Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air # 56
Jusni Hilwan/Indonesia Media
Majalah Tempo terkini edisi 9-15 Juli menampilkan cem-macem artikel mengenai
spa. Sebetulnya mungkin saya tak patut mengomentarinya sebab selain tidak
berpengalaman, kuyakin isteriku tidak mau membuang-buang duit ratusan dollar
untuk spa-spa-an. Sekali spa $ 500 cukup untuk bensin mobil ke pantai timur
Kanada, menikmati keindahan Lautan Atlantik. Tapi artikel model begini yang
mencerminkan kemewahan hidup segelintir warga bangsa menggelitik tanganku
untuk menulis. Kalau Anda bermobil sehari-hari di Jakarta ini, di hampir
setiap perempatan lalulintas, Anda akan berjumpa dengan warga bangsa yang
boro-boro bisa mandi di kolam spa, bisa cuci muka setiap hari dengan air
bersih sudah suatu karunia. Jadi memang jurang kaya miskin di negeri ini
sudah semakinan. Why? Lantaran si kaya bisa menghindar dengan segala macam
akalnya (baca: tipu muslihat) untuk tidak membayar pajak penghasilannya. Saya
jadi teringat Bang Roli di syeringnya kemarin dimana ia menganjurkan, kalau
sudah pindah ke Kanada, jadilah warganegara yang jujur alias tidak lagi
menipu memainkan angka-angka pendapatan kita. Kiatnya sederhana tapi dampaknya
tinggi sebab dengan pendapatan pajak yang besar (40% kira-kira penghasilan
anak Kanada digaet pajak), negara bisa menyalurkannya untuk membuat mereka
yang kurang mampu, hidup lebih layak alias tak perlu mengemis di perempatan
lalulintas. Pendapatan itu juga bisa membuat gaji pegawai negeri menjadi
tinggi, sering jauh lebih tinggi dari karyawan swasta, sehingga mereka tak
perlu korup dan dijadikan berita koran model Rokhmin Daihuri. Hasil pajak
juga bisa dipakai untuk mendanai sekolah dan kesehatan, menjadi gratisan
sehingga ... setiap tahunnya ratusan ribu orang India, RRT dan bapak ibu
Indonesia, berbondong-bondong pindah jadi imigran karena tertarik akan
semuanya itu :-).
Tadi saya pergi ke pertemuan warga milis Psikologi yang kami adakan di mal
Artha Gading di dalam Satay House Senayan. Parkirnya sudah penuh ketika saya
datang. Tetapi sebagai anak Betawi yang banyak mendapatkan pelajaran dari
prennya di kota ini, bagaimana berperilaku oke di dalam keadaan sulit seperti
itu, kulambaikan seribuan perak kepada petugas parkir. Di dalam waktu sekejap
suatu lahan yang tadinya diblok oleh rambu-rambu penghalang, menjadi tersedia
bagi Bang Jeha Anda :-). Demikian pula akal yang sama kuulangi ketika mau
parkir di basement KG III. Angka digital display yang memberikan data 99
tempat parkir masih tersedia, ternyata pengibulan. Semua tempat parkir sudah
penuh-nuh-nuh dan hanya mungkin parkir sejajar di jalanan lahan. Teknik yang
sama kulakukan, lambaian 1000 perak manjur lagi, dan saya diberikan ijin
untuk parkir di daerah yang tidak semestinya dipakai parkiran. Begitulah
asyiknya tinggal di Indo dimana saya pernah syer, kalau lahan parkir TTC
di Toronto sudah penuh, ente mau bayar 1000$ juga engga bakalan jadi ada :-).
Hari ini Senin 16 Juli adalah hari anak-anak masuk sekolah kembali di Jakarta.
Jalanan penuh dengan anak-anak yang bersepeda ke sekolahnya :-). "Pale lu
bau Bang Jeha," kata Anda. Yah itu cuma mimpi belaka dan nostalgilaku.
Mungkin dipengaruhi pemandangan kemarin ketika pagi-pagi sedang menuju Shangri
La Hotel untuk dimsum, saya melihat ratusan sepeda di Jl. Sudirman, pakai
konvoi segala. Entah apakah dalam rangka kebugaran atau pencarian dana atau
demo. Karena olahragaku di kota ini cuma berenang di atas air, perutku sudah
semakin buncit azha. Mirip dengan cewek yang hamil 3-4 bulanan. Padahal
sebulanan lagi aku perlu memimpin trip outfitting ke cagar alam Killarney
dengan portaging yang berat sekali. Duh nasib :-).
Di awal kisah ini saya singgung berita utama majalah Tempo terkini yang berisi
spa. Masih ada artikel panjang lebar lainnya, mengenai nasib pengangkutan
udara di negeri ini. Seperti Anda mungkin tahu, beberapa minggu lalu, semua
maskapai penerbangan dari Indo dimasukkan daftar hitam, tidak boleh terbang
atau mendarat di negara Uni Eropa. Akibatnya prens sadayana, diperkirakan
jumlah turis luar batang, terutama yang dari Uni Eropa yang melarang warganya
memakai maskapai penerbangan Melayu, akan menurun merosot jumlahnya di
bulan-bulan mendatang, padahal akan ada kampanye turisme Indo di 2008.
Yang menjadi ironis, turis yang nyalinya kecil itu :-), pada saat ini kalau
mau bepergian ke Padang dari Jakarta, akan memakai penerbangan internasional
Jakarta-Singapura dan dari Singapur pakai maskapai asing lainnya untuk ke ...
Padang. Opo ora hesbat rek.
Sebelum saya berangkat ke Jakarta, seorang pren saya dari Amrik menanyakan
apakah kartu ATM-nya yang tidak bersimbol Cirrus tetapi PLUS (dengan tiga biji
segitiga) bisa ia pakai untuk menguras ATM di Indo dari rekeningnya di USA.
Saya agak ragu menjawabnya tetapi sekarang saya bisa bersaksi. Kemarin saya
ambil Rp dari ATM BCA di gedung BNI 46 di sebelah Shangri-La Hotel. Yang dari
Cirrus, pada detik yang tak berbeda jauh dari saat penarikan uang kontan dari
rekening koran saya, terlihat transaksi debit/extra CAD $ 3 untuk ongkos mesin
BCA udah cape-cape keluarin duit untukku :-). Weladalah, di mesin yang sama,
ketika saya pakai TD debit card saya yang cuma bersimbol PLUS, sampai hari ini
saya tidak di-charge biaya apa-apa. Semoga mesin itu lupa :-) atau memang
servis PLUS oke punya, walahualam. Kemungkinan updating PLUS rada ketinggalan
sebab meskipun saldo rekening saya masih lumayan jumlahnya, cuma sepersepuluh
dari saldo sebenarnya tertera di baris 'balance'. Jadi ente-ente jangan kaget
bahwa uangmu menguap saldonya di Indo :-). Mungkin updating PLUS dilakukan
dua bulan sekali sebab angka saldonya mencerminkan angka ketika saya belum
nyangkul kembali, yakni di bulan April lalu.
Ketika ayah saya masih hidup di dunia ini, ia berlangganan Pos Kota sehingga
kisah dongengan saya ini menjadi lebih hidup dan menarik :-), penuh dengan
berita gosip dari waktu ke waktu. Namun, karena luasnya networking saya di
kota kelahiranku ini, saya diberikan berita gosip yang cukup menarik. Berita
ini ia jamin kebenarannya meskipun tak dimuat di semua koran Indo maupun
Singapur. Yup, kejadian atau musibah ini terjadinya di negeri Paman Lee itu
dan hanyalah orang yang cukongnya ga ketulung-tulungan, bisa ngedep atau
membius wartawan-wati untuk tidak menyebarkan berita yang barangkali aib bagi
keluarganya. Konon menantu perempuan Mochtar Riady bernama Corina, isteri
anaknya bernama Andrew, pada tanggal 8 Juli lalu meloncat dari apartemennya
di Singapur, dari tingkat 17. Hanya di film superman ada manusia yang bisa
selamat loncat dari ketinggian tsb. Menantu perempuannya tentu tewas dan
karena apartemen dimiliki keluarga Riady, Anda jadi tahunya dari Bang Jeha.
Mengapa menantu cukong sampai nekad bunuh diri, you tell me! Life is too
short and some people make it shorter. Sekian dulu kisah kali ini, sampai
berjumpa di cerita yang akan datang, bai bai lam lekom.
|