|
|
Komiknya Laku di Amerika
Bur/Indonesia Media
Juli 2007 diselenggarakan San Diego Comic-Con di Amerika Serikat.
Hanya dalam waktu dua hari, "Return to Labyrinth" --yang tengah digandrungi pencinta komik-- terjual habis.
Para penggemar antre meminta tanda tangan Jake Forbes bersama Chris Lie, penulis cerita dan ilustrator komik terbitan Tokyopop tersebut.
Chris Lie menjadi satu-satunya orang Indonesia di ajang San Diego Comik-Con itu.
Nama Chris Lie --juga Jake Forbes-- memang sudah tidak asing lagi di mata pengemar komik negeri itu.
Tidak kurang dari 40 komik ia hasilkan, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan 25 tokoh karakter komik.
Ia juga mendisain action figure karakter "GI Joe", seperti Snake Eyes, Duke, Storm Shadow, Heavy Duty, dan Spirit.
Beberapa perusahaan penerbitan komik di Negeri Paman Sam itu telah memakai karya-karyanya.
Sebutlah, misalnya Devils Due, Archie Comics, atau perusahaan mainan Hasbro.
Diajak Teman
Semua itu bermula dari ketekunannya membuat komik semasa kuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB).
Sekali waktu, saat masih duduk di semester V, seorang teman kuliahnya menawari pria kelahiran Solo, 5 September 1974, ini bergabung dalam pembuatan komik.
''Lu bisa gambar, kan?'' Tawaran itu menyentakannya.
Sebab, masa-masa itu, anak sulung dari tiga bersaudara ini tengah gandrung bermain basket, olahraga yang ditekuninya sejak di SMAN 3 Semarang. ''Waktu SMA saya lebih banyak bermain basket. Bahkan sempat juara se-DIY. Cuma waktu SMP di Solo saya ilustrator majalah sekolah,'' tutur penggemar komik Tintin ini.
Chris menerima ajakan bergabung membuat komik.
Seiring perjalanan waktu, ia kian senang membuat komik.
Perlahan-lahan ia meninggalkan kegemarannya bermain basket.
Apalagi, Chris sadar, tak mungkin berprestasi di cabang olahraga tersebut lantaran kakinya pernah cedera, yang membuatnya sempat enam bulan tidak bisa berjalan.
Lulus dari ITB pada 1997, Chris sempat bekerja dengan pematung Nyoman Nuarta, yang sedang menggarap proyek Garuda Wisnu Kencana di Bali.
Dua tahun ia bolak-balik Bandung-Bali dalam urusan pekerjaan.
Toh, dunia komik sudah telanjur sulit dipisahkan dari diri Chris Lie.
Di sela-sela pekerjaan, ia selalu menyempatkan diri membuat cerita komik.
Sebagian penghasilannya ia habiskan untuk membiayai pencetakan karya-karyanya berupa komik bergambar beserta ceritanya.
Ia menerbitkan sendiri, mendistribusikan sendiri ke toko buku.
Meski belum mendatangkan keuntungan, tapi hasilnya membuat hati Chris lega. ''Lumayan, dalam dua minggu bisa laku 50 buku,'' ujarnya.
Chris terus berkarya. Bersama teman-temannya, ia lalu mendirikan Bajing Loncat, studio komik di Bandung yang memanfaatkan rumah kontrakan.
Penerbit seperti Mizan dan Gramedia pun memberi ruang baginya untuk berkarya.
Penerbit memberikan kebebasan penuh kepada mereka untuk berkarya setelah presentasi disetujui.
Diam-diam ia menyimpan impian, ingin hidup dari membuat komik.
Tapi, apa itu mungkin di tengah masih minimnya penggemar komik di Indonesia?
Lebih-lebih lagi, di negeri ini belum ada sekolah yang khusus mengajarkan komik.
Melihat kenyataan itu, ia semula tidak yakin bisa hidup dari membuat cerita-cerita bergambar.
Tapi, nuraninya lebih kuat mendorongnya untuk terus menekuni profesi ini.
Jalan menuju impian pun terbentang, seiring dengan terbukanya kesempatan untuk belajar ke Amerika.
''Saya memperoleh beasiswa Fullbright,'' tuturnya.
Pada 2003, Chris berangkat ke Amerika. Ia mengambil program Master of Fine Arts, jurusan sequential art (jurusan komik) di Savannah College of Art and Design, Savannah, Georgia.
Di sana, ia tidak sekadar belajar di bangku kuliah. Ia juga magang di beberapa perusahaan penerbitan komik, sampai akhirnya bekerja secara profesional.
''Capek, tapi enaknya dosen tidak menghalangi. Sekolah malahan bangga kita berkiprah di luar, jadi di-support,'' kata dia.
Tidak jarang, dosen memberikan saran perbaikan dalam urusan pekerjaan profesional.
Chris sampai bekerja di empat penerbitan, tiap bulan menerbitkan sedikitnya dua buku komik.
Ia kembali ke Indonesia, 2006, setelah menyelesaikan kuliahnya dan menyandang predikat lulusan terbaik.
Hidup Dari Komik
Chris terus menyeriusi dunia komik.
Buku-buku cerita bergambar itu bukan lagi sekadar hobi, tapi panggilan jiwa, sekaligus penopang hidup.
Pekerjaan itu terus ditekuninya, hingga kini.
Perusahaan penerbitan tempatnya bekerja selama di Amerika tetap memberinya job.
Komunikasi dilakukan lewat e-mail, karya-karyanya dikirim melalui internet.
Ia kini praktis bekerja tanpa kantor.
Karya-karyanya lahir di apartemen tempat tinggalnya di Jakarta.
Chris merasa beruntung diberi kebebasan menuangkan ide sendiri dalam membuat gambar-gambar komik yang akan diterbitkan di Amerika.
Bahkan, Chris bersama Mark Powers, editornya saat bersama-sama di Negeri Paman Sam yang juga mantan editor "Spiderman", kini tengah mempersiapkan cerita komik dengan konsep orisinal.
''Kami mendiskusikan enam bulan lewat e-mail,'' ungkapnya.
Cerita orisinal itu berjudul "Drafted". Mulai terbit Juni lalu, cerita berseri itu akan terbit tiap bulan.
Dalam cerita itu, tutur Chris, dikisahkan tentang perang di dunia karena adanya ancaman dari ruang angkasa.
Ancaman itu membuat makhluk di dunia bersatu dengan menampilkan enam tokoh, salah satu di antaranya presiden Amerika.
"Drafted", dalam bayangan Chris, bisa melahirkan royalti, sebagaimana seri komik lainnya, seperti "Spiderman".
|
|