Usaha Resto di Negeri Perancis – Bagian ke-11B

Indonesia Media

Maka seperti yang dijanjikan Madame Smith, dia datang bersama suaminya buat mengambil dompetnya yang kelupaan itu. Kukatakan agar diperiksa kembali dan dikontrol lagi. Dibukanya satu persatu dan dihitungnya. Dia tertawa gembira dan terus berkali-kali menyatakan rasa terima kasihnya. Dan dengan menyerahkan 100 francs buatku dengan berkali-kali, terimalah rasa
terima kasih kami buat Anda dan resto Anda. Kulihat wajah suami-istri itu yang dengan kegembiraannya karena telah menemukan benda berharga yang mungkin saja dianggapnya benar-benar bisa hilang entah di mana.

Kemudian suami-istri Smith hampir setiap bulan datang makan di resto kami.Ketika kami berikan daftar makanan, kartu menu, dia dengan senyum puas mengatakan :"Akh, sudah biasa. Kalau makan di sini, tidak lain, nasi goreng, sate ayam, rendang dan telor mata sapi", katanya. Dan memang kami perhatikan, setiap datang, hanya itu itu saja kegemarannya. Dan keluarga Smith yang orang Belanda ini selalu berbicara Bahasa Belanda dengan kami, khususnya denganku. Padahal modalku berbahasa Belanda Cuma cepengen saja.

Dan ketika suatu kali keluarga Smith datang lagi seperti biasa dengan pesanan biasanya, tiba-tiba saja mereka minta pesanan lain. "Sekali ini kami minta gado-gado Jakarta", katanya. "Masih ingat Anda, sepuluh tahun yang lalu, ketika kami kehilangan dompet uang itu?", katanya. "Sepuluh tahun yang lalu?", kataku hampir tak percaya. "Ya, benar. Sepuluh tahun, pada bulan begini juga". "Jadi sekeluarga Anda sudah sepuluh tahun menjadi pelanggan kami kalau begitu", kataku. "Persis", katanya lagi. Dan aku berpikir, apa baiknya buat "menyambut" peringatan sepuluh tahun menjadi pelanggan kami ini. "Anda suka atau bisa minum arak?". "Saya tahu arak, itu alkohol dari beras biasanya, di Indonesia pernah saya minum arak". "Bagaimana kalau kita minum bersama?". "Silahkan, silahkan dengan senang hati". Dan kuambil tiga seloki arak, kubagikan kepada suami istri Smith. Kami minum secara toast, saling mendentingkan gelas seloki. Dan kami bersalaman erat sekali.

Ketika keluarga Smith minta diri, kuantarkan jauh sampai pintu ke luar dan sampai menuju mobilnya. Dan aku kembali ke ruangan sal. Masih sempat aku berpikir, alangkah setianya keluarga suami-istri itu. Sepuluh tahun menjadi pelanggan kami, dan ternyata mereka menghitung lamanya jarak waktu, sedangkan kami tidak. Apa artinya ini? Tetap pekerjaan kami belum sempurna! Dan yang paling penting lagi, cobalah aku introspeksi, periksa diri, masihkah punya
pikiran seperti dulu itu?! Merasa sayang kalau menemukan barang berharga di resto sendiri, dan seperti ada penyesalan mengapa tidak menemukan barang atau uang di jalanan umum. Jangan-jangan, kata hatiku di dalam sana, karena masih ada kejujuran itulah, makanya keluarga Smith bersedia dan mau bersetia menjadi pelanggan yang baik. Cobalah kalau kami atau aku punya pikiran yang jelek dan lalu dilaksanakan, jangan harap dan tidak mungkin keluarga Smith mau dan bersedia menjadi pelanggan begitu setia. Kukira, dan jangan-jangan, peristiwa dulu itu hanyalah cobaan dan ujian kecil saja dalam kehidupan yang begitu luas ini, yang begitu banyak selukbeluknya.

Paris 8 Maret 1999
       

 


FastCounter by bCentral