Seminar 1965 Incident Road Show

Dr.Irawan/Indonesia Media

Duarte, September 22, 2007 /Indonesia Media

Setelah Road Show ini berlangsung hampir 3 minggu dibeberapa tempat seperti Chicago, Philadelphia, Atlanta, Sacramento, San Francisco, dan Riverside, akhirnya mendarat juga di kawasan Los Angeles. Road Show ini menampilkan fakta korban pembunuhan massal yang terjadi disekitar tahun 1965 sampai 1973 di Indonesia. Albertus Suryo Wicaksono sebagai ketua dari Yayasan Kasut Perdamaian dan Riset Koordinator dari Yayasan Solidaritas Nusa dan Bangsa membawakan paket seminar ini lengkap dengan persembahan audio visual dan exhibisi foto dan tanya jawab interaktif.

 

Seminar yang di moderatori oleh Beni Bevly ini digelar atas kerjasama masyarakat setempat dengan sponsor dari ICAA, Duarte Inn, dan Indonesia Media. Konsumsi disediakan secara cuma-cuma oleh Ibu Martha dari Fresno, Sate Kway (Heidy), dan Indonesia Media.

 

Seminar diawali  dengan pemutaran film "Shadow Play" produksi Icarus selama 80 menit yang menahyangkan kesadisan pembunuhan masal yang dilakukan di Indonesia setelah tahun 1965.

 

 

Suryo dkk melakukan ini bukan untuk menyeret pelaku atau siapa saja yang bertanggung jawab atas pembunuhan masal itu, tapi semata berangkat dari sisi kemanusiaan , kelaparan, kemiskinan dan kesulitan mereka yang anggota keluarganya, bapaknya kakeknya yang dicap sebagai anggota PKI . Dalam hal ini korban bukan hanya yang telah dibunuh saja, tapi termasuk para algojo yang diperintahkan untuk melakukan eksekusi juga merupakan korban, ini ditemukan dari pengakuan kesaksian dari wawancara dengan para algojonya. Dalam eksekusi itu malah diakui korban terlalu mahal kalau dibunuh dengan peluru, melainkan dengan linggis yang di pukulkan ketengkuknya dan mencoblos batok kepalanya.

 

Berapa jiwa yang dieksekusi ?

Sampai saat sekarang masih merupakan misteri, Ada pers barat yang menyebut 500.000 sampai 1juta, sedangkan Soedomo bilang 1juta, tapi ada kabar yang mendengar dari mulut Jenderal Sarwo Edhie dinyatakan 3 juta jiwa. Justru korban yang dibantai jauh lebih banyak di peloksok Indonesia ketimbang di Jakarta yang menjadi TKP dari G-30-S., bahkan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan G-30-S itu.

 

Stigma

Stigmatisasi terhadap orang yang dituduh sebagai PKI sama dengan hukuman mati kepada orang yang bersangkutan, bahkan sampai ke anak cucunya juga akan merasakan penderitaan sepanjang hayatnya. Mereka tidak bisa diterima sebagai pegawai negeri, dan sulit mencari pekerjaan .Contoh lain, persaingan menjadi kepala desa atau semata persaingan asmara dengan mudah dimenangkan kalau pihak yang satu mencap rivalnya sebagai PKI, maka habislah orang terstigmatisasi itu. Stigma tidak sampai disitu saja, tapi bahkan sampai sekarang masih terjadi. Buktinya, ketika mau diadakan penguburan kembali sisa tulang belulang yang ditemukan dari galian kuburan masal, beberapa pihak tertentu malah melarang sanak keluarga yang bersangkutan menguburnya sebagaimana layaknya manusia yang meninggal.

Mereka menggelar spanduk di tempat umum dengan tulisan “Bangkai PKI dilarang dikubur disini!”

 

Systematis

Dari adegan film “Shadow Play“ terlihat adanya upaya yang systematis pada tahun 1965 dimana ada penghilangan orang, pembunuhan, pembiaran oleh aparat yang dilakukan secara terarah mirip dengan upaya systematis seperti saat Tragedi Mei ’98, dimana ada provokator yang berbadan tegap dan berambut cepak. Apakah mungkin hal seperti ini tidak diketahui Negara ? Suryo mengatakan: “Jelas negara harus bertanggung jawab atas ini”.

 

Gerakan SNB dan YKP.

Walaupun Indonesia dewasa ini sudah lebih demokratis , tapi bukan berarti aktivitas YKP dan SNB boleh berjalan dengan lancar, ternyata misi yang hanya didukung oleh dana para relawan ini masih banyak mengalami hambatan-hambatan yang tidak mudah ditembus.

Suryo dkk dari YKP telah mengadakan riset ini sejak tahun 2001 sampai sekarang, dan sejauh ini sudah meliput 13 propinsi , antara lain Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Kalimantan Barat, NTT, Jawa Tengah , Jawa Timur, DKI, Bali, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Sejauh ini sudah diidentifikasi dan diverifikasi secara ilmiah dengan menggunakan alat-alat deteksi  sebanyak lebih dari 58 titik galian kuburan masal.

 

Ternyata bukan hanya pembunuhan masal saja yang terjadi, bahkan yang tidak ada urusannya dengan G-30-S seperti pengambilalihan property sekolah Tionghoa yang tiba-tiba dirubah fungsi juga banyak terjadi sebagai berikut : 178 properti di Sumatera Utara, 70 di Sumatera Selatan, 4 di Bengkulu, 23 di Lampung, 183 di DKI, 100 di Jawa Tengah, 122 di Jawa Timur, 163 di KalBar ,10 di Bali, 5 di NTT, 15 di Sulawesi Utara, 55 di Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat 148.

 

What Next ?

What next ?,demikian seloroh dari audiens.  Jawabnya adalah Pemberdayaan Masyarakat menghilangkan stigma kepada saudara-saudara kita yang pernah di cap sebagai PKI. Kita harus peduli dengan lingkungan Sosial politik kita.

 

Jangan Pesimis.

Menjawab komentar dari audiens yang pesimistis, Suryo malah menanggapinya dengan optimis, sambil mengambil contoh atas kerja SNB dalam mengapresiasi DPR tentang UU anti diskriminasi yang digarapnya mulai tahun 2001, ternyata pada tahun 2005 usulan itu sudah diterima sebagai usul inisiatif DPR dan sekarang sudah masuk menjadi UU AntiDiskriminasi.  

 

Rekonsiliasi sudah terjadi ditingkat akar rumput seperti antara anak-anak korban dan anak-anak para algojo, setelah penggalian kerangka-kerangka korban, mereka saling berkunjung dan silaturahmi. Namun pengakuan Negara masih belum dilakukan , persis seperti apa yang di utarakan oleh Prof Cammack dari Southwestern Law School di Los Angeles: “Kuncinya hanya pada political will dari pemerintah Indonesia sendiri”.

 

Harapan

YKP dan keluarga korban , sangat berharap agar adanya pengakuan Negara , dan pengembalian hak-hak keturunan mereka yang telah distigmatisasi sedemikian dalamnya sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk bekerja dan diterima sebagai pegawai negeri, sekolah, kredit bank untuk usaha, dan hak-hak umum lainnya sebagai bangsa Indonesia.

  SEMOGA.

 

Peserta 1965 Incident Road Show in the United States Menuntut Kejujuran*

 

Dari setengah kegiatan 1965 Incident Road Show in the United States yang sudah dihadiri lebih dari 350 peserta telah biasa ditarik benang merah bahwah sebagain pesertanya menghendaki dan menuntut kejujuran dari pihak yang terlibat dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang diperkirakan memakan jutaan rakyat Indonesia.

 

Perjalanan kegiatan 1965 Incident Road Show di Amerika yang dimulai dari tanggal 4 September tidak terasa hampir mencapai seluruh kota yang ditargetkan. Selama ini telah lima kota di Amerika Serikat yang dilalui. Di setiap kota A. Suryo Wicaksono (Suryo) sebagai pembicara utama dari Solidaritas Nusa Bangsa (SNB) dan Kasut Perdamaian (KP) dari Indonesia didampingi oleh setiap Person In Charge (PIC) menungkapkan fakta sejarah berupa pemutaran film kuburan masal yang ditemukan oleh SNB/KP dalam kerja sama dengan organisasi lainnya di Indonesia. Menurut penuturan, telah ditemukan lebih dari 50 titik kuburan masal, dan dua di antaranya telah digali.

 

Hampir di setiap acara 1965 Incident Road Show ini dimulai dengan pemutaran film dan dilanjutkan dengan interaksi tanya jawab dan sharing. Dalam interaksi tersebut tidak jarang peserta yang terkejut dan tidak percaya bahwa dalam periode 1965-1973 telah terjadi pembunuhan masal yang diperkirakan mencapai 3 juta jiwa. Juga ada peserta yang berkata bahwa selama ini mereka telah mendapat informasi yang salah dan merasa dibohongi oleh penguasa. Mereka juga menuntut agar pelajaran sejarah di sekolah-sekolah disampaikan sesuai dengan penemuan yang ditampilakan dalam road show ini.

Berikut adalah cuplikan singkat dari kegiatan road show di perbagai kota di Amerika Serikat sampai saat artikel ini ditulis.

 

Philadelphia, PA

Kegiatan road show di Philadelphia yang dipimpin oleh Ignatius Suparno, CM dihadiri sekitar 50 orang pada tanggal 7 September 2007. Acara dibuka dengan perkenalan peserta, nonton film KAPAN TUNTAS 98 dan kuburan masal 65 di Jawa Tengah dan Blitar.

 

Selain mengungkapkan kebenaran sejarah berkisar sekitar tahun 1965, peserta juga berdialog dan men-share kisah-kisah besar seputar peristiwa 65 dan 98. Lebih dari itu, Ignatius dan Suryo juga menghubungkan materi dengan kehidupan riil masyarakat Philadelphia.

 

Acara dialog dua hari lalu berlanjut pada malam berikutnya dengan topik imigrasi. Acara dengan peserta yang berjumlah seratus lima puluhan lebih anggota KKI Phila menghadirkan pembicaranya Sr Jane Burke (Washington) dan Fr Tom BEtz

(Philadelphia).

 

 

 

 

 

Atlanta, GA

Dengan dipimpin oleh PIC Pancha Anugerah dan Daniel Fu, kegiatan Road Show di Atlanta dimulai pada tanggal 9 September, jam 6:00 PM. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang ini menampilkan film "Shadow Play".

Pesan utama yang disampaikan oleh Suryo dan Pancha adalah memanusiakan para korban yang tertimbun sia-sia karena ketidak adilan dan kekejaman politik dan mengungkapkan kebenaran fakta sejarah.

 

Stanford, CA

Dari pertemuan dan diskusi antar Suryo, Beni Bevly dan Donald K. Emerson, Director of Southeast Asia Forum di Sanford University, Stanford, CA disimpulkan bahwa perdebatan politik tingkat tinggi atau konspirasi kejadian pada Gerakan 30 September 1965 bukanlah strategy yang efektif dalam mengungkapkan kasus 1965. Don yang fasih berbahasa Indoensia ini setuju dengan pengungkapan kebenaran dan fakta dari level grass root, yaitu bekerja sama dan membantu kehidupan para korban atau keluarga korban.

 

Sacramento, CA

Road show di Sacramento, CA dengan PIC Mutiara Andalas, SJ ternyata membangkitkan emosi dan kesedihan para peserta ketika dan setelah menonton film penggalian kuburan masal di Wonosobo, Jawa Tengah pada tanggal 15 September 2007. Salah seorang dari total lebih dari 40 peserta berulang kali menghapus air mata yang melinang dari pelupuknya dan peserta lainya memberikan kesaksian atas kejadian Mei tahun 1998 dengan berapi-api, dicampur perasaan sedih dan geram. Kegiatan di kota ini berlanjut dengan kelompok yang lebih kecil sampai pukul 2:30 pagi di salah satu restoran di Sacramento.

 

Union City, CA

Keadaan emosional di kegiatan Union City, CA pada tanggal 16 September 2007 ternyata dinilai melebihi di Sacramento. Seusai pertunjukan film kuburan masal di Wonosobo oleh Suryo, Mutiara Andalas berbicara mengenai bagaimana ia menemani salah satu korban Mei 1998, sampai suatu titik, Andalas berhenti berbicara dan terisak, diiringi linangan air mata. Semua peserta menjadi hening dan banyak dari mereka yang ikut meneteskan air mata.

 

Salah seorang dari lebih dari 100 peserta yang dating adari San Leandro, CA menyatakan betapa ia dibohongi oleh penguasa mengenai peristiwa 1965, dan ia menuntut kebenaran dan untuk mengganti kurikulum mata pelajaran sejarah di sekolah-sekolah di Indonesia.

Kegiatan di Union City ini berlanjut dengan kelompok yang hingga pukul 10: 30 malam.

 

Riverside, CA

Presentasi yang mengambil tempat di depan para mahasiswa California Baptist University di Riverside, CA pada tanggal 19 September 2007 dimanage oleh Dr. Irawan dari Media Indonesia. Kegiatan menghadirkan tiga pembicara, yaitu Suryo, Virgo Handojo, PhD dan Beni Bevly dan berlangsung sekitar dua jam. Ternyata sebagian mahasiswa dari total sekitar lebih dari 60 peserta mengangap bahwa versi sejarah Suharto

mengenai Gerakan 30 September adalah yang benar. Setelah melihat tayangan film kuburan masal di Blitar, Jawa Timur, dan berdiskusi dengan ketiga presenter ini, mereka baru menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka hampir tidak mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar.

 

* Tulisan ini disarikan dari laporan masing-masing PIC 1965 Road Show in the United States di setiap kota.

 

 

 

       

 


FastCounter by bCentral