Kisah Turis Indonesia yang Dikasari Polisi Malaysia

Iqbal Fadil / Indonesia Media

Gelombang TKI secara besar-besaran yang bekerja di Malaysia selama
20 tahun terakhir telah mengakibatkan cara pandang orang Malaysia terhadap
Indonesia berubah.

Pemukulan terhadap wasit karate Donald Luther Kolopita oleh 4 oknum polisi
Malaysia hanya menunjukkan sebagian kecil kasus pelecehan atau tindakan
tidak menyenangkan yang harus diterima oleh WNI.

Bukan hanya TKI ilegal saja yang diburu polisi, namun dengan arogan beberapa
oknum polisi juga memperlakukan WNI yang sedang melancong bak pendatang
haram.

Kisah ini dialami Budiman Bachtiar Harsa setahun lalu ketika bersama
keluarganya berwisata ke Malaysia. Berikut penuturan Budiman dalam email
yang diterima redaksi detikcom, Minggu (2/9/2007).

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di
BUMN berkantor di Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, Bukan kejadian pertama.
Behubung sdr Donald adalah seorang "tamu negara" hingga kasusnya terekspose
besar-besaran. Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. Bukan
Hanya TKI atau pendatang haram, tapi juga wisatawan.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar),
pertama kalinya kami melancong ke Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah
berwisata ke negara-negara lain dan sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).

Hari pertama dan kedua tour bersama travel agent ke Genting Highland,
berjalan lancar, keluarga bahagia anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di Kuala Lumpur (KL), juga berjalan normal. Malam
harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko,
tempat kami menginap.

Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke
hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko
Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti
yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapura, toh kabarnya KL cukup aman.

Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan
view cukup bagus ke arah Twin Tower.

Saat berjalan santai, tiba-tiba sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun
mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri.
Saya balas bertanya apa mau mereka.

Mereka bilang "Polis", sambil memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya turis, menginap di Hotel Nikko.

Mereka memaksa minta passport, yang tidak saya bawa. (Masak sih di negeri
tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa
berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?).

Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan
logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan
identitas.

Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya :"kerja ape kau disini?"
saya melongo... kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab.

Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: Kau kerja ape?
Punya licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya
bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka
mencoba memegang tas istri, dan bilang: Mana kunci Hotel?

"Celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yang pulang duluan
ke hotel. Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun
pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon...
dont lie to us. Saya kurung kalian...

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan
saya bilang akan tuntut mereka habis-habisan. Sambil memegangi tangan saya,
tuan polis meludah kesamping, dan bilang: Kalian semua sama saja!

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pakai logo polisi, seorang
polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis.
Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara bertiga, mirip berunding.
Wah, apa polis Malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang
ujung-ujungnya nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang.
Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam
itu mengiyakan.

Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati
saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi
berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas
diri. Saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil
polisi.

Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh
mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun
polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: if those indon
run, just shoot them... katanya sambil menunjuk istri saya.

Saya cuma bisa istighfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di
negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".

Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. Saya minta resepsionis
mencocokan identitas kami, dan saya menelepon adik ipar untuk membawakan
kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang polis,
bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang
ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines.

Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia
mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa
saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan
rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk
akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami
tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan
merekam wajah kedua polisi ini.

Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah
mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan saya pun lelah.

Kami tinggalkan melayu-melayu itu tanpa berjabat tangan. Sepanjang malam
saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor Baru, mengontak
travel agent agar mencari seat ke Singapore.

Siangnya usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol,
dan melanjutkan liburan di Singapura.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1.000 WNI yang apes di
Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam,
bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal
yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak-masak.
Jangankan turis, rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia.

Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu
anak akan trauma, sekaligus sedih. Hati-hati pada promosi wisata Malaysia
karena di Malaysia WNI diperlakukan seperti kriminal.

       

 


FastCounter by bCentral