honda. Yang juga menarik prens, cewek-cewek yang
dibonceng masih banyak yang duduknya nyempong, ngerti yah? Entah darimana
asalnya cara duduk model di Indo ini sebab tak pernah kutemui kulihat
dilakukan oleh penumpang perempuan di negeri manapun. Tak salah lagi, asalnya
tentu lah karena di jaman dahulu kala, ibu nenek kita memakai kain sarung.
Gimane dong mereka mesti duduk ngangkang kalau sarungan begitu :-).
Oya, belum lama ini aku melaporkan hebatnya transaksi ATM memakai kartu debet
TD Bank-ku. Ketika Bank of Montreal lewat Cirrusnya langsung nge-charge
3$ Kanada, tidak ada charges sama sekali dari si Plus. Weladalah, semalam
ketika aku memantau tagihan-tagihan kartu kreditku lewat Internet termasuk
saldo-saldo rekening koranku, si Plus ternyata nge-charge 5$ rek. Jadi kalau
Anda mempunyai pilihan atau Cirrus atau Plus, pilihlah yang pertama sebab
duit 2$ di Indo ini sangat berharga sekali. Ada kemungkinan ente bisa beliin
jas hujan buat seorang bocah yang tadi kulihat digonceng motor bonyoknya.
Hujan di pagi hari ini cukup lebat, si nyokap duduk di belakang dan memegang
... p a y u n g! Si bocah duduk di tengah di antara ortunya. Mereka semua
tidak berjas hujan tidak berhelm dan sesekali si eneng mengangkat kaki
atau sepatunya kalau motor melintasi kubangan di tengah jalan. :-( Begitulah
nasib rakyat jelata di kota mewah ini dan Anda mungkin akan berkata, masih
untung bisa sekolah, masih bagus bapak emak punya motor.
Tibalah saatnya saya mohon diri dari serial tahun 2007 ini. Dari semua kisah
yang sudah kutulis, Anda mestinya maklum bahwa bila kita tidak mempunyai
pantangan untuk makan apa saja, salah satu keasyikannya pulkam adalah
menikmati semua masakan yang tersedia di tanah air kita bersama. Juga bila
nasibmu mujur tidak terkena musibah, penduduk negeri ini memang termasuk
ramah dibandingkan dengan banyak negara lainnya di dunia. Jarang kita bertemu
dengan orang judes di jalan raya, malahan kita memotong mobil orang pun
hampir tak pernah ada yang marah atau mengklakson, suatu kepastian kalau itu
Anda lakukan di Amerika Utara. :-) Bila Anda tak gentar akan nyamuk, AC bukan
persyaratanmu untuk hidup, beberapa minggu menghisap smog oke lah, kemacetan
di jalan kesempatan bagimu untuk cuci mata, dikau tak akan tergoda oleh
cewek manis cowok kece :-), tak salah lagi, Indonesia adalah tujuan oke
punya, apalagi kalau sedulurmu segerobak seperti sahaya :-). Sampai berjumpa
di kisah Bang Jeha lainnya, bai bai lam lekom, tararengkiyu kepada Anda-anda
yang bertemu dan menyalurkan kasihNya kepada saya dan keluarga selama
sebulanan ini. Adieu farewell goodbye.
|