Rumah Bung Karno Saksi Kisah Cinta Segitiga
Deni Yudiawan/"PR" / Indonesia Media
RUMAH kediaman Bung Karno merupakan saksi perjalanan hidup selama dalam
pengasingannya di Bengkulu, tahun 1938-1942. Masyarakat Kota Bengkulu sangat
membanggakan peninggalan sejarah ini, seperti dari upaya mereka yang sangat
serius melestarikannya.
SEPEDA yang digunakan keluarga Bung Karno tersimpan di kediaman Bung Karno
pada waktu pengasingan di Bengkulu (1938-1942) yang berada di jalan Soekarno
Hatta, Kota Bengkulu.*ANDRI GURNITA/"PR"
Di rumah ini pula, cinta Bung Karno terhadap Fatma (kemudian namanya berubah
menjadi Fatmawati) mulai bersemi. Fatmawati yang kelak menjadi first lady
Indonesia ini, juga melahirkan presiden Indonesia berikutnya, Megawati
Soekarnoputri. Fatmawati yang asli Bengkulu ini dikenal sebagai penjahit bendera
dwiwarna Sang Saka Merah Putih, yang kini tersimpan rapat di Jakarta.
Namun jangan salah, kisah cinta Bung Karno kepada Fatmawati menjadi awal
kerenggangan hubungan dengan istri tuanya, Inggit Garnasih. Cinta segitiga
antara Bung Karno-Inggit-Fatmawati juga berawal dari rumah di Bengkulu ini.
Bung Karno diasingkan ke Bengkulu saat Jhr de Jonge menjabat sebagai Gubernur
Jenderal Hindia Belanda. Sejak lama Bengkulu terkenal sebagai tempat pembuangan
para musuh politik Belanda. Sentot Ali Basyah juga pernah diasingkan ke Bengkulu
tahun 1833. Begitu pula Pangeran Kusuma Negara dan Tumenggung Sura Jenggala
sempat dibuang ke tempat ini, setelah Belanda menuduh mereka terlibat dalam
Perang Diponegoro.
Pada referensi yang ditulis M. Ali Chanafiah atas hasil perbincangannya dengan
seorang dokter keresidenan Bengkulu, dr. Jamil, seringnya Bengkulu dijadikan
tempat pembuangan tahanan politik karena di sini dikenal sebagai sarang malaria.
Pasukan Kompeni bahkan menyebut Bengkulu sebagai kuburan, saking banyaknya rekan
mereka yang meninggal akibat malaria. Ini tak diragukan karena Ibu Inggit pun
pernah menderita malaria, tak lama setelah tinggal di Bengkulu.
Bung Karno datang ke Bengkulu setelah dipindahkan dari pembuangan di Ende, Pulau
Flores. Ia datang ke Bengkulu menggunakan jalan darat dengan bus ADSS (Auto
Dienst Staats Spoor) dari Lubuk Linggau, setelah menempuh perjalanan dari Ende
ke Batavia, Maret 1938. Sepuluh hari setelah kedatangannya, Ibu Inggit menyusul
ke Bengkulu bersama anak angkatnya Ratna Juami dan Sukarti (Kartika), serta
seorang sahabat Bung Karno, Riwu, melalui jalan laut.
Diasingkan, karena kiprah politiknya dianggap membahayakan pemerintah Hindia
Belanda saat itu. Dalam pengasingannya, Bung Karno dibolehkan beraktivitas apa
saja kecuali berpolitik. Ia lalu diminta oleh Hasan Din, pimpinan Muhammadiyah
Bengkulu, berkiprah di Departemen Pendidikan Muhammadiyah Bengkulu, dan
mengajarkan pembaruan tentang Islam.
Jembatan hubungan baik
Kiprah Bung Karno yang terkenal dengan sebutan "kaum mudo" di Muhammadiyah
sempat berselisih paham dengan "kaum tuo". Dengan ilmu arsitektur yang ditimba
di ITB Bandung, ia mencoba memperbaiki Masjid Jami Tengah Padang atau biasa
disebut Surau Gedang -- masjid tua yang didirikan pada abad ke-18. Pembangunan
masjid itu menjadi jembatan hubungan baik "kaum mudo" dengan "kaum tuo"
Bengkulu.
Selama pengasingan, Bung Karno juga mengisi hari-harinya dengan memprakarsai
terbentuknya klub debat tempat kaum cerdik-pandai beradu argumen. Selain
memboyong ratusan buku koleksinya, ia juga mendirikan klub sandiwara bernama
" Monte Carlo" di mana Ibu Inggit menjadi juru riasnya. Semua ini dilakukan untuk
merangkul pemuda di sekitar Bengkulu.
Hubungan suami-istri Bung Karno dengan Ibu Inggit ternyata tak berjalan mulus,
selama tinggal di pengasingan di Bengkulu. Mereka sering bertengkar. Alasan
keturunan salah satunya yang menjadi bahan pertengkaran mereka. Pasangan ini
memang belum dikaruniai keturunan sejak beberapa tahun pernikahannya.
Diam-diam, Bung Karno menjalin cinta dengan Fatma. Fatma, putri Hasan Din,
pemimpin Muhammadiyah Bengkulu tempat Bung Karno beraktivitas. Saat itu umur
Fatma baru 15 tahun. Bung Karno meminta Fatma untuk menjadi teman Sukarti dan
Ratna Juami. Waktu rupanya membuat Bung Karno merasakan jatuh cinta kepada
Fatma, yang menjadi anak angkat barunya.
Akhir 1940, Ratna Juami disekolahkan ke Taman Siswa di Yogyakarta. Ibu Inggit
mengantar Ratna hingga ke Yogya. Bahkan, Ibu Inggit menyempatkan diri untuk
menengok keluarganya di Bandung.
Saat Ibu Inggit pergi ke Pulau Jawa itulah, hubungan Bung Karno dengan Fatma
bertambah hangat. Cinta mereka bersemi. Ibu Inggit bahkan merasakan sesuatu yang
berbeda saat datang ke rumah di Bengkulu. Sejumlah peralatan rumah tangga di
rumah itu telah berubah tempat. Para pembantu pun seakan menyimpan sebuah
rahasia hubungan majikannya dengan Fatma.
Ibu Inggit tak rela untuk dimadu. Begitu pun dengan Fatma. Pada 1943, Fatma
menerima lamaran dari Bung Karno, tepat saat umurnya 20 tahun. Ia lalu dinikahi
Bung Karno dan berganti nama menjadi Fatmawati dan tinggal di Jakarta.
|