Megawati "Dicekal" Kunjungi Korban Gempa ke Mentawai

Suryana / Indonesia Media

Dengan perencanaan yang matang, Megawati Soekarnoputri dan rombongan DPP
Partai hari Minggu, 23 September 2007 pukul 08.00 wib berangkat menuju ke
Padang dengan pesawat carter F-28. Jadual sudah ditetapkan. Buku panduan
kunjungan sudah dicetak dan jadi pegangan anggota rombongan. Termasuk di
dalamnya para wartawan media cetak dan media elektronika. Rombongan tiba di
bandara Minangkabau Padang 1,5 jam kemudian dan setibanya di Bumi Minang ini
disambut oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat, Marlis Rahman, ada Sekwilda
Johanes Dahlan, para Bupati/Wakil Bupati di Sumatera Barat, juga Walikota
Padang serta jajaran DPD Partai Provinsi Sumatera Barat secara lengkap. Dan
Lanud dan Komandan Korem nampak di lapangan. Maklum, sang Ketua Umum PDI
Perjuangan ini adalah Presiden RI yang ke-lima dan kini calon Presiden dari
PDI Perjuangan.


Sambil bersitirahat dan ramah tamah di ruang transit VIP, persiapan
perjalanan lanjut dilakukan. Rombongan DPP Partai terdiri dari, Theo Syafei,
M. Prakosa, Sony Keraf, Nabiel Makarim, Daryatmo Mardiyanto, Firman Jaya
Daeli, Dudi M. Murod serta Agnita Singedekane dan Theodorus Koekeritzs dari
Baguna dan dari DPR RI menunggu waktu keberangkatan. Pengaturan rombongan
dilakukan dengan membagi atas dua kelompok. Rombongan Ibu Mega dengan
helikopter akan terbang ke pulau Mentawai sebagai rombongan pertama.
Rombongan kedua akan mengunjungi korban gempa di Padang dan sekitarnya.

Kunjungan kali ini adalah kunjungan kemanusiaan sebagai wujud kepedulian
atas derita masyarakat yang sedang menerima cobaan karena musibah gempa.
Apalagi di Mentawai kondisinya sangat memprihatikan. Pelabuhan di Mentawai
rusak. Gelombang laut membuat pelayaran laut masih rawan. Seluruh bantuan
dan perhatian memang hanya dapat dilakukan melalui udara. Jadinya, semua
fihak menunggu pengaturan keberangkatan. Namun ternyata setelah lebih dari
dua jam masih nampak belum jelas. Satu helikopter pun belum nampak di
lapanggan sementara menurut rencana akan menggunakan dua helikopter.
Tanda-tanda kehadiran pesawat baling-baling bergerak inipun tak terlihat
sama sekali. Kegelisahan bercampur dengan tanda tanya nampak tergurat di
wajah para pimpinan dan anggota rombongan. Dan memang akhirnya helikopter
itu tidak datang. Dan memang Megawati tidak bisa ke Mentawai alias "dicekal"
untuk mengunjungi masyarakat di sana. Helikopter yang sudah diatur untuk itu
tidak diijinkan terbang. Raut wajah Ibu Mega tidak menampakkan perubahan
sama sekali sejak dari Jakarta.

Karenanya, atas peristiwa itu, Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan, Agneta
Singedekane memaparkan kepada anggota rombongan dan para wartawan dari
Jakarta dan wartawan Padang. Agnita menjelaskan kronologis yang sebenarnya
terhadap kejadian yang menyebabkan dua pesawat helikopter yang sedianya
mengangkut bantuan dan rombongan Megawati ini tidak berangkat ke Mentawai.
"Tanggal 19 September saya meminta bantuan Sekretaris DPD PDI Perjuangan
Sumatera Utara, Alamsyah Hamdani untuk mencari jalur penyewaan helikopter,
mengingat di Medan mudah dilakukan hal tersebut. Atas usaha tersebut
diperoleh informasi bahwa ada satu helikopter yang siap namun katanya akan
dipakai oleh Menteri Sosial. Karena akan dipakai Menteri Sosial Bachtiar
Chamsyah, maka usaha ini gagal. Tapi begitu kami cross chek ke Pak Bachtiar
dan ternyata heli tersebut tidak dipakai. Jadinya kami bisa menyewannya.
Oleh pihak agen penerbangan, dijanjikan rombongan Bu Mega akan menggunakan
Super Puma yang bisa mengangkut 11 anggota rombongan dan jika membawa
bantuan, dibatasi hanya 5 penumpang. Kami pun juga mendapat penyewaan
helikopter jenis Bell", jelas Agneta.

Menurut Agneta, konfirmasi terus dilakukan pihaknya hingga menjelang
keberangkatan rombongan dan bantuan dari Bandara Halim Perdana Kusuma,
Jakarta, Minggu pagi (23 September 2007) hingga kedatangan Megawati di
Minangkabau International Airport, Padang. Pemberitahuan mendadak baru
disampaikan pihak TNI AU dan Korem setempat menjelang keberangkatan dan itu
terjadi justru setelah seluruh rombongan dari Jakarta menunggu di bandara
Padang. Bahwa informasi helikopter itu tidak diijinkan terbang adalah
berasal dari tilpon yang diterima oleh Dan Lanud dan Komandan Korem.
Sebetulnya bukan sekali ini saja kunjungan Megawati mendapat hambatan. "Saat
membawa bantuan untuk korban bencana tsunami di Nias awal 2005 lalu, kami
juga mendapat perlakukan yang tidak simpatik dari seseorang yang
membanggakan dirinya sebagai Staf Khusus Presiden", lanjutnya.

Bagi Megawati, tidak jadi mengunjungi Mentawai bukan menjadi alasan untuk
tidak berbuat sesuatu. Menurut Megawati "yang baru saja dinobatkan sebagai
Tokoh Wanita Yang Paling Berpengaruh Dalam Politik versi Majalah Globe" -
walau mendapat halangan tidak berarti diam berpangku tangan.

Walau "dicekal" mengunjungi korban musibah gempa di Desa Malakopa, Pagai
Selatan, Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat kemarin, bukan berarti
Presiden RI ke-lima, Hj. Megawati Soekarnoputeri ini "melepas" perhatian
terhadap derita para korban. Melalui Badan Penanggulangan Bencana (Baguna)
PDI Perjuangan, Megawati menginstruksikan agar posko-posko kesehatan yang
dibangun Baguna tetap melayani korban musibah gempa.

Perjalanan Megawati dan rombongan dilanjutkan dengan kendaraan darat menuju
ke bagian selatan Sumatera Barat dengan jarak tempuh lebih dari 3 jam.
Seperti halnya bantuan yang disampaikan di Kabupaten Pesisir Selatan,
Sumatera Barat. Megawati sungguh yakin bahwa maksud kedatangan kunjungan
kemanusiaan ini adalah untuk saudara-saudara kita di Mentawai di Sumatera
Barat maupun yang di Bengkulu, apalagi Baguna PDI Perjuangan sudah membuka
posko bantuan paling awal sejak musibah ini terjadi disana.


 

 

 

       

 


FastCounter by bCentral